Minggu, 31 Maret 2019

Belajar Mencintai

Belajar Mencintai;
Sebuah Ulasan Berbalut Curhatan


Menikah, adalah gerbang awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan hampir lima bulan menjalankan ibadah tersebut, membaca buku ini, rasanya seperti semacam nostalgia (padahal baru otw lima bulan wkw), ditambah sedikit tamparan dan sayatan.


Judul Buku : Belajar Mencintai
Penulis        : Azhar Nurun Ala
Tahun          : 2019
Penerbit      : Azharologia Books

"Pasti ada seseorang disana, yang hatimu bergetar kala menatapnya, dan tersipu saat kamu memujinya.  Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta."
(Halaman terakhir "Belajar Mencintai")

Buku ini diawali dengan prolog dan diakhiri sebuah epilog. Berisi 10 bab yang menceritakan perjalanan sepanjang lima tahun pernikahan yang menyiratkan hikmah. Dalam satu bab terakhir, berisi tulisan mba Vidya, dari sudut pandang seorang istri.

Buku ini sangat relateable dengan apa yang saya jalani saat ini. Sehingga, ketika membacanya, meski agak terburu waktu dan kegiatan dan tugas cukup padat saat diklat, tidak mengurangi esensi dan luapan emosi yang, ya tadi, sesekali menimbulkan sayatan. Beberapa kali sempat menahan bahkan mengusap bulir air mata diantara orang-orang yang sibuk berbincang di sela makan siang atau sekedar rehat kopi.

Dibuka dengan perjalanan menuju pernikahan, yang tentu saja tidak mudah. Bahwa ya memang menuju ibadah yang panjang akan selalu mendatangkan godaan dari setan, baik berupa keraguan, ketakutan, atau yang lainnya. Bagaimana cerita mas Azhar dan mba Vidya yang ternyata junior-senior di kampus, kemudian menikah setelah beberapa waktu tidak sengaja terpisah jarak, tetapi karena dasar jodoh, tentu akan bertemu kembali. Bagaimana keduanya meyakinkan diri dan keluarga masing-masing, dengan keadaan yang bisa dibilang masih sangat dari 0 dan masa depan yang masih belum nampak jelas. 

Diikuti dengan bab-bab yang menggambarkan bagaimana kehidupan mas Azhar dan mba Vidya selama lima tahun pernikahan. Dari penyesuaian diri di awal pernikahan, tentang penantian akan kedatangan dan bagaimana mengelola emosi menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian. Bagaimana perjuangan menghadapi berbagai pertanyaan yang agaknya menyesakkan. Dan salah satu yang paling emosional adalah tentang  'perpindahan' dan 'pertengkaran'. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga pada saat yang sangat tidak disangka. Bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang tiba-tiba berubah drastis dan serba keterbatasan yang mengelilingi. Hal ini kemudian kembali mengingatkan saya tentang bagaimana kami akan menjalankan pernikahan ini selanjutnya, sambil mengingat-ingat dan mengaitkan tujuan dan visi-misi pernikahan sendiri. 

Barangkali untuk yang sudah pernah membaca buku-buku mas Azhar akan tidak asing dengan beberapa kutipan yang dicantumkan. Mungkin nampak berulang, tapi tidak mengurangi esensi karena memang sangat berkaitan dengan apa yang sedang menjadi topik pembahasan. Dan khas tulisan beliau, banyak kalimat atau kutipan yang sangat menyentuh.

Ohya, lagi, selain karena alur cerita yang relevan dengan kehidupan pernikahan muda, tentu membuat kita jadi berkaca kembali, sudah sampai mana kita menjadi sosok yang mencintai, bukan hanya jatuh cinta. Karena, ketika menikah, fokus kita bukan lagi jatuh cinta, yang hanya berkutat dengan perasaan saja, tetapi justru tentang mencintai,  dan bagaimana menumbuhkan bahagia pada pasangan kita. Cinta itu, kata kerja bukan?

Ada satu bab tentang Mencari Titik Temu. Dari judulnya, tentu terbayang bagaimana mas Azhar dan mba Vidya, dengan dua pemikiran dan sudut pandang berbeda, harus menuju satu titik yang sama untuk mempertahankan kebersamaan dan tidak berlarut dalam malam-malam penuh air mata. 

Buku ini juga membuat saya berkaca kembali, apakah sudah menjadi pasangan yang baik, istri yang baik. Juga, apakah diri ini sudah menjadi anak yang baik atau belum. Bagaimana membangun hubungan dengan pasangan, dan menikahi keluarganya. *kemudian kangen suami, heu, nasib LDM :" #tjoerhat colongan, monmaap. Saya sangat salut dengan bagaimana mba Vidya bisa menjadi seorang istri yang begitu dewasa, tidak pernah menjatuhkan dan selalu menghargai usaha suaminya.

Buku ini ditutup dengan epilog yang berbalut nasihat tersirat tentang persiapan untuk yang belum menikah. Isinya? Baca aja yaa, hehe. Bocorannya, menikah adalah penyatuan dua manusia berbeda, jadi sebaiknya memang kita selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan banyak PR kemudian :) Juga, epilog berisi pengingat untuk yang sudah menikah tentang penguatan kembali ikatan pernikahan. Bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah panjang yang telah diawali berdua, dan harus diperjuangkan bersama. 

Sekali lagi, bagi saya sendiri, menikah adalah sebuah ibadah panjang yang tentu membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. Maka jangan hanya menikah karena suka, apalagi hanya karena ikut-ikutan. Carilah tujuan dan motivasi yang tidak akan pernah hilang atau berganti, sehingga apapun yang terjadi, berdua akan berjuang umtuk melewati dan mencapai kebahagiaan hakiki. Kalau mau lebih banyak mendapat hikmah dan pelajaran, beli dan baca sendiri yaa hihi :3


Bogor, 30 Maret 2019


Yang sedang belajar mencintai,
Andika Putri Firdausy


Senin, 18 Februari 2019

Mengatur Persepsi

Dalam hidup ini, terkadang kita disibukkan dengan prasangka orang lain. Terlalu sibuk bagaimana seharusnya kita berlaku agar orang lain tidak lagi menganggap kita buruk, atau merendahkan kita, atau membanding-bandingkan diri kita, atau apapun yang membuat kita tidak nyaman.

Tapi, sungguh terasa lelah hidup dalam angan-angan orang lain. Bukannya kita sibuk dengan kebaikan dan pencapaian yang ada pada diri kita, justru kita sibuk memperbaiki penglihatan orang lain terhadap kita. Apa bedanya kalau begitu?

Lupakan. Lupakan persepsi orang lain tentang kita. Tidak perlu sibuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.

Boleh berkaca pada orang lain, tapi sebentar saja. Jangan lama-lama. Sisanya, sebaiknya kita berfokus pada diri kita sendiri.

Bukankah kita memang tidak bisa mengubah persepsi orang lain terhadap kita? Yang bisa kita lakukan adalah mengatur sudut pandang kita agar tidak mudah terbawa persepsi orang lain.

Fokus pada tujuan kita, dan apa yang kita yakini. Lakukan semampu yang kita bisa, lalu pasrahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa. That's it. 👊

Minggu, 10 Februari 2019

Berjarak

"Distance means nothing, when someone means everything."

Sesungguhnya mau ngepost ini besok, iya, besok, tanggal Sebelas yang ketiga. Teringat bulan lalu, kamu bertanya, "Nggak nulis lagi?" hahaha aku cuma singkat menjawab; enggak. Kenapa? Karena maluuu kalau menulis tapi ada ybs di sebelah, heu.

Tapi, kuingat lagi, untuk apa lagi menunggu. Saat ini kamu juga sedang jauh disana. Kita tidak sedang bersama. Iya, kata orang, LDM - Long Distance Marriage. Hubungan pernikahan yang terbatas jarak.

Jarak, apakah kita sudah bersahabat dengan jarak? Hampir tiga bulan. Masih anak bawang. Tapi ya memang begini adanya. Aku yang harus berjibaku disini, dan kamu juga sedang berjuang disana. Kita sama, bukan? Dan kita pun sama-sama akan memperjuangkan jarak ini bersama.

Tiga bulan berjarak. Tentu tidak ada yang dengan sengaja menginginkan pernikahan seperti ini. Karena idealnya sebuah pernikahan adalah kebersamaan. Tapi tidak ada gunanya meratapi jarak, yang terpenting adalah bagaimana kita bersahabat dengannya.

Jarak.
Berkaitan erat dengan komunikasi. Iya, ketika sedang berjarak, perbanyaklah komunikasi. Mungkin akan banyak waktu, tenaga, tiket dan kuota (lol) yang tersita, tapi itu akan sangat membantu penyesuaian diri kita dengan yang bernama jarak. Apalagi, sebelumnya memang tidak ada apa-apa diantara kita, tidak saling tahu apapun, tidak mengerti apa yang disuka dan tidak disuka, tidak tahu bagaimana kebiasaannya, dan banyak hal lainnya. Pennyesuaian diri dengan jarak memang butuh waktu. Dan tentu saja kesabaran. Kesabaran diantara kita berdua. Saling memahami dan bergantian mengalah. Terima kasih telah bersabar dan berusaha dengan sebaik mungkin, Sayang..

"Distance means nothing, when someone means everything."

But then, when your spouse needs you and you're so far away, it's really hard and sad, tho..

But yes, it's okay, kita sudah berjanji untuk menjalaninya bersama-sama dengan baik.


Jarak, seperti di foto ini dimana kita sedang berjarak. Tapi kita tetap tersenyum kan meski tidak sedang berdekatan? (yaiyalah lagi poto wkwkw). Iya, begitulah seharusnya. Meski jauh, kita tetap tersenyum. Agar yang jauh, terasa dekat. Dan ketika dekat, tidak lupa tersenyum. 😊

"Ayo foto berduaaa"
"Katanya kalian nggak pernah foto berdua"
"Ih apasih alay" (tapi maju juga doi)
Terus foto dulu berempat.
Akhirnya foto berdua.
Iya, jauh-jauhan. Malu doi kayanya.
Sampai rumah.
"Lho, fotonya ini doang? Kok nggak ada yang deketan?"
"Cem mana lah pak, tadi siapa yang nggak mau foto, sekarang siapa yang protes, heu"

It's okay. Hanya foto. Yang penting, hati kita selalu dekat.

Sayang, thankyou for this three months. For every single thing you did, for every single thing we made. Let's fight for the journeys ahead together, till Jannah insyaaAllah. ❤


Jakarta, third month,

Mrs. Jihad

Kamis, 07 Februari 2019

Kado

Masih ada aja yg kirim kado setelah dua bulan lebih :")

MasyaaAllah tabarakallaah, jazakumullah khayr untuk semuanya yg telah hadir, mendoakan, juga memberikan kado untuk kami. Semoga Allah balas dg kebaikan yg lebih baik dan lebih banyak :")

Menjadi pengingat juga, bahwa pernikahan itu adl bagian dr amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak. Semoga, kita bisa menunaikan amanah ini dg sebaik mungkin :")

Kita saling doa ajaaa. 💞

Yang sudah menikah, semoga diberikan keberkahan dan ketentraman dlm keluarganya, yg perlu diusahakan secara kontinyu :") Menjadi sebaik² pasangan sehidup-sesurga.

Yang otw menikah (?), semoga diberikan kelancaran dan keberkahan dlm perjalanannya :") Meniatkan dan memasrahkan semuanya kpd Allah, sampai ditakdirkan bertemu dg pasangan sehidup-sesurga insyaaAllah.

Yang belum menikah, semoga Allah berikan keberkahan dan kelancaran dlm setiap aktivitasnya :") Menjadi sebaik² anak yg berbakti dan manusia yg bermanfaat bagi sekitarnya.

Karena sudah atau belum menikah, keduanya bertujuan sama, Allah. Jadi, apapun statusnya, kita sama² mengejar keridhoanNya, okay? 😉

Selasa, 05 Februari 2019

Tempat Singgah

Stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dan bermacam tempat singgah lainnya, kerap menimbulkan tanya; apakah manusia memang hidup untuk berpindah, atau menetap?

Pagi dimana, sore entah beranjak kemana, dan esok sudah tak tahu sedang di bumi bagian mana lagi. Sedinamis itukah makhluk bernama manusia?

Tak apa, mungkin ia sedang berusaha meniti takdirnya. Menjemput rezeki terbaik sebagai bentuk tanggungjawab pada anugerah yang diberikan Tuannya.

Tak apa, mungkin ia sedang mengejar mimpinya. Mencoba peruntungan di berbagai belahan dunia, demi meraih cita untuk kemaslahatan umat manusia.

Tak apa, asal ia tak lupa jalan pulang. Itu saja.

Belajar Mencintai