Minggu, 31 Juli 2016

Salok pada Biak

Niat awalnya, mau nulis ‘beneran’ tentang kalian. Tapi di tengah perjalanan, rindu sudah memuncak. Draft ditutup berganti dengan foto kalian yang melayang-layang. ~















Apa kabar kalian disana, dek? Baik-baik kah?
Kakak salok inyan dengan kalian :’)
Belajar yang rajin, ya. Jangan lupa sholatnya. Patuh sama orangtua di rumah.
Kelak kite nak jumpa agek ie... ^^

Yogyakarta, 31 Juli 2016 00:05
Yang sedang memilin rindu,

Andika Putri Firdausy

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Rabu, 27 Juli 2016

Hanya Antara Kita

-Hanya Antara Kita-

Jangan bertanya bagaimana awal pertemuan kita. Semua hanya antara kita.
Aku sendiri juga tidak dapat menjelaskannya dengan baik. Awalnya, kita hanya sering berjumpa, menghadapi masalah yang serupa, dan berujung pada kegalauan yang sama. Pada akhirnya Ia yang mengumpulkan kita.
Bersama, memang membuat kita berjalan lebih lamban dari biasanya. Tapi, itu hanya terkadang saja. Lebih banyaknya, kita justru membuat lompatan-lompatan, atau bahkan menemukan jalan pintas diantara rerimbunan cabang-cabang permasalahan.
Dari sekian banyak jalan, kita melewatinya satu per satu. Kadang kita perlu berlari, berjalan merangkak bahkan merayap, atau sesekali perlu memutar jalan kembali.
Apakah kita berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak. Tidak sampai kita akan berhenti di tujuan kita yang sebenarnya. Tujuan terbaik menujuNya.
Untuk kalian, untuk kita. Tetaplah berjuang sampai titik darah penghabisan. Jika kita tidak lagi bersama, pasti Ia akan  membersamai kita.

Bangil, 27 Juli 2016 08:18
Sesaat sebelum kembali,

Andika Putri Firdausy a.k.a

Sabtu, 23 Juli 2016

Langkah Pertama

Bagian 1: Masa Anak-anak

Tetiba saya jadi ingat pengalaman pertama saya mengikuti lomba karya tulis di jenjang perkuliahan. Titik awal yang mengantarkan saya ke diri saya yang sekarang. Titik pertama perjuangan yang manisnya saya rasakan sekarang, menjadi bumbu tersendiri pada perjuangan kehidupan saya ke depan. Dan, saat pertama selalu tidak pernah bisa terlupakan.

Sejak kecil, entah darimana asalnya, saya memang suka lingkungan yang kompetitif. Saya bukan orang yang ambisius, tapi suka pada tantangan. Saya yakin semua itu tidak mungkin mak benduduk gitu aja. Mungkin, orangtua saya mengiternalisasi saya dengan ‘racun’ bermanfaat  tertentu sehingga saya seneng banget sama yang namanya ikut lomba. Apa karena saya orangnya PD? Hmm, not really. Mungkin kelihatannya saja saya orangnya cukup PD untuk berbicara dan tampil. Padahaaaal; semua itu terpaksa #ups. Jangankan ngomong di depan, nanya ke guru atau dosen aja saya keringetan dingin, bahkan sampe gemetar. Tangan saya bakalan basah, kalau memegang jantung udah deg-deg tidak karuan. Apalagi kalau sampai bicara. Saking bergetarnya, kadang saya lupa tadi saya bilang apa. Hahaha. Ssst jangan bilang2 ya :p

Oke, balik ke lomba. Sewaktu SD, saya sukaaak pake buangets sama mathematics. Saya tidak tahu ini berhubungan atau tidak dengan ibu saya yang guru matematika hahaha. Tapi lebih dari itu, saya suka tantangan dan logika. Yap, mengerjakan soal matematika adalah teka-teki hidup yang sangat saya sukai. Saya suka nggethu sendiri ketika mengerjakan soal. Pesaing Partner saya sewaktu lomba di SD kebanyakan adalah para lelaki yang satu kelas sama saya. Hahaha iya, kebanyakan matematika ini memang lebih digandrungi (dan well, dikuasai) oleh para lelaki. Mereka emang pinter-pinter sih logikanya. Tidak heran kalau sampai sekarang teman SD saya yang masih sering komunikasi kebanyakan laki-laki. Dari TK, SD, SMP, sampai SMA kami sekelas. Hastagah, ini gara-gara nggak ada sekolah lain kali ya :p

Masa-masa SD adalah masa ‘keemasan’ saya (soalnya lebih dikit saingannya dibanding SMP, SMA, apalagi kuliah :p). Saya lagi hobi-hobinya belajar, waktu itu. Beda dengan setelah SD. Hampir setiap hari orangtua mendampingi kami belajar. Dari mengerjakan PR, mengerjakan soal di buku, sampai tebak-tebakan. Bahkan ada satu tebak-tebakan parikan basa jawa yang sampai saat ini saya ingat: Pak Boletus, Tepak Kebo Lelene Satus! Hahaha betapa saya (dulu) sangat suka pelajaran ini.

Seingat saya, saya mulai ikut lomba-lomba sewaktu kelas tiga SD. Ehm, mungkin matematika, entahlah saya lupa. Yang saya ingat, SD ini masa-masanya saya sama sekali tidak bisa diam. Masa dimana lagi aktif-aktifnya saya. Ikut ini-itu, main ini-itu, rasanya ga pernah capek. Sepertinya benar bahwa kita harusnya mencontoh semangat dari anak-anak karena mereka selalu bersemangat. Juga pantang menyerah. Gagal? Coba lagi. Gagal lagi? Coba terus!!

Waktu itu saya kelas empat SD. Beberapa dari kami mewakili sekolah untuk mengikuti lomba siswa berprestasi tingkat kecamatan. Di tingkat kecamatan, masing-masing dipilih tiga besar putra dan putri untuk mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Alhamdulillah waktu itu saya berada di tingkat pertama. Semenjak itu, mendadak saya jadi semakin banyak ‘job’ –a Saya diminta oleh Guru saya untuk menjadi ketua kelas. Tentu saja untuk melatih jiwa kepemimpinan saya (yaelah, anak SD pake jiwa-jiwa segala haha :p). Kebayang nggak kalau saya jadi ketua kelas? Hahaha, yaps, benar sekali: galak! :D Sampai sekarangpun, saya termasuk manusia paling alot kalau disuruh ngelanggar aturan. Kalau udah A, ya A, tidak bisa ditawar. (Semoga aturanMu juga kutegakkan dengan benar, ya Rabb :”). Termasuk dalam hal kedisiplinan di dalam kelas.

Setelah memberikan tugas, sudah biasa, guru akan meninggalkan kami barang sejenak. Entah ada rapat, atau sekedar ada keperluan di kantor. Dan, tentu saja sebagai ketua kelas, saya ‘diamanahi’ untuk mengontrol keadaan kelas. Guru akan bilang, “Teman-temannya jangan boleh rame, ya”. Dan, itu artinya, sesiapa saja yang mengganggu ketenangan di dalam kelas akan menjadi ‘mangsa’ saya. Kata-kata andalan saya adalah: Hee rekk ojok rame! Sing rame tak catet!!!” (Teman-teman jangan berisik! Yang berisik nanti kucatat!!!). Jangan bayangkan muka galak saya waktu itu hahaha. Yang jelas, namanya juga anak SD, mana ada yang bisa diam, semua pada begidakan keliling kelas. Coret-coret papan lah, lempar-lempar an lah, ilok-ilok an (ejek-ejekan) lah, apapun akan menjadi sumber untuk mereka berisik dan mengganggu ketenangan kelas. Dan saya, grrr tentu saja tidak berhenti teriak: “Hee reekk ojok rame talaaa~” (Teman-teman jangan berisik dooong~); yang ujung-ujungnya bakalan berakhir saya hopeless dan akhirnya ‘cuma’ mengumpulkan segepok nama dalam selembar kertas. Saya sudah lupa pada akhirnya apa yang terjadi pada nama-nama di dalam kertas itu. Yang pasti, saya tahu mereka tidak melupakan kata-kata andalan saya tadi sampai sekarang. Hahaha, makasih lho rekk, maafkan teriakan-teriakan tidak berguna saya yang bahkan mungkin hanya menjadi angin lalu bagi kalian sewaktu itu wkwk.

Selain ‘didaulat’ menjadi ketua kelas, saya juga dilatih menjadi petugas upacara. Kalau biasanya jadi protokoler atau pengibar bendera, sekarang jadi pemimpin upacara. Mungkin saat itu saya sudah kelas lima (atau masih empat saya lupa); yang pasti waktu itu saya menjadi satusatunya pemimpin upacara perempuan. Setelah itu, jadinya hampir setiap pekan saya bertugas. Berpanas-panas apalagi kalau amanat pembinananya lama :D alhamdulillah tidak pernah pingsan. Paling-paling gerak-gerakkin jempol kaki dan teman-temannya kalau sudah mulai keringat dingin. Pernah saking pegalnya, pembina upacara sampai menyinggung saya pas menyampaikan amanatnya hahaha.
Masih banyaaak sekali cerita-cerita ‘unik’ sewaktu saya masih bocah heuheu. Nanti dilanjut di lain waktu yaaa, insyaAllah ^^
Ah ya, Selamat Hari Anak! :) Bagi saya setiap hari adalah Hari Anak. Karena setiap hari mereka akan bertumbuh dan berkembang menjadi generasi emas bangsa ini. Merekalah yang akan menjadi pilar-pilar penerus setelah generasi kita nanti. Mereka yang selalu menggemaskan dan bersemangat. Semoga kelak kita melahirkan anak-anak yang dapat bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa, juga menjadi pemberat amal bagi orangtuanya kelak di akhirat. Aamiin. *sambil elus-elus perut :p


Bangil, 23 Juli 2016 23:32

Seorang Anak dari Ibu dan Ayah,
Andika Putri Firdausy

Rabu, 20 Juli 2016

Wawasan Kebangsaan Masyarakat Perbatasan Perlu Diperkuat


Penguatan wawasan kebangsaan bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia perlu dilakukan. Hal tersebut penting dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa. Pasalnya, wilayah perbatasan sangat rentah terhadap konflik dengan negara tetangga.
Sekelompok mahasiswa UGM tergelitik untuk mengetahui lebih dalam wawasan kebangsaan masyarakat di daerah perbatasan. Oleh karena itu, mereka melakukan penelitian mengenai wawasan kebangsaan di salah satu kawasan perbatasan yaitu masyarakat Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Teluk Melanau, Malaysia. Mereka adalah Deta Wijayanti, Andika Putri Firdausy, Indah Miftakhul Janah, Aqmal Nur Jihad, dan Luqman Fikri Amrullah.
Pada penelitian kali ini Deta dan teman-teman melibatkan siswa kelas 5 SDN 16 dan SDN 19 Desa Temajuk sebagai objek penelitian. Mereka meneliti wawasan kebangsaan para siswa tersebut melalui 3 indikator, yakni paham kebangsaan, rasa kebangsaan, dan semangat kebangsaan.

Deka menyampaikan dari hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa tingkat wawasan kebangsaan siswa SDN 16 Temajuk tergolong sedang dan siswa SDN 19 Temajuk tergolong tinggi. Penelitian kuantitatif ini mampu mengungkap lebih jauh bahwa tidak ditemukan korelasi antara pemahaman terhadap kebangsaan dengan rasa dan semangat kebangsaan.
“Nilai paham kebangsaan di dua sekolah tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan nilai rasa dan semangat kebangsaan,” ungkapnya, Selasa (19/7) di Kampus UGM.
Dijelaskan Deka terdapat beragam latar belakang yang menjadi penyebab tinggi rendahnya wawasan kebangsaan. Fenomena ini kemudian dapat dijelaskan melalui teori kebiasaan dan pembentukan perilaku. Beberapa faktor yang berpengaruh diantaranya aktor meliputi guru dan siswa, keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.
“Faktor lingkungan menjadi sangat penting, utamanya di daerah perbatasan,” jelasnya.
Menurutnya, wawasan kebangsaan di wilayah tersebut perlu dilakukan. Tidak hanya itu, pemerataan pembangunan, khususnya pendidikan, harus ditingkatkan dan terus dilakukan hingga ke pelosok daerah.
“Dengan pemerataan pembangunan diharapkan mengurangi ketergantungan hidup pada negara tetangga sehingga meminimalkan kemungkinan warga untuk pindah kewarganegaraan,” pungkasnya. (Humas UGM/Ika)

Sumber: Web UGM