Minggu, 10 Februari 2019

Berjarak

"Distance means nothing, when someone means everything."

Sesungguhnya mau ngepost ini besok, iya, besok, tanggal Sebelas yang ketiga. Teringat bulan lalu, kamu bertanya, "Nggak nulis lagi?" hahaha aku cuma singkat menjawab; enggak. Kenapa? Karena maluuu kalau menulis tapi ada ybs di sebelah, heu.

Tapi, kuingat lagi, untuk apa lagi menunggu. Saat ini kamu juga sedang jauh disana. Kita tidak sedang bersama. Iya, kata orang, LDM - Long Distance Marriage. Hubungan pernikahan yang terbatas jarak.

Jarak, apakah kita sudah bersahabat dengan jarak? Hampir tiga bulan. Masih anak bawang. Tapi ya memang begini adanya. Aku yang harus berjibaku disini, dan kamu juga sedang berjuang disana. Kita sama, bukan? Dan kita pun sama-sama akan memperjuangkan jarak ini bersama.

Tiga bulan berjarak. Tentu tidak ada yang dengan sengaja menginginkan pernikahan seperti ini. Karena idealnya sebuah pernikahan adalah kebersamaan. Tapi tidak ada gunanya meratapi jarak, yang terpenting adalah bagaimana kita bersahabat dengannya.

Jarak.
Berkaitan erat dengan komunikasi. Iya, ketika sedang berjarak, perbanyaklah komunikasi. Mungkin akan banyak waktu, tenaga, tiket dan kuota (lol) yang tersita, tapi itu akan sangat membantu penyesuaian diri kita dengan yang bernama jarak. Apalagi, sebelumnya memang tidak ada apa-apa diantara kita, tidak saling tahu apapun, tidak mengerti apa yang disuka dan tidak disuka, tidak tahu bagaimana kebiasaannya, dan banyak hal lainnya. Pennyesuaian diri dengan jarak memang butuh waktu. Dan tentu saja kesabaran. Kesabaran diantara kita berdua. Saling memahami dan bergantian mengalah. Terima kasih telah bersabar dan berusaha dengan sebaik mungkin, Sayang..

"Distance means nothing, when someone means everything."

But then, when your spouse needs you and you're so far away, it's really hard and sad, tho..

But yes, it's okay, kita sudah berjanji untuk menjalaninya bersama-sama dengan baik.


Jarak, seperti di foto ini dimana kita sedang berjarak. Tapi kita tetap tersenyum kan meski tidak sedang berdekatan? (yaiyalah lagi poto wkwkw). Iya, begitulah seharusnya. Meski jauh, kita tetap tersenyum. Agar yang jauh, terasa dekat. Dan ketika dekat, tidak lupa tersenyum. 😊

"Ayo foto berduaaa"
"Katanya kalian nggak pernah foto berdua"
"Ih apasih alay" (tapi maju juga doi)
Terus foto dulu berempat.
Akhirnya foto berdua.
Iya, jauh-jauhan. Malu doi kayanya.
Sampai rumah.
"Lho, fotonya ini doang? Kok nggak ada yang deketan?"
"Cem mana lah pak, tadi siapa yang nggak mau foto, sekarang siapa yang protes, heu"

It's okay. Hanya foto. Yang penting, hati kita selalu dekat.

Sayang, thankyou for this three months. For every single thing you did, for every single thing we made. Let's fight for the journeys ahead together, till Jannah insyaaAllah. ❤


Jakarta, third month,

Mrs. Jihad

Kamis, 07 Februari 2019

Kado

Masih ada aja yg kirim kado setelah dua bulan lebih :")

MasyaaAllah tabarakallaah, jazakumullah khayr untuk semuanya yg telah hadir, mendoakan, juga memberikan kado untuk kami. Semoga Allah balas dg kebaikan yg lebih baik dan lebih banyak :")

Menjadi pengingat juga, bahwa pernikahan itu adl bagian dr amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak. Semoga, kita bisa menunaikan amanah ini dg sebaik mungkin :")

Kita saling doa ajaaa. 💞

Yang sudah menikah, semoga diberikan keberkahan dan ketentraman dlm keluarganya, yg perlu diusahakan secara kontinyu :") Menjadi sebaik² pasangan sehidup-sesurga.

Yang otw menikah (?), semoga diberikan kelancaran dan keberkahan dlm perjalanannya :") Meniatkan dan memasrahkan semuanya kpd Allah, sampai ditakdirkan bertemu dg pasangan sehidup-sesurga insyaaAllah.

Yang belum menikah, semoga Allah berikan keberkahan dan kelancaran dlm setiap aktivitasnya :") Menjadi sebaik² anak yg berbakti dan manusia yg bermanfaat bagi sekitarnya.

Karena sudah atau belum menikah, keduanya bertujuan sama, Allah. Jadi, apapun statusnya, kita sama² mengejar keridhoanNya, okay? 😉

Selasa, 05 Februari 2019

Tempat Singgah

Stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dan bermacam tempat singgah lainnya, kerap menimbulkan tanya; apakah manusia memang hidup untuk berpindah, atau menetap?

Pagi dimana, sore entah beranjak kemana, dan esok sudah tak tahu sedang di bumi bagian mana lagi. Sedinamis itukah makhluk bernama manusia?

Tak apa, mungkin ia sedang berusaha meniti takdirnya. Menjemput rezeki terbaik sebagai bentuk tanggungjawab pada anugerah yang diberikan Tuannya.

Tak apa, mungkin ia sedang mengejar mimpinya. Mencoba peruntungan di berbagai belahan dunia, demi meraih cita untuk kemaslahatan umat manusia.

Tak apa, asal ia tak lupa jalan pulang. Itu saja.