Selasa, 30 Agustus 2016

Tentang Penerimaan

Membangun Kesiapan untuk Menerima

Apakah ini tentang menikah?
Tidak selalu.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya merasa sangat kerdil, merasa bahwa terkadang perjalanan hidup ini menjadi cukup berat..

Begini.
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai hal dan permasalahan yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara penyelesaian terbaiknya. Kalau iman kita sedang naik, hati kita menjadi baik, dan segalanya menjadi baik-baik saja. Semua masalah akan wesewesewes, bablas aja~ Penerimaan kita terhadap segala sesuatu akan sangaaat mudah. Hati kita akan menjadi saaangat lapang. Mau ada yang berbuat salah sama kita? Tidak akan menjadi masalah, karena kita sedang dekat dengan Allah. Hati kita sedang sehat sepenuhnya. ♥

Sayangnya, jika iman sedang melompat-lompat ngga karuan, apalagi sampai terjun bebas; hmm, disitulah sumber masalahnya. Hati menjadi tidak pernah tenang, selalu kemrungsung, dan semua menjadi serba salah. Masalah yang kecil akan dibesarkan, dan masalah besar tidak akan pernah sampai pada kata selesai. Bahagia? Tentu saja tidak. Hidup kita akan dihantui dengan rasa menyesal, kesal, dan semua rasa tentang ketidaktenangan (?). Intinya, hati kita tidak pernah merasa cukup dan tenang. Dan tentu saja, saat itu hati kita sedang jauh dengan Allah. Dan kita butuh untuk sesegera mungkin mendekatkan diri lagi, supaya semua menjadi baik-baik saja. (:

Apakah ini tentang menikah?  
Ya, bisa jadi.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya cukup terhenyak, merasa tidak belum siap..

Begini.
Kita, saya sendiri, termasuk orang-orang yang berprinsip untuk tidak memiliki ‘hubungan’ selain dengan pernikahan. Jadi, well, terkadang (atau mungkin?entahlah kan saya belum pernah :p), pernikahan itu menjadi semacam rahasia besar yang ngga bisa saya intip sama sekali sampai kelak benar-benar terjadi. Kalau ditanya kriteria, sebenarnya saya tidak bisa mengukur dengan tepat. Pasti punya lah mau gimana-gimana, tapi kan, tetap saja, semua itu ‘apa kata Allah’. Ingat aja pokoknya mah sama “Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik; wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Juga, tentang “Bisa jadi, apa yang baik menurutmu belum tentu baik untukmu.”; dan apa yang menjadi ketetapan Allah-lah yang terbaik untuk kita. Nah, di titik ini lah kita harus belajar. Menerima semua takdir yang Allah tetapkan untuk kita. Baik itu tentang jodoh, ataupun yang lainnya. Semua perlu dipersiapkan. Agar kelak, kita tidak lagi sibuk dengan belajar menerima (yang telah kita siapkan sebelumnya), tetapi berjuang menghadapi yang lebih besar.

Udah sih gitu aja. :p
Nulisnya jadi panjang gegara pada heboh haha. Makanya to di tabayyun dulu kalau ada berita mah wqwq. Maap yak. Berasa apaan perlu press conference:p Saya mau dan tentu saja ingin menikah. Tapi saya belum akan menikah dalam waktu dekat. Belum ada calon :p. Saya mau script-sweet an dulu aja baru bikin “proposal” ke Allah. Udah gitu aja. (:

Yogyakarta, 29 Agustus 2016 21:00

Sebentar lagi due date.
Syemangats Mblooo #PutriPejuang, istirahatnya entaran aja yak di Firdausy (; *aamiin.

Senin, 22 Agustus 2016

Hakikat Karya

Suatu ketika...
===

“Amal yang paling ihsan,” demikian menurut Fudhail ibn ‘Iyadh, “adalah yang paling ikhlas niatnya dan paling benar mengikuti tuntunannya.”

Mari sejenak mentakjubi para pendahulu kita yang shalih, yang sebakda memenuhi ikhlas dan benarnya amal mereka, masih juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana memanfaatkan sebesar-besarnya detak-detik hidup yang penuh makna. Terlebih hari ini, di kala amat mudah kita berbangga dengan perbuatan kecil yang dengan lancang kita sebut “karya”.

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslimyang setebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas Shahih Muslimyang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.326 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar shahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-sedikit-sedikit bertanya pada pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?
Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk memndapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?