Selasa, 09 Oktober 2018

Tentang Takdir (2)

Doa hari ini, "Ya Allah, hindarkanlah hamba dr galau berkepanjangan tentang apapun yang sudah Engkau takdirkan."

Secukupnya aja yhaaa ~ 😗

Hidup manusia emang macem-macem, ya. Ternyata di luar sana banyak lho orang-orang 'galau'. Tentang banyak hal. Kenapa? Padahal kan Allah dah jamin semuanya to? Apakah mereka orang² yang keimanannya diragukan? Hmm enggak juga padahal.

Ya Allah...
Tawakkal tu, emang nggak mudah sih ya. Sama kaya istiqomah juga.
Keliatannya tinggal pasrah. Tapi, buntutnya panjang juga. Ya kita harus mau menerima segala ketentuan Allah, apapun itu. Dan, ini ada setelah ikhtiar, usaha-usaha yang kita lakukan.

Tapi, usaha yang kek mana?
Nah, itu lagi. Sering juga kita salah paham terkait usaha ini. Bukan hanya usaha yang berorientasi atau berskala dunia aja ya, tapi juga yang berorientasi akhirat. Usaha duniawi pasti dah pada paham lah ya. Usaha berorientasi akhirat? Sholat, puasa, doa, sedekah, sabar, ikhlas. Semuanya. Bukan hanya amalan yang dzahir terlihat aja, tapi yang nggak kelihatan juga.

Jangan pernah sepelekan amal usaha sekecil apapun. Allah Maha Melihat, gais. Dan, Allah Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Kalau kita sampai saat ini belum ditakdirkan sampai pada apa yang selama ini kita "tuju", sabar. Banyak jalan menuju Allah, to? Maksudku, janganlah kita ini menyempitkan karunia Allah yang sangat luas dengan menyempitkan takdir sesuai apa yang ada di pikiran kita aja. Cobalah buka sedikit pikiran kita. Pelan-pelan.

Coba rasakan, Allah tu, sebenarnya pengen kita kaya mana sih? Apa udah bener yang selama ini kita impi-impikan? Jangan-jangan, meski 'kelihatannya' baik, itu nggak baik buat kita? Jangan-jangan malah menjauhkan kita dari Allah? Atau jangan-jangan, emang kita belum siap sampai di titik itu?

Semua, pasti ada waktunya.
Sabar. Dan tetap lakukan yang terbaiks~

Pilih mana, sampai di titik atau mimpi yang kita inginkan, atau terus deket sama Allah?

Jakarta,
9 Oktober 2018

Senin, 08 Oktober 2018

Semoga Bertemu

Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, waktu mungkin tidak akan sama lagi seperti yang dulu.
Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, terbayang-bayang kisah bersama di masa lalu.
Hei, apakah sama?
Bukankah, waktu memang akan terus berjalan dengan atau tanpa kamu?
Maka jangan berhenti disitu..
Bergeraklah,
Berjalanlah,
Kalau perlu, berlarilah.
Kita susuri bersama mesin waktu yang kadang terkesan sedikit congkak itu, tak mau menunggu kita yang tertatih mengejarnya.
Tak apa, katamu, hidup bukan lomba lari bukan?
Pelan-pelan saja, asal kita terus bergerak. Asal kita tidak berdiam diri.
Nanti, pada saatnya, kita akan berhenti di tujuan akhir kita setelah pemberhentian-pemberhentian yang semoga menyenangkan.
Semoga kita bertemu lagi, ya!
Aku yakin akan banyak teman jalan yang datang silih berganti. Mungkin aku, atau orang lain, atau orang lain lagi.
Tak apa.
Asal tujuan kita masih sama, yakinlah esok kita akan berjumpa.

Jakarta,
8 Oktober 2018
Di penghulu shubuh.