Jumat, 23 Februari 2018

Anak Malang

Hari mulai gelap
Cahaya lampu satu per satu mulai menerangi sudut-sudut kota yang riuh
Hiruk-pikuk manusia yang membuat ruang semakin penuh
Hilir mudik mencari sesuatu pengganti peluh

Di sudut lain yang lebih jauh
Seorang anak kecil baru saja beranjak dari hutan yang teduh
Kaki kecilnya melangkah dengan cepat, beradu dengan langit yang berawan jenuh
Ia cepatkan lagi langkahnya, agar seikat kayu di panggulnya tak basah oleh runtuhan air yang tak sabar terjun dari langit

Sesampainya di gubuk kecil beratap jerami, segera ia susun kayu demi kayu yang telah ia kumpulkan di tepi hutan tadi
Tinggal satu masakan lagi, batinnya
Berasnya habis
Tak ada pula makanan yang lain
Biarlah, yang pasti, mamak dan ketiga adiknya malam ini bisa tidur nyenyak
Besok, biar ia cari ubi jalar di hutan
Syukur jika ia mendapatkan ikan di danau tengah hutan
Atau, barangkali membantu pak haji mengangkut pasir saja?

Ah,
Dia memang anak yang kuat
Setiap hari tak pernah lelah bekerja demi menghidupi mamak dan adik-adiknya
Sejak hulu subuh, terbit-tenggelam fajar dan mentari, hingga rembulan yang menggantikannya lagi
Semoga, nasib baik segera menghampirinya
Anak malang di ujung pedalaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar