Senin, 22 Agustus 2016

Hakikat Karya

Suatu ketika...
===

“Amal yang paling ihsan,” demikian menurut Fudhail ibn ‘Iyadh, “adalah yang paling ikhlas niatnya dan paling benar mengikuti tuntunannya.”

Mari sejenak mentakjubi para pendahulu kita yang shalih, yang sebakda memenuhi ikhlas dan benarnya amal mereka, masih juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana memanfaatkan sebesar-besarnya detak-detik hidup yang penuh makna. Terlebih hari ini, di kala amat mudah kita berbangga dengan perbuatan kecil yang dengan lancang kita sebut “karya”.

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslimyang setebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas Shahih Muslimyang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.326 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar shahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-sedikit-sedikit bertanya pada pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?
Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk memndapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?
Masih belum terbayang bagi kita, bagaimana Ibn ‘Aqil Al-Hanafi menyusun kitab Al-Funun yang terdiri atas 800 jilid berisi aneka ragam ilmu dengan pembahasan yang dipuji ‘tiada bandingnya’ oleh sang ahli hadits agung Imam Adz-Dzahabi. Masih sukar kita terima, bagaimana Al-Hafizh Ibn ‘Asakir berhasil menyusun ke-83 jilid kita sejarah Tarikh Dimasyq sementara beliau sibuk pula menelaah berbagai hadits. Masih berat mengira-ira, bagaimana Imam ibn Jarir Ath-Thabary setiap harinya menulis sebanyak 40 halaman selama 40 tahun, hingga keseluruhan karyanya mencapai 358.000 lembar. Bagaimana pula rautan pena Imam Ibn Al-Jauzy terkumpul begitu banyak, hingga cukup untuk menjadi kayu bakar memanasi air bagi pemandian jenazahnya.

Detak-detik macam apakah yang lapis berkahnya setebal itu?

Kita baru melihat satu sisi saja bagaimana mereka berkarya; belum terhayati bahwa mereka juga bermandi darah dan berhias luka di medan jihad. Bgaiamana Ibn Al-Mubarak membagi tahun-tahunnya menjadi tiga; sepertiga untuk ilmu, sepertiga untuk jihad; dan sepertiga untuk berniaga. Bagaimanakah Ibn Taimiyah melalu hidupnya antara garis depan perang melawan Tartar, mengajar, dan tinggal di penjara Sultan. Begitulah, acap kali mereka juga harus berhadapan dengan penguasa zhalim dan siksaa pedihnya, sejawat yang dengki dan gangguan kejinya, serta para awam yang takpaham dan kadang lebih kejam.

Kita mengeluh atas listrikyang mati atau data terhapus; Imam Asy-Syafi’i tersenyum kala difitnah dan dibelenggu, dan dipaksan berjalan terantai dari Shan’a menuju Baghdad. Kita menyedihkan komputer jinjing yang tetiba mengadat dan batas waktu penulisan yang gawat; sedang punggung Imam Ahmad berbulir dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat. Kita berduka atas gagal terbitnya suatu karya; padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga menjelang ajal, agar dirinya terhindar dari puja.

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sedahsyat itu?

Mari kembali pada Imam An-Nawawi yang wafat di usia 45, dan tak usah bicara tentang Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab-nya yang dahsyat dan Riyaduhush Shalihin-nya yang jelita. Mari perhatikan saja karya tipisnya; Al-Arba’in An-Nawawiyah. Betapa dalam 42 hadits yang dipilih dengan cermat itu ada lapis-lapis keberkahan yang melampaui segala hitungan. Ia disyarah beratus kali, dihafal berlaksa akal hati, dikaji berjuta manusia, dan tetap menakjubkan susunannya.
Maka tiap kali kita bangga degan “best seller”, “nomor satu”, “juara”, d”dahsyat”, dan “terhebat”; liriklah kitab kecil itu. Lirik saja. Agar kita tahu; bahwa kita belum apa-apa, belum kemana-mana, dan bukan siapa-siapa. Lalu tak henti belajar, berkarya, dan bersahaja.
===

Saya berhenti seketika membaca bagian itu dibuku Lapis-Lapis Keberkahannya Ustad Salim. Saya malu, malu sekali. Malu pada ulama’-ulama’ tersebut, malu pada Rasulullah, sungguh malu pada Allah, dan teramat sangat malu kepada diri saya sendiri. Di bilang umur yang sudah Allah sampaikan di titik ini, juga dalam segala nikmat yang telah Allah karuniakan pada kehidupan ini, sungguh saya belum merasa berbuat apa-apa. Jangankan berkarya seperti para ulama’ tersebut, bahkan membaca karya-karya beliau saja belum tuntas bahkan terkadang belum menjadi prioritas. Apalah artinya ilmu yang tidak ada seujung kuku ini, ya Allah..

Saya jadi ingat pertama membaca halaman awal buku ini, begitu malasnya. Sekian lama teronggok di deretan rak buku. Membaca sebentar, tutup. Membaca sedikit, ngantuk. Ah. Lihat tebalnya buku saja sudah malas. Tetapi masyaAllah, setelah dibaca isinya luar biasa :” Ya Allah, izinkan aku mentadabburi ilmuMu dari karya para ulama’. Dan kelak, izinkan aku dapat membagikan sedikit, seujung kuku ilmu yang Kau titipkan padaku ini. Aamiin.

Yogyakarta, 22 Agustus 2016
20 Dzul Qo’dah 1437


Sang Fakir Ilmu,
Andika Putri Firdausy 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar