Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang si Kakak dan Sixteen

Ceritanya pagi itu saya sudah siap-siap pergi menjemput rizqi (?) *apasih. Kemudian, qadarullah, si Kakak ditemukan gembos oleh tetangga kamar. What??? Kakak, apa yang kamu makan nak, perasaan semalam pulang masih sehat-sehat aja. Ada-ada aja hihi. xD

Seakan tau banget saya udah lama engga olahraga :p, akhirnya pagi-pagi harus menuntun si Kakak ke tambal ban terdekat. Karena sepertinya sudah sejak semalam bocor, jadi digeserpun sudah cukup berat, apalagi dituntun yak. Baru beberapa belas meter, saya sudah cukup merasa ‘menggeh-menggeh’ alias terengah-engah. *tariknapas*

Saking ‘panik’nya karena sebelumnya pernah bocor dan malah velg motornya penceng dan ngga enak dipake, saya bersemangat sekali menuntun si Kakak. Sampai akhirnya ketemu Ibu-Bapak yang ngeliatin saya aneh, seakan bilang: we lha ngopo embak ndadak dituntun barang, kurang gawean po piye  ._.  dan akhirnya menyarankan saya untuk ‘dinyalain aja mbak mesinnya’. Deg, baru sadar, kan bisa yaa nyalain mesin aja meski ga dinaikin yaa, kok tadi engga kepikiran kyaaa. Alhamdulillaah. Jrenggg, akhirnya perjuangan berlanjut xD

Pas jalan lagi, kebetulan menuju tambal ban saya dan Kakak harus melawan arus di jalan ringroad utara, subhanallah sekali.Aapalagi di arah berlawanan lampu hijau menyala, yak, semangat diliatin banyak orang :p mana si Kakak berat juga ya ternyataaa. Di tengah ‘perjuangan’ bersama si Kakak, kemudian saya jadi ingat sesuatu...

Perjuangan menyusuri pantai Sixteen di Temajuk :3 puasa2 siang bolong diantara pasir ya Allaah :’) 

Semenjak semalam, saya dan Rina sudah janjian mau melanjutkan ploting lokasi wisata. Program kami saat itu adalah Pemetaan Lokasi Wisata di Desa Temajuk. Berhubung suasana masih di bulan Ramadhan dan terhitung masih minggu-minggu awal KKN, kami ngga ngoyo. Target ploting kami beberapa hari. Dan untuk hari itu kami memutuskan berjalan ke selatan, arah ke perbatasan desa dengan hutan dan padang pasir (?).

Namanya Pantai Sixteen. Hihi gawlz yak :D Nama pantai ini diberikan oleh tim KKN sebelum kami (entah satu atau dua tahun sebelumnya saya lupa) mengingat lokasinya berada di RT 16, rukun tetangga paling selatan dari Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk. Dari pusat pemerintahan dan perekonomian desa (alias pasar), menuju RT harus ditempuh dengan perjalanan berliku mengarungi jalanan berpasir. Yang panasnya akan menjadi subhanallah sekali kalau ditempuh di siang hari bulan Ramadhan :D

Waktu itu sih kami tidak berpikir aneh-aneh, pokoknya mah tujuannya ploting, klik, lalu pulang. Tetapi itu hanya bagian dari mimpi saja ternyata, kenyataannya lebih menggiurkan :D Karena keterbatasan kendaraan, kami biasa saling jemput-menjemput. Kami berangkat sekitar pukul 10 (?) dari Dusun Sempadan di ujung timur, tempat tinggal saya. Kami berjalan (plus mampir-mampir ploting yang lain) ke arah selatan. Sampai di Tugu Garuda, kami bertanya pada warga, dimanakah gerangan letak Pantai Sixteen itu? Ohiya, saat itu kami ditemani Amel dan Dea juga untuk berjuang :D

Dari Tugu Garuda, kami berbelok ke kanan menuju Pantai. Desir ombak suaranya sudah memanggil-manggil kami. Kurang lebih 50 meter lagi kami sampai di bibir pantai. Tapi, tunggu dulu, supertrap! Pasirnya semakin menjadi, ketebalannya sudah entah berapa puluh cm. Akhirnya saya dan Amel memutuskan untuk turun dari motor (karena kami dibonceng) supaya memudahkan Rina dan Dea melewati rintangan. Dengan penuh perjuangan, tadaaaa akhirnya kami sampaaai.

Pantai Sixteen dengan pasir yang terhampar luas ~

MasyaaAllah tsantiknyaaa pantai Temajuk emang sampai ngga bisa dideskripsikan dengan kata-kata. One of most proper beach to visit deeeh! Pemandangannya waktu itu, dari ujung mata ke ujung mata yang lain ya cuma pantai berpasir, yang indahnya ngga bisa ditangkap pakai kamera (yang kami bawa waktu itu wkwk). Kami melongo. Sambil mengira-ira, ini pantai seberapa yak panjangnya? Kalau kita renang, ujungnya dimana ya? Dan berbagai pertanyaan yang menari-nari di pikiran.

Sebagia besar pantai di Temajuk, bibir pantainya menghadap ke barat, karena Desa Temajuk memang desa paling barat dan paling utara di Pulau Kalimantan. That’s why, sunset disini juga tsantiiik banget! (Sesuatu yang selalu pengen saya lihat tiap hari, karena rumah saya waktu KKN di bukit, jadi sering ngga kebagian sunset hehe.. ) Termasuk di Pantai Sixteen ini yang menghadap ke barat. Kalau menoleh ke kanan, kita akan melihat gulungan ombak dari pantai ke pantai sampai di ujung Tanjung Dato. Ujuuung banget. Kita juga melihat Dermaga Camar Bulan dari kejauhan. Kalau menoleh ke kiri, sama, kita juga melihat pantai berpasir yang entah berapa kilometer panjangnya. Uwaaa pokoknya memanjakan mataaa.

Saking senengnya, akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri pantai saja untuk jalan pulang, tidak perlu kembali melewati jalan berpasir yang panas, tapi pasir yang adem aja sekalian cuci mata. Kami juga melihat beberapa motor yang melintasi jalur pantai. Jadi, sepertinya aman. Oke, let’s go!

Waktu itu sekitar pukul sebelas siang lewat, di Kalimantan. Jadi yaa, matahari lagi seneng-senenganya ‘bertengger’ di atas kepala. Rina bertindak sebagai ‘sopir’ si Bugar dan saya sebagai penumpang. Emang karena kebiasaan saya yang kadang jadi terlalu waspada wkwk, jadi pegangannya kenceng banget ke samping motor. Medan berpasir bukan hanya menjadi tantangan bagi Rina, tapi juga saya yang tegang pegangan takut motornya kepleset alias selip :D

Matahari makin asik aja diatas, dan kita mulai lelah! Haha. Ternyata penduduk yang terlihat menikmati berkendara di atas pasir adalah tipuan semata! Terutama bagi kami yang tidak terbiasa, hiks. Lelah adek bang. Entah sudah berapa kali ban motor kami selip. Ngggreengggg, harus didorong dengan sekuat tenaga supaya bisa keluar dari jalur pasir. Semburat butiran pasir menandakan kami mulai berhasil. Ayo Bugar, kamu pasti kuat!

Kami sempat berhenti entah kali keberapa. Bermain air dan pasir mengusir lelah dan haus. Sepertinya perjalanan masih panjang. Dermaga Camar Bulan masih tampak kecil daari kejauhan. Oke, saatnya bergantian, saya yang mengemudikan si Bugar.

Tadaaa, ternyata sensasi mengemudi di pantai pasir yang basah itu luarrr biassah! xD Beratpun menopang motor, berat pula menopang beban diatasnya, subhanallah :3 Saya bawa motor sambil tegang banget, entahlah itu muka kalau direkam ekspresinya gimana. Yang jelas, saya beberapa membenamkan si Bugar diantara pasir-pasir. Tapi saya harus bertahan! Kan ngga adil karo saya minta dibonceng terus :3

Sudah lebih dari empat puluh menit sepertinya, entahlah, kami tidak menghitung waktu. Hanya kami tahu matahari sudah menggelincir sedikit, dan waktu dhuhur sudah tiba. Dan kami? Masih di hamparan pasir! Dermaga Camar Bulan tujuan kami sudah mulai membesar, tidak jauh lagi, kowe kuattt!

Sekitar 200an meter mungkin (?) dari Dermaga, kami menemukan kuale sungai! Kyaaa bahagiaaa. Kuale atau kuala atau juga muara sungai, tempat pertemuan sungai berair tawar dengan air laut yang asin.  Dari sungai kecil di muara, airnya terus mengalir melewati pasir-pasir itu, kemudian mereka bermuara ke laut.
~Dekat kuale sungai
Laluan orang
Laluan orang pergi melaut
Mencarek ikan~
*
potongan lagu Batu Ninek-SD 19*
Betapa bahagianya kami, langsung meraupkan sebanyak-banyakya air ke wajah lelah kami. Segaaar sekaliii. Sayangnya kami tidak bisa merasakan kesegaran dan kenikmatan air tawar langsung dari kuale, karena kami sedang puasa ramadhan hihu. Campur aduk rasanya wkwk. Setelah energi lumayan terisi, kami bermaksud melanjutkan perjalanan ‘menyeberangi’ kuale tersebut. Eh tapi...

Jengjeeeng, there was another superb duperb trap! Karena muara ini mengalirkan air, otomatis jalanan berpasir yang berat makin berat karena ditambah air. Dea dan Amel melintas terlebih dahulu, dan, jrenggg, motornya mogok, masuk ke air, masuk ke pasir. *Blubup blubup*

Kami langsung panik. Itu teh gimana ceritanya rodanya bisa masuk dalem banget, gimana bisa keluar T___T rasanya pengen nangis tapi tidak menyelesaikan masalah.  Oke, berarti saya dan Rina harus minggir, parkir motor, dan membantu mereka keluar dari jebakan Batman. Tapi oh tunggu dulu, ternyata motor kami juga nyemplung saudaraaa :3 meski ga sedalam punya Dea dan Amel.

Tariiikk, dorooongg, nggrengg nggreengg. Tariiik lagii, dorooong, bremmm bremmm. Akhirnya si Bugar bisa diselamatkan! Alhamdulillah ya Allaah :’) kami udah lemess plus kekeringaan HAHAHA akhirnya minggir bentar parkir agak diatas supaya motornya ga masuk ke pasir lagi. Tapi namanya juga di pantai ya, di sebelah manapun juga pasir wkwk.  Jadilah si Bugar parkir dengan badan yang sempoyongan miring-miring.

Di sisi lain, Dea dan Amel was still fighting dengan motor mereka. Saya dan Rina gantian bantuin. Pokoknya kita dua orang narik, satu orang pegang kemudi, satu orang mengarahkan. Kita aja terus gantian sampe capeeek hahaha.

Tariiikk, kanaan, dorooong, kiriii, stooop. Semua aba-aba sudah dipraktikkan. Akhirnya sadar, kayanya kalo divideoin seru niih :3 daan kita ngegantian videoin adegan tersebut ;D Bahagia emang sederhana ya? Di tengah kesusahan kepanasan kehausan masih bisa aja ketawa-ketawa. Dan perjuangan terus berlanjut.

Akhirnya motor kami bisa terselamatkan dari ‘pasir hisap’ tersebut. Tapi, the most important thing was... kami masih di pantai, belum sampai rumah. Umaaak tolooongg -___- almost frustated, kami coba starter motor. And yes, engga mau nyala. Coba lagi, tetep engga mau. Gantian coba, sama aja ga mau nyala. Aaakk macam mana niiih, nak pulang jua lah kamek tok T.T kepala kami mulai panas. Meen, jam 12 siang lewat tetap masih panas lah ya di Kalimantan. Apalah daya kami ya Allah...

Kami udah capek ngedorong-dorong motor, kepanasan, udah kaya mau pingsan, dan pas banget engga ada seekor nyamukpun yang lewat, apalagi manusia. Padahal pas masih berangkat tadi ada satu-dua motor yang lalu lalang. Dunia fatamorgana mulai berdatangan. Maan, tapi itu cuma fatamorgana. Air depan mata aja cuma kita diemin, apalagi selevel fatamorgana ._. Mau teriak? Ga bakal kedengeran, dan malah menghabiskan tenaga. Jadi, apa yang harus kami lakukan?

Dan, pertolongan Allah itu, selalu datang di saat yang tepat. Tepat setelah kita berusaha dengan sekuat tenaga dan seemampu kita. Dari kejauhan, berjalan sesosok abang-abang berseragam hijau mendekat ke arah kami. Rasanya kepala kami seperti disiram air es, nyesss. Alhamdulillah, bantuan datang juga xD

Singkat cerita, si abang TNI tersebut sedang bertugas di daerah bukit sinyal-Sungai Bacan (?). Seingat saya, si abang juga dari daerah Jawa Timur, jadi ya sikit-sikit nyambung lah kamek. Nah si abang ini dapat tugas giliran buat belanja ke Temajuk Besar (Maludin). Biasanya sih emang di camp TNI gitu mereka masak bareng-bareng. Saya lupa sih beliau ini bagian apa, tapi yang jelas bukan Pamtas yang bagian penjaga perbatasan. Itu beda lagi. Yang penting si abang sejalan dengan kami, dan mau membantu kami wkwk.

Awalnya, si abang mencoba menyalakan motor. Mati. Coba lagi, tetap belum mau hidup. Gitu aja terus. Sampai lelah juga xD Berhubung mesin motor yang belum bisa menyala cuma satu, dan si Bugar masih oke, akhirnya si Bugar ‘menyeberang’ duluan. Air di kuale udah makin-makin aja waktu itu. Jadi ketika si Bugar menyeberang, mulut tak henti berdoa supaya mesin ga mati, dan kita bisa  menyeberang dengan selamat. Dan alhamdulillah, selamaaaat :3 Sekarang giliran motor satunya, abang TNI, Dea, dan Amel mendorong sekuat tenaga :’) berjuaaang sampai akhirnya berhasil menyeberang. Alhamdulillah, sedikit lagi.

Berhubung ada salah satu teman yang sudah sampai ‘puncak’, kami gantian dorong motornya. Dua naik motor, dua lagi bersama abang TNI dorong motor. Se-ma-ngat! Se-ma-ngat! Dermaga Camar Bulan sudah terlihat. Beberapa puluh meter lagi (!)

Dermaga Camar Bulan
Tapi mungkin karena muka kami udah kusuutt banget keliatan tidak berdaya ._. abang TNI memutuskan untuk mendorong sendiri, hiks. Maafkan kamii. Saya inget banget si abang sampe masukin topi berkali-kali ke dalam air dulu baru dipake. Mungkin biar seger kali yaa mengingat rasa matahari di atas kepala belum bergulir jua :"
Dan kami, dengan susah-payah (?) berjalan setengah menyeretkan langkah ke dermaga. Rasanya pengen lariii biar cepat sampai, tapi apa daya, tak kuasa lagi tubuh ini...

Dan jrenggg alhamdulillaaah kami sampai dermaga :”) ya Allah, rasanya pengen sujud syukur. Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah :”

Segera kami memanggil pasukan untuk menjemput kami ke tempat peristirahatan terdekat, alias di rumah Pak Asman. Sampe sana langsung meluruskan kaki sama duduk sebentar. Udah pada lemess banget mukanya. Langsung charge, sholat dhuhur karena udah jam satu lewat. [Apa, jadi tadi berapa lama..... -_________-]

Perjalanan yang luar biasa. Kelihatannya sih ‘gitu doang’, but if you never try you’ll never know :p Hahaa. Anyway, salah satu hikmah yang bisa diambil dari cerita (apa curhat? -_-) ini adalah: semua pantai di Temajuk itu tsantik, termasuk pantai sixteen. Tapi dimanapun kalau ngga tau emang ga boleh sok-sokan tau medan, jadilah tepar sendiri :p

Lalu, yakinlah bahwa pertolongan Allah pasti datang di puncak ikhtiar kita. Kalau belum datang, berarti ikhtiarnya belum sampai puncak. *jleb *notetomyself :”

Kemudian jadi nostalgia Temajuk (lagi). Sedih siiih tahun ini udah ngga ada KKN disana lagi :” tapi kabar baiknya disana sudah ada sinyal (lagi), bahkan ada tiga tower. Dan salah satunya di Sempadan deket rumah :D Jadi kalau sedang salok  bisa lah berkirim kabar.

Titip salam rindu untuk seluruh elemen desa di ujung sana. Di ujung utara dan ujung barat Pulau Borneo. Tempat menanak butir perjuangan dalam bingkai pengabdian. Semoga apa yang kami tinggalkan bisa bermanfaat, atau setidaknya membekaskan kenangan. Semoga kelak, kite nak jumpa agek ie...

Yang sedang memilin rindu,
A Lung Putri
Sabtu, 18 Maret 2017 00:20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar