Sabtu, 17 Desember 2016

Three Years, Three Steps

Kyoto, 15 Desember 2013
It has been three years since that day ~
Saatnya kontemplasiii

Sejak perjalanan yang lalu, apa yang sudah didapatkan?
Apa yang sudah terlewati?
Mimpi bagian mana yang sudah tercapai?
Hmm rasa-rasanya diri ini masih terlalu jauh dari tujuan besar penciptaan :"

Jepang. Satu pengalaman yang menjadi buah dari berkumpulnya beberapa mimpi: naik pesawat, presentasi di luar negeri, jalan-jalan ke luar negeri, dan, of course, megang salju! Ehee. Agak kampungan? Biarin, daripada engga punya mimpi :p

Pulang dari Jepang, sama halnya dengan perjalanan jauh lainnya (katanya), membuat kita (saya) memiliki pandangan yang lebih luas tentang arti kehidupan. Pikiran jadi lebih terbuka, tidak hanya dalam tempurung Indonesia, terutama Jawa saja. Banyak pertanyaan-pertanyaan menemukan jawabannya. Banyak pula hikmah dari setiap kejadian yang terjadi, mulai dari tahap persiapan keberangkatan sampai kembalinya kami ke tanah air. Semoga bukan hikmah sesaat, ya. Tetapi benar-benar bisa menjadi pelajaran dalam menjalani kehidupan.
.

First, about partner.
Kyoto, 15 Desember 2013
Tau apa yang membuat saya bisa sampai di titik ini? Iya, orang-orang di sekitar saya. Kita tidak akan pernah bisa berjalan jauh jika sendirian. Memang sih, berjalan bersama-sama itu lamaaa banget. Sering gesekannya juga. Tapi, tujuan kita jelas. Dan ada sosok yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita di sepanjang perjalanan.

Dalam setiap tujuan dan pencapaian, saya lebih sering berpartner alias membentuk tim. Meski tidak selalu sama komponennya, tapi ada dua tim yang saya merasa sangat sejalan bersama mereka. Salah satunya, dan memang yang paling awal, adalah tim atau partner perjalanan saya ke Jepang.

Ke Jepang, zaman saya waktu itu (berasa udah berabad-abad aja :p), tidak semudah sekarang. Ngg, ini lebih ke perspektif dan euforia (?) siih. Dulu mah belum sebanyak sekarang informasi tentang dunia ke-luar-negeri-an baik yang konferensi atau exchange (atau sayanya yang dulu cupu banget yak? #eh). Dulu juga tidak segampang sekarang mencari sponsor, walaupun sekarang juga tidak bisa dibilang mudah. Dulu juga mah di tempat saya kuliah, apalagi mahasiswa muda-mudi ‘aneh’ banget kalau sampai ‘bertingkah’ ke luar negeri segala. Sesuatu deh. Makanya itu butuh perjuangan ekstra. Termasuk dalam menghadapi dinamika perkuliahan (baca: praktikum) di tahun kedua itu sesuatu syekalih. Dan dalam berjuang, sendiri itu engga enak. Serius. (Lain kali saya cerita bagian ini). That’s why we need journey’s partner. #tsaaah

Intinya mah, mencari partner yang sevisi itu sangat penting. Saya sangat bersyukur dipertemukan Allah sama partner yang luar biasa. Ima, Azza, Isna, dan Pipit, dengan segala kelebihan dan kekurangan, juga ke-luar-biasa-an mereka. Pengalaman pertama yang akan menjadi pelajaran bagi pencarian pengalaman-pengalaman selanjutnya. Meski pada akhirnya kita bersilang jalan #eaa, tapi aku yakin mimpi terbesar kita masih sama, fingers... :”) *tetibamellow.
.

Setelah partner, second is about work.
Kumamoto Univeristy, 13 Desember 2013
Setelah mempunyai ‘komposisi’ partner yang pas, pembagian kerja adalah hal yang sangat penting. Keduanya saling berkaitan. Kan ngga mungkin ya, kalau kita punya tujuan besar, tapi cuma diem-diem aja? Yah, itu mah sama aja ngga bakal dapat apa-apa. Kalau waktu itu sih, kami harus pandai-pandai ‘membelah diri’ dengan urusan paper, administratif ke Jepang, kuliah dan praktikum, organisasi, dan urusan pribadi kami masing-masing.

Kalau boleh jujur, IP saya semester tiga waktu itu adalah IP paling rendah selama saya kuliah :’D Kenapa? Karena saya sering bolos, hiks. Engga diing.. Sebenarnya itu hak saya siih, karena kan toleransi kehadiran 75%, jadi sayang aja gitu kalau disia-siakan #ngeles. Tapi jeleknya, saya jadi terlalu memaksimalkan, dan hampir di semua mata kuliah yang saya ikuti waktu itu saya absen 2-3 kali. Itu aja saya masih lari-lari mengejar berbagai tugas dan laporan praktikum, belum amanah organisasi juga. Seru lah pokoknya :3 Sampai saya yang paling tidak bisa begadang harus minum kopi dan masuk angin disusul demam karena harus menyelesaikan banyak hal.

Menyesal?  Oh, tentu tidak! Tapi tidak menyesal bukan berarti harus mengulanginya kan? Hehe.. Ambil hikmahnya aja: skala prioritas dan harus belajar mengurangi waktu tidur :) biar ngga kaya bayi yang banyak tidur wkwk (ini emang PR sejak lama dah -,-) Jadi, sebanyak apapun pekerjaan, tetap harus diselesaikan semua. Jika kita punya A, B, dan C yang harus diselesaikan, maka kita harus memberikan 100% ketika mengerjakan A, 100% ketika mengerjakan B, dan 100% juga ketika mengerjakan C. Karena, fokus itu sangat penting! Saya paling menghindari ketika kuliah disambi dengan mengerjakan yang lain. No! Selain itu tidak beradab (tidak sopan maksudnya ehee), itu juga mengganggu konsentrasi kita. Dan justru kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari yang kita lakukan. Saya juga sih mengejar keberkahannya aja. Toh kalau kita sedang berbicara di depan, juga pasti sedih kan kalau ada yang usrek  sendiri di belakang? Ini mah masalah lain lagi tentang bercermin, tapi penting juga dalam kehidupan :)

Cukup disitu? Hmm tidak juga. Sepulang kuliah dan menuntaskan amanah kampus, malam hari kami biasa berkumpul di ‘basecamp’ untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari persiapan keberangkatan sampai tentang mimpi-mimpi kami. Atau sekedar haha-hihi menghilangkan penat sejak sehari beraktivitas. Yang jelas, semua persiapan itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Menguras kantong sampe kering sekeringnya. Bahkan pernah menguras hati saking penatnya. *emang kamar mandi di kuras :D

Tapi kami yakin, semua lelah dan perjuangan kami akan terbayar lunas. Dan itu terbukti, bahkan surplus. :)
.

Last but not least, third is pray.
Kyoto, 15 Desember 2013

Pernah dengar pepatah ini: “If you work, you work. If you pray, God work.” ?

Yes, karena sebagai hambaNya, kita sudah barang tentu memiliki hubungan khusus yang tidak akan bisa diusik oleh sesiapapun jua. Tingkatan tertinggi setelah usaha adalah doa, baru setelah itu kita berserah diri. Doa adalah bagian yang sangat penting. Bukan hanya doa dari kita pribadi, tapi juga orang lain, terutama doa dan ridho dari orangtua kita. Terutama lagi, Ibu. Doa akan menjadi pembuka jalan yang akan melancarkan dan menguatkan usaha-usaha yang akan kita lakukan. Dan karena kita yakin bahwa jawaban dari setiap doa adalah “Iya”, maka berserah diri adalah ujungnya. Wis to, pokoknya mah, setelah usaha yang maksimal, doa maksimal, insyaAllah semua akan lancaaarrr dan hasilnya adalah yang terrbaiiik ;)
.

Jadi ini sih intinya, sesuatu yang besar didapatkan dengan pengorbanan yang besar jua.
Tidak bisa kita pengen ini-itu tapi yang dilakukan juga cuma itu-itu lagi, itu-itu doang. Mungkin bagi sebagian orang, konferensi mah gitu doang, sepele. Ke Jepang juga cuma situ doang, gampang. Tapi bagi kami, bagi saya utamanya, perjalanan ke Jepang memberikan hikmah yang luar biasa dalam diri saya. Tentu masih banyak hal yang harus saya perbaiki dari diri saya, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak ada yang saya dapatkan sepulang dari Jepang, justru banyaak!

Soo, keep fighting on your dreams! Jaga diri (dan hati) supaya tetap on the track  dengan tujuan besar kehidupan *halah yang sudah kita bangun sejak awal. Penyesuaian dengan realita sedikit tidak masalah. Tapi bukan berarti kita akan menyerah dengan keadaan. Yang membuat kita berhenti hanya Allah, bukan kelemahan kita. Terlalu banyak alasan yang membuat kita harus lebih banyak bersyukur dan terus bekerja keras. Kalau kata Pak Dis sih; bersyukur dengan cara bekerja keras :D Selamat berjuaaang!
.
Semoga tulisan ini juga menjadi pengingat bagi diri agar senantiasa tegar dalam berjuang :’)

Selesai ditulis di Yogyakarta, 16 Desember 2016 23:52

Your Journey Partner,

Andika Putri Firdausy a.k.a #PutriPejuang a.a.k.a #FirdausyFighter

Sabtu, 03 September 2016

Tentang Penerimaan #3

(Masih) Tentang Penerimaan #3

Penerimaan itu bukan sekadar tentang jodoh. Bukan hanya tentang bagaimana kita akan bersanding dengan orang ‘antah-berantah’. Bukan. Penerimaan itu berhubungan dengan hal yang sangat luas. mampu menerima orang-orang di sekitar kita, misalnya.

Kita hidup di dunia yang penuh warna-warni. Dari putih, kuning, hijau, merah, biru, cpklat, ungu. Bahkan bagi sebagian orang, satu warna pun akan berkembang lagi menjadi merah bata, maroon, peach, merah jambu, merah bendera, dan masih banyak lagi.

Penerimaan itu tentang bagaimana kita siap hidup dengan banyak orang. Entah itu di rumah, kos, asrama, kontrakan, kampus. Atau mungkin berinteraksi di kereta, di bus, pesawat, warung makan, atau sekedar berpapasan di jalan.

Penerimaan itu tentang sinergi. Tentang harmoni. Bagaimana kita menyulap not-not tunggal yang tak berirama, menjadi sebentuk nada indah yang berharmoni.

Penerimaan itu tentang legawa; ikhlas dengan segala yang ada dan terjadi di sekitar kita. Tentu jika itu bukan sesuatu yang berlawanan dengan perintahNya.

Berat? Tentu saja.
Kalau mudah, untuk apa kita bersusah payah belajar?

Butuh waktu? Tentu saja.
Kalau tidak, mengapa kita harus memulainya sesegera mungkin sejak sekarang?

Penerimaan itu bukan hanya tentang aku dan kamu. Tapi, lebih tentang aku dan Dia.
karena hanya Ia yang bisa membaca apa-apa yang sedang terjadi pada hatiku.

Penerimaan itu memang hanya tentang aku dan Dia. Karena hanya ridhoNya yang kuharap mampu mengantarkanku pada perjumpaan terindah denganNya.

Selesai ditulis 30 Agustus 2016 04:40,
diedit 3 September 2016 09:55


--Masih tentang #Penerimaan :3

Selasa, 30 Agustus 2016

Tentang Penerimaan

Membangun Kesiapan untuk Menerima

Apakah ini tentang menikah?
Tidak selalu.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya merasa sangat kerdil, merasa bahwa terkadang perjalanan hidup ini menjadi cukup berat..

Begini.
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada berbagai hal dan permasalahan yang kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara penyelesaian terbaiknya. Kalau iman kita sedang naik, hati kita menjadi baik, dan segalanya menjadi baik-baik saja. Semua masalah akan wesewesewes, bablas aja~ Penerimaan kita terhadap segala sesuatu akan sangaaat mudah. Hati kita akan menjadi saaangat lapang. Mau ada yang berbuat salah sama kita? Tidak akan menjadi masalah, karena kita sedang dekat dengan Allah. Hati kita sedang sehat sepenuhnya. ♥

Sayangnya, jika iman sedang melompat-lompat ngga karuan, apalagi sampai terjun bebas; hmm, disitulah sumber masalahnya. Hati menjadi tidak pernah tenang, selalu kemrungsung, dan semua menjadi serba salah. Masalah yang kecil akan dibesarkan, dan masalah besar tidak akan pernah sampai pada kata selesai. Bahagia? Tentu saja tidak. Hidup kita akan dihantui dengan rasa menyesal, kesal, dan semua rasa tentang ketidaktenangan (?). Intinya, hati kita tidak pernah merasa cukup dan tenang. Dan tentu saja, saat itu hati kita sedang jauh dengan Allah. Dan kita butuh untuk sesegera mungkin mendekatkan diri lagi, supaya semua menjadi baik-baik saja. (:

Apakah ini tentang menikah?  
Ya, bisa jadi.

Kalimat dalam buku itu sungguh sangat dalam dan membuat saya cukup terhenyak, merasa tidak belum siap..

Begini.
Kita, saya sendiri, termasuk orang-orang yang berprinsip untuk tidak memiliki ‘hubungan’ selain dengan pernikahan. Jadi, well, terkadang (atau mungkin?entahlah kan saya belum pernah :p), pernikahan itu menjadi semacam rahasia besar yang ngga bisa saya intip sama sekali sampai kelak benar-benar terjadi. Kalau ditanya kriteria, sebenarnya saya tidak bisa mengukur dengan tepat. Pasti punya lah mau gimana-gimana, tapi kan, tetap saja, semua itu ‘apa kata Allah’. Ingat aja pokoknya mah sama “Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik; wanita yang baik untuk laki-laki yang baik”. Juga, tentang “Bisa jadi, apa yang baik menurutmu belum tentu baik untukmu.”; dan apa yang menjadi ketetapan Allah-lah yang terbaik untuk kita. Nah, di titik ini lah kita harus belajar. Menerima semua takdir yang Allah tetapkan untuk kita. Baik itu tentang jodoh, ataupun yang lainnya. Semua perlu dipersiapkan. Agar kelak, kita tidak lagi sibuk dengan belajar menerima (yang telah kita siapkan sebelumnya), tetapi berjuang menghadapi yang lebih besar.

Udah sih gitu aja. :p
Nulisnya jadi panjang gegara pada heboh haha. Makanya to di tabayyun dulu kalau ada berita mah wqwq. Maap yak. Berasa apaan perlu press conference:p Saya mau dan tentu saja ingin menikah. Tapi saya belum akan menikah dalam waktu dekat. Belum ada calon :p. Saya mau script-sweet an dulu aja baru bikin “proposal” ke Allah. Udah gitu aja. (:

Yogyakarta, 29 Agustus 2016 21:00

Sebentar lagi due date.
Syemangats Mblooo #PutriPejuang, istirahatnya entaran aja yak di Firdausy (; *aamiin.

Senin, 22 Agustus 2016

Hakikat Karya

Suatu ketika...
===

“Amal yang paling ihsan,” demikian menurut Fudhail ibn ‘Iyadh, “adalah yang paling ikhlas niatnya dan paling benar mengikuti tuntunannya.”

Mari sejenak mentakjubi para pendahulu kita yang shalih, yang sebakda memenuhi ikhlas dan benarnya amal mereka, masih juga memberi kita pelajaran tentang bagaimana memanfaatkan sebesar-besarnya detak-detik hidup yang penuh makna. Terlebih hari ini, di kala amat mudah kita berbangga dengan perbuatan kecil yang dengan lancang kita sebut “karya”.

Apa yang hendak kita sombongkan, jika Imam An-Nawawi menulis Syarh Shahih Muslimyang setebal itu sedang beliau tak punya sejilid pun kitab Shahih Muslim? Hanyasanya beliau menulisnya berdasar hafalan atas Shahih Muslimyang diperoleh dari Gurunya, lengkap dengan sanad inti dan sanad tambahannya.

Sanad inti adalah perawi yang menyampaikan hadits antara Imam Muslim sampai Rasulullah. Adapun sanad tambahan yakni mata-rantai periwayatan dari An-Nawawi hingga Imam Muslim. Jadi kita dapat membayangkan; ketika menulis penjabarannya, An-Nawawi menghafal 5.326 hadits sekaligus sanadnya dari beliau ke Imam Muslim dengan sekira 9-13 tingkat gurunya; ditambah hafal sanad inti sekitar 4-7 mata rantai rawi. Yang menakjubkan lagi; penjabaran yang beliau anggit disertai perbandingan dengan hadits dari kitab lain, yang jelas dari hafalan sebab beliau tak mendapati naskahnya, penjelasan kata maupun maksud dengan atsar shahabat, tabi’in, dan ulama; munasabatnya dengan ayat dan tafsir, istinbath hukum fiqh yang diturunkan darinya; dan banyak hal lain lagi.

Hari ini kita menepuk dada; dengan karya yang hanya pantas jadi ganjal meja beliau, dengan kesulitan telaah yang tak ada seujung kukunya. Hari ini kita jemawa; dengan alat menulis yang megah, dengan rujukan yang daring, dan tak malu-sedikit-sedikit bertanya pada pada mesin pencari.

Kita baru menyebut satu karya dari seorang ‘Alim saja sudah bagai langit dan bumi rasanya. Bagaimana dengan kesemua karya dari satu orang ini yang jangan-jangan hingga umur kita tuntaspun takkan habis dibaca? Bagaimana pula para ulama lain yang kedahsyatan warisannya dan upayanya menyusun karya bahkan lebih dahsyat dari Imam An-Nawawi?
Bagaimana kita mengerti kepayahan seorang penyusun kitab Musnad, Sunan, Thabaqah, atau Jami’ush Shahih pada zaman yang untuk memndapat satu hadits saja para muallifnya harus berjalan berbulan-bulan? Bagaimana kita mencerna, bahwa dari nyaris satu juta hadits yang dikumpulkan dan dihafal seumur hidupnya; Al-Bukhari memilih sekira 7.008 saja? Atas ratusan ribu hadits yang digugurkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi misalnya; tidakkah kita renungi, bahwa hampir pasti semua ucap dan tulisan kita jauh lebih layak dibuang?

Detak-detik hidup macam apakah yang lapis-lapis berkahnya sepadat itu?

Minggu, 31 Juli 2016

Salok pada Biak

Niat awalnya, mau nulis ‘beneran’ tentang kalian. Tapi di tengah perjalanan, rindu sudah memuncak. Draft ditutup berganti dengan foto kalian yang melayang-layang. ~















Apa kabar kalian disana, dek? Baik-baik kah?
Kakak salok inyan dengan kalian :’)
Belajar yang rajin, ya. Jangan lupa sholatnya. Patuh sama orangtua di rumah.
Kelak kite nak jumpa agek ie... ^^

Yogyakarta, 31 Juli 2016 00:05
Yang sedang memilin rindu,

Andika Putri Firdausy

Sabtu, 30 Juli 2016

Tiga Perlima Indonesia

Indonesia ini, luaaas sekali. Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang jaraknya 5428 km, lebih dari 75% jari-jari Bumi. Terdiri lebih dari 17.000 pulau sehingga menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantainya, terpanjang nomor empat di dunia. membentang lebih dari 80.000 km. Kalau yang saya lihat dari video di GNFI nih, kita sampai butuh waktu 37 tahun (tiga puluh tahun meeen!!!) untuk genap menjelajahi seluruh pulau di Indonesia jika setiap hari kita berpindah pulau (linknya disini). Lantas, jika Indonesia aja seluas itu, Bumi ini apa? Lalu Saturnus? Jupiter? Bagaimana dengan Matahari? Bima Sakti? Ooh baiklah, semua itu membuat kita semakin kecil. Kecil hingga tak terhingga. Sungguh Allah Maha Besar.

Oleh karena kita ini sudah kecil, boleh lah ya punya mimpi-mimpi besar. And yes, one of my big dream is Keliling Indonesia! At least, ke lima pulau besar di Indonesia lah~

Saya ini orang Jawa asli, dan tinggal di Jawa. Sekolah juga di Jawa dari TK sampai kuliah. Lalu, apakah berhenti sampai disitu? Penak men, jelas tidak. :D Tentu saya tidak akan membiarkan mimpi saya keliling Indonesia menguap begitu saja. Satu-satunya yang terlihat nyata adalah program di UGM yaitu KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebentuk program pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. And yes, pastilah saya memilih ke luar Jawa.
*abaikanjudulnya*

Kenapa?

Rabu, 27 Juli 2016

Hanya Antara Kita

-Hanya Antara Kita-

Jangan bertanya bagaimana awal pertemuan kita. Semua hanya antara kita.
Aku sendiri juga tidak dapat menjelaskannya dengan baik. Awalnya, kita hanya sering berjumpa, menghadapi masalah yang serupa, dan berujung pada kegalauan yang sama. Pada akhirnya Ia yang mengumpulkan kita.
Bersama, memang membuat kita berjalan lebih lamban dari biasanya. Tapi, itu hanya terkadang saja. Lebih banyaknya, kita justru membuat lompatan-lompatan, atau bahkan menemukan jalan pintas diantara rerimbunan cabang-cabang permasalahan.
Dari sekian banyak jalan, kita melewatinya satu per satu. Kadang kita perlu berlari, berjalan merangkak bahkan merayap, atau sesekali perlu memutar jalan kembali.
Apakah kita berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak. Tidak sampai kita akan berhenti di tujuan kita yang sebenarnya. Tujuan terbaik menujuNya.
Untuk kalian, untuk kita. Tetaplah berjuang sampai titik darah penghabisan. Jika kita tidak lagi bersama, pasti Ia akan  membersamai kita.

Bangil, 27 Juli 2016 08:18
Sesaat sebelum kembali,

Andika Putri Firdausy a.k.a

Sabtu, 23 Juli 2016

Langkah Pertama

Bagian 1: Masa Anak-anak

Tetiba saya jadi ingat pengalaman pertama saya mengikuti lomba karya tulis di jenjang perkuliahan. Titik awal yang mengantarkan saya ke diri saya yang sekarang. Titik pertama perjuangan yang manisnya saya rasakan sekarang, menjadi bumbu tersendiri pada perjuangan kehidupan saya ke depan. Dan, saat pertama selalu tidak pernah bisa terlupakan.

Sejak kecil, entah darimana asalnya, saya memang suka lingkungan yang kompetitif. Saya bukan orang yang ambisius, tapi suka pada tantangan. Saya yakin semua itu tidak mungkin mak benduduk gitu aja. Mungkin, orangtua saya mengiternalisasi saya dengan ‘racun’ bermanfaat  tertentu sehingga saya seneng banget sama yang namanya ikut lomba. Apa karena saya orangnya PD? Hmm, not really. Mungkin kelihatannya saja saya orangnya cukup PD untuk berbicara dan tampil. Padahaaaal; semua itu terpaksa #ups. Jangankan ngomong di depan, nanya ke guru atau dosen aja saya keringetan dingin, bahkan sampe gemetar. Tangan saya bakalan basah, kalau memegang jantung udah deg-deg tidak karuan. Apalagi kalau sampai bicara. Saking bergetarnya, kadang saya lupa tadi saya bilang apa. Hahaha. Ssst jangan bilang2 ya :p

Oke, balik ke lomba. Sewaktu SD, saya sukaaak pake buangets sama mathematics. Saya tidak tahu ini berhubungan atau tidak dengan ibu saya yang guru matematika hahaha. Tapi lebih dari itu, saya suka tantangan dan logika. Yap, mengerjakan soal matematika adalah teka-teki hidup yang sangat saya sukai. Saya suka nggethu sendiri ketika mengerjakan soal. Pesaing Partner saya sewaktu lomba di SD kebanyakan adalah para lelaki yang satu kelas sama saya. Hahaha iya, kebanyakan matematika ini memang lebih digandrungi (dan well, dikuasai) oleh para lelaki. Mereka emang pinter-pinter sih logikanya. Tidak heran kalau sampai sekarang teman SD saya yang masih sering komunikasi kebanyakan laki-laki. Dari TK, SD, SMP, sampai SMA kami sekelas. Hastagah, ini gara-gara nggak ada sekolah lain kali ya :p

Masa-masa SD adalah masa ‘keemasan’ saya (soalnya lebih dikit saingannya dibanding SMP, SMA, apalagi kuliah :p). Saya lagi hobi-hobinya belajar, waktu itu. Beda dengan setelah SD. Hampir setiap hari orangtua mendampingi kami belajar. Dari mengerjakan PR, mengerjakan soal di buku, sampai tebak-tebakan. Bahkan ada satu tebak-tebakan parikan basa jawa yang sampai saat ini saya ingat: Pak Boletus, Tepak Kebo Lelene Satus! Hahaha betapa saya (dulu) sangat suka pelajaran ini.

Seingat saya, saya mulai ikut lomba-lomba sewaktu kelas tiga SD. Ehm, mungkin matematika, entahlah saya lupa. Yang saya ingat, SD ini masa-masanya saya sama sekali tidak bisa diam. Masa dimana lagi aktif-aktifnya saya. Ikut ini-itu, main ini-itu, rasanya ga pernah capek. Sepertinya benar bahwa kita harusnya mencontoh semangat dari anak-anak karena mereka selalu bersemangat. Juga pantang menyerah. Gagal? Coba lagi. Gagal lagi? Coba terus!!

Waktu itu saya kelas empat SD. Beberapa dari kami mewakili sekolah untuk mengikuti lomba siswa berprestasi tingkat kecamatan. Di tingkat kecamatan, masing-masing dipilih tiga besar putra dan putri untuk mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Alhamdulillah waktu itu saya berada di tingkat pertama. Semenjak itu, mendadak saya jadi semakin banyak ‘job’ –a Saya diminta oleh Guru saya untuk menjadi ketua kelas. Tentu saja untuk melatih jiwa kepemimpinan saya (yaelah, anak SD pake jiwa-jiwa segala haha :p). Kebayang nggak kalau saya jadi ketua kelas? Hahaha, yaps, benar sekali: galak! :D Sampai sekarangpun, saya termasuk manusia paling alot kalau disuruh ngelanggar aturan. Kalau udah A, ya A, tidak bisa ditawar. (Semoga aturanMu juga kutegakkan dengan benar, ya Rabb :”). Termasuk dalam hal kedisiplinan di dalam kelas.

Setelah memberikan tugas, sudah biasa, guru akan meninggalkan kami barang sejenak. Entah ada rapat, atau sekedar ada keperluan di kantor. Dan, tentu saja sebagai ketua kelas, saya ‘diamanahi’ untuk mengontrol keadaan kelas. Guru akan bilang, “Teman-temannya jangan boleh rame, ya”. Dan, itu artinya, sesiapa saja yang mengganggu ketenangan di dalam kelas akan menjadi ‘mangsa’ saya. Kata-kata andalan saya adalah: Hee rekk ojok rame! Sing rame tak catet!!!” (Teman-teman jangan berisik! Yang berisik nanti kucatat!!!). Jangan bayangkan muka galak saya waktu itu hahaha. Yang jelas, namanya juga anak SD, mana ada yang bisa diam, semua pada begidakan keliling kelas. Coret-coret papan lah, lempar-lempar an lah, ilok-ilok an (ejek-ejekan) lah, apapun akan menjadi sumber untuk mereka berisik dan mengganggu ketenangan kelas. Dan saya, grrr tentu saja tidak berhenti teriak: “Hee reekk ojok rame talaaa~” (Teman-teman jangan berisik dooong~); yang ujung-ujungnya bakalan berakhir saya hopeless dan akhirnya ‘cuma’ mengumpulkan segepok nama dalam selembar kertas. Saya sudah lupa pada akhirnya apa yang terjadi pada nama-nama di dalam kertas itu. Yang pasti, saya tahu mereka tidak melupakan kata-kata andalan saya tadi sampai sekarang. Hahaha, makasih lho rekk, maafkan teriakan-teriakan tidak berguna saya yang bahkan mungkin hanya menjadi angin lalu bagi kalian sewaktu itu wkwk.

Selain ‘didaulat’ menjadi ketua kelas, saya juga dilatih menjadi petugas upacara. Kalau biasanya jadi protokoler atau pengibar bendera, sekarang jadi pemimpin upacara. Mungkin saat itu saya sudah kelas lima (atau masih empat saya lupa); yang pasti waktu itu saya menjadi satusatunya pemimpin upacara perempuan. Setelah itu, jadinya hampir setiap pekan saya bertugas. Berpanas-panas apalagi kalau amanat pembinananya lama :D alhamdulillah tidak pernah pingsan. Paling-paling gerak-gerakkin jempol kaki dan teman-temannya kalau sudah mulai keringat dingin. Pernah saking pegalnya, pembina upacara sampai menyinggung saya pas menyampaikan amanatnya hahaha.
Masih banyaaak sekali cerita-cerita ‘unik’ sewaktu saya masih bocah heuheu. Nanti dilanjut di lain waktu yaaa, insyaAllah ^^
Ah ya, Selamat Hari Anak! :) Bagi saya setiap hari adalah Hari Anak. Karena setiap hari mereka akan bertumbuh dan berkembang menjadi generasi emas bangsa ini. Merekalah yang akan menjadi pilar-pilar penerus setelah generasi kita nanti. Mereka yang selalu menggemaskan dan bersemangat. Semoga kelak kita melahirkan anak-anak yang dapat bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa, juga menjadi pemberat amal bagi orangtuanya kelak di akhirat. Aamiin. *sambil elus-elus perut :p


Bangil, 23 Juli 2016 23:32

Seorang Anak dari Ibu dan Ayah,
Andika Putri Firdausy

Rabu, 20 Juli 2016

Wawasan Kebangsaan Masyarakat Perbatasan Perlu Diperkuat


Penguatan wawasan kebangsaan bagi masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia perlu dilakukan. Hal tersebut penting dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa. Pasalnya, wilayah perbatasan sangat rentah terhadap konflik dengan negara tetangga.
Sekelompok mahasiswa UGM tergelitik untuk mengetahui lebih dalam wawasan kebangsaan masyarakat di daerah perbatasan. Oleh karena itu, mereka melakukan penelitian mengenai wawasan kebangsaan di salah satu kawasan perbatasan yaitu masyarakat Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Teluk Melanau, Malaysia. Mereka adalah Deta Wijayanti, Andika Putri Firdausy, Indah Miftakhul Janah, Aqmal Nur Jihad, dan Luqman Fikri Amrullah.
Pada penelitian kali ini Deta dan teman-teman melibatkan siswa kelas 5 SDN 16 dan SDN 19 Desa Temajuk sebagai objek penelitian. Mereka meneliti wawasan kebangsaan para siswa tersebut melalui 3 indikator, yakni paham kebangsaan, rasa kebangsaan, dan semangat kebangsaan.

Deka menyampaikan dari hasil penelitian di lapangan diketahui bahwa tingkat wawasan kebangsaan siswa SDN 16 Temajuk tergolong sedang dan siswa SDN 19 Temajuk tergolong tinggi. Penelitian kuantitatif ini mampu mengungkap lebih jauh bahwa tidak ditemukan korelasi antara pemahaman terhadap kebangsaan dengan rasa dan semangat kebangsaan.
“Nilai paham kebangsaan di dua sekolah tersebut tergolong rendah jika dibandingkan dengan nilai rasa dan semangat kebangsaan,” ungkapnya, Selasa (19/7) di Kampus UGM.
Dijelaskan Deka terdapat beragam latar belakang yang menjadi penyebab tinggi rendahnya wawasan kebangsaan. Fenomena ini kemudian dapat dijelaskan melalui teori kebiasaan dan pembentukan perilaku. Beberapa faktor yang berpengaruh diantaranya aktor meliputi guru dan siswa, keluarga, sekolah, hingga lingkungan masyarakat.
“Faktor lingkungan menjadi sangat penting, utamanya di daerah perbatasan,” jelasnya.
Menurutnya, wawasan kebangsaan di wilayah tersebut perlu dilakukan. Tidak hanya itu, pemerataan pembangunan, khususnya pendidikan, harus ditingkatkan dan terus dilakukan hingga ke pelosok daerah.
“Dengan pemerataan pembangunan diharapkan mengurangi ketergantungan hidup pada negara tetangga sehingga meminimalkan kemungkinan warga untuk pindah kewarganegaraan,” pungkasnya. (Humas UGM/Ika)

Sumber: Web UGM 

Rabu, 22 Juni 2016

Seayat Ilmu


“Menuntut ilmu karena Allah adalah bukti ketundukan pada-Nya. Mempelajarinya dari seorang guru adalah ibadah. Melangkah menuju majelisnya adalah pembuka jalan surga. Duduk di tengah kajiannya adalah taman Firdaus. Membahasnya adalah bagian dari jihad. Mengajarkannya adalah tasbih. Menyampaikannya kepada orang yang tidak tahu adalah shadaqah. Mencurahkannya kepada orang yang berhak menerimanya adalah qurbah.”
– Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu,
dalam Lapis-Lapis Keberkahan,
Salim A. Fillah

Saya sedang membaca buku yang setelah sekian lama teronggok ini, dan, pada halaman itu, saya berhenti. Allah, betapa ilmu-Mu sangatlah luas...

Mungkin, kalau dibuat menjadi satu buku, tidak akan cukup menuliskan kisah skripsi-an saya (yang belum selesai) ini #halah. Tapi, for sure, kadang saya berpikir, kok, hidup gue drama banget, ya :p

Saya sekarang berada di titik, anggap saja semangat pake banget. Sampai saya berpikir mengundurkan tiket pulang gegara pengen ngendon baca buku di perpus (padahal buku di kos juga belum rampung wkwk). Akhirnya tidak jadi saya lakukan karena keburu dimarahin adek kalau nunda2 pulang, nanti me-ha-pe-in orangtua soalnya, hiks, saya nggak mau itu. #baper

Saya nulis beginian, selain biar blognya keisi :p juga biar menambah semangat saya sendiri. Karena, kadang saat kita lelah, kita butuh mengatur ritme sejenak, bukan terus berhenti selamanya. Membaca perkataan Muadz bin Jabal itu, saya jadi semangat. Iya, ya, bahkan ilmu saya nggak ada apa-apanya. Cuma seujung kuku semut aja. Hiks, sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan bahkan disebutkan.  Allah, betapa kecilnya saya...

Saya ingat ketika suatu pagi saya sedang mengulang satu mata kuliah. Dosen saya waktu itu mengatakan, ‘Kalian kuliah, itu juga amanah. Bukan hanya di organisasi aja amanah itu. Ketika kalian bersungguh-sungguh dalam kuliah, artinya kalian juga sudah menunaikan amanah dengan baik’. Jleb. Rasanya seperti ditampar. Allah, apakah sudah cukup pertanggungjawaban saya?

Ya Allah, ingat juga di istilah Jawa tentang ‘tirakat’ dan sebagainya. Terkadang ketika kita sampai di suatu titik puncak, bisa jadi itu bukan karena usaha kita, melainkan juga karena usaha orang-orang di sekitar kita. Kita tidak akan pernah tahu doa dan usaha siapa yang akan sampai dan diterima Allah, makanya, jangan pernah berhenti berusaha, berdoa, dan berbuat baik. Karena bisa jadi itu tidak akan berimbas ke diri kita, tapi mungkin ke keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita.

Ih, jadi kemana-mana -,-
Intinya, saya jadi kembali menata niat saya. Ilmu Allah-lah yang akan saya kejar, dan semoga itu menjadi pemberat amal saya ketika tidak ada hal lain yang bisa saya ‘ajukan’ pada Allah di peradilannya kelak. Semoga, jalan dalam menuntut ilmu ini, bisa bermanfaat bagi umat, dan kelak dapat saya pertanggungjawabkan. Kalau dari yang saya kutip di blognya Mba Dewi,
“You are the author of your own book on the Day of Judgement. Make sure it is well worth reading!”

Ini juga sih yang membuat saya kekeuh pengen S2 dulu sebelum kerja. Saya pengen mengexplore ilmunya Allah yang luas itu. Dan semoga dengan itu, bertambahlah keimanan saya. Dan dengan ilmu itu pula, saya bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Bismillah ya, biidznillah.

Mungkin, saya hanya seonggok daging yang bernafas dan bergerak. Tapi semoga, ilmu menjadikan saya manusia yang lebih bermanfaat dan berharga di mata Allah. Saya juga ingat nasihat Ibu suatu ketika, ‘Nduk, ilmu itu akan mengangkat derajat seseorang. Semangat, ya!’ Ah, Ibu. Semoga kelak Allah pertemukan kita dengan keadaan terbaik di surgaNya, seperti nama yang telah Ibu dan Ayah sematkan padaku.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita nikmat dalam menuntut ilmu. Menelusuri setiap hikmah di balik Kalam-Kalam Al-Qur’an juga ayat-ayat kauniyahNya. Semoga kita menjadi pejuang-pejuang ilmu yang senantiasa mengamalkannya. Kalau kata Ustad Salim di bukunya, ‘Di lapis-lapis keberkahan, ilmu adalah pengikat kebajikan‘. Semoga kita menjadi insan berilmu yang senantiasa menebarkan kebajikan. Dan dasar ilmu kita berawal dari Al-Qur’an.

22 Juni 2016 / 17 Ramadhan 1437
Sang Pejuang Ilmu,


Andika Putri Firdausy

Senin, 20 Juni 2016

Melangitkan Doa

Ramadhan sudah separuh berlalu, apa saja yang sudah kita lakukan? :”

Kesibukan dunia seringnya melenakan kita. Kalau bukan kuliah, organisasi, atau hal ‘sesepele’ hobi. Semuanya. Padahal, Ramadhan ini waktu yang hanya ada seperduabelas dalam setahun, dan, belum tentu tahun depan kita bertemu lagi. Banyaaak sekali kelebihan dari bulan ini. Bulan penuh ampunan, bulan dimana pahala amalan dilipatgandakan, bulan dimana setan-setan dibelenggu...

Sebelum Ramadhan sampai, doa saya hanya satu, Allah sampaikan saya di bulan suci ini. dan alhamdulillah, Allah masih mengizinkan saya bertemu dengan Ramadhan :)

Di awal bulan Ramadhan, suatu ketika saya sedang berbuka bersama. Bahasan kami sore itu sederhana, tentang doa. Selain di waktu-waktu ijabah seperti berdoa di hari Jumat, berdoa diantara adzan dan iqomah, berdoa saat sujud dalam sholat, berdoa saat hujan, dan lain-lain, bulan Ramadhan ini juga waktu yang sangat tepat untu memperbanyak doa. Bahkan sore itu, kami disarankan untuk menge-list semua doa yang akan kita panjatkan sepanjang Ramadhan. Entah doa itu berkaitan dengan dunia atau akhirat, untuk diri sendiri maupun keluarga kita atau bahkan orang lain. Siapa tahu, Allah akan segera menjawabnya dalam waktu dekat.

Doa, adalah salah satu interaksi yang sangat intim antara hamba dengan penciptanya. Komunikasi melalui doa adalah percakapan terindah yang tidak bisa diwakilkan. Hanya kita dengan Nya.

Bulan Ramadhan, adalah salah satu waktu terbaik untuk semakin banyak melangitkan doa. Bukan hanya karena banyaknya keinginan kita yang ingin segera tercapai, tapi lebih karena ingin semakin dekat denganNya. Bukankah, Ia lebih baik dalam membaca diri kita dan kebutuhan kita daripada kita sendiri?

Biarkan Ia merengkuh kita dalam doa-doa kita. Dan waktu sebagai perantara yang akan perlahan menjawab semua pertanyaan dan penantian kita. 
Ramadhan, saatnya melangitkan doa, dan mendekatkan diri padaNya. Selamat bermesra denganNya. :’)

20 Juni 2016/ 15 Ramadhan 1437
Yang merindukanMu, selalu,

Andika Putri Firdausy

Senin, 18 April 2016

Senin Bersama Ayah

My first love, and my heroes ever after, I just hope He gimme chance to give my best for you. Not only in this Dunya, but also over there, in Akhirah. 
Sepagi ini, tepat Senin yang lalu, aku dan Ayah baru saja kembali ke rumah. Sejak matahari belum menyingsing, kami mulai menelusuri jalanan pantura yang memadat di senin pagi. Matahari terbit di atas Sungai Brantaspun menyapa kami. Kokohnya Arjuna dan Welirang juga mengiringi langkah kami.

Ayah mengajakku berkeliling. Menikmati sepoi angin dan rintik hujan di pagi hari. Pagi yang menyenangkan, bersama orang yang menenangkan.
Sebenarnya, tujuan utama kami berjalan-jalan adalah untuk survei pra lapangan scriptsweet. Ayah rela memotong jam kerjanya untuk mengantarkanku. Ya, hanya Ayah yang bisa mengantarku kesana-kemari. Satu-satunya lelaki yang sampai saat ini kujatuhkan hatiku padanya. Ia yang selalu memesona dan bersahaja.

Kami berjalan menyusuri Sungai Porong, anak Sungai Brantas, yang mengarah ke laut di Kecamatan Jabon. Sungai ini pula yang menjadi salah satu outket luapan lumpur Lapindo yang saat ini tengah menjadi subjek penelitianku. Ayah menunjukkan aku banyak hal, yang bahkan tidak aku temui di tumpukan buku di rak perpustakaan, atau lembaran-lembaran jurnal yang telah ku cetak. Ayah mengajarkan lebih dari semua itu.

Tempat kami berpijak memang sudah tidak asing lagi bagi Ayah. Dulu, hampir 26 tahun yang lalu saat Ayah masih bujang, Ayah pernah bekerja disini, menjadi juru administrasi di tambak milik Pak Malik. Namun sekarang, kantor Ayah sudah berubah menjadi warung. Akan tetapi, tambak-tambak ikan dan udang itu masih lestari sampai saat ini.
Kami berjalan mendekati sungai. Ayah menunjukkan Pulau Dem yang merupakan endapan sedimen sejak belasan atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Saking luasnya, 'pulau' ini sudah ditumbuhi banyak mangrove dan bahkan banyak warga melakukan aktivitas disana. Beberapa perahu/sampan sengaja disewakan untuk menyeberang ke pulau ini. Kami juga bertemu dengan seorang bapak yang bekerja membangun dermaga disana. Dermaga lokal, mungkin milik salah seroang pemilik tambak disana, kata Ayah.

Matahari mulai meninggi. Kami tidak bisa berjalan terlalu jauh karena akses yang kurang memadai. Selain itu, Ayah sudah terlambat pergi bekerja. Semakin lama, akan mempengaruhi presensi kehadiran Ayah di kantor. Setelah dirasa cukup, kami kembali pulang. Melewati jalan kampung untuk memotong jarak agar lebih cepat.
Rintik hujan dan terik mentari mengiringi putaran roda motor kami. Sesekali kami menyapa warga yang sedang beraktivitas menuju tambak atau sawah. Kami menikmati saat-saat berharga ini. Aku, lebih tepatnya.
 
Kemarin Ibu mengabarkan bahwa Ayah sedang sakit, mungkin kelelahan karena hampir setiap pekan Ayah tidak pernah di rumah. Ada saja hal yang harus diselesaikan Ayah. Ah, Ayah selalu begitu. Tidak pernah merasa lelah dan tidak akan mau beristirahat meski hari libur sekalipun. Semua itu tidak pernah menghalangi Ayah untuk beraktifitas. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan nikmat iman dan sehat pada Ayah.

Allah, jagalah Ayah, juga Ibu. Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.

Desember, 2015 - Merapi
Like father like daughter. I love you from the moon to the sky, and back, Ayah.


Yogyakarta, 18 April 2016 08:00

Love,
Your copied-oldest-daughter


Sabtu, 20 Februari 2016

Baru Kemarin Sore

| Syudah terlalu lama aku meninggalkanmu, Nak... *bersihinsaranglabalaba* :3

Time flew so fast that we didn't realize...

Sadar ga sih, kalau waktu itu terasa cepat sekali berlalu?
Suatu kali, saya sedang berbincang dengan adik angkatan yang masih bau kencur, hehe. Masih muda banget kalau dibanding dengan saya. Dia masih angkatan tahun pertama di Geografi. Sedangkan saya? Ah sudahlah. :"
Kami ngobrol ngalor-ngidul, mulai perkuliahan, organisasi, sampai ke mimpi. Di tengah perbincangan, lalu dia nyeletuk, "Mbak, bentar lagi Mbak lulus ya." Glek. Pertanyaan yang cukup menohok bagi saya.

Mengapa kata 'lulus' ini sedemikian menghantui? Seakan baru pertama mendengar dan tidak ingin mendengarkannya lagi. Lulus adalah keniscayaan bagi seorang mahasiswa dimanapun ia berada. Ia adalah sesuatu yang pasti harus dikejar dan diselesaikan. Akan tetapi, tak perlu jua terus diperdengarkan ulang, bukan?

Rasanya, baru kemarin sore Ayah mengantarkan saya ke Jogja dengan menaiki mobil travel. Rasanya baru kemarin sore kami datang shubuh-shubuh di UGM tanpa ada kerabat satupun. Rasanya baru kemarin sore seorang malaikat bernama Pak Rohman menawari kami untuk mampir ke rumahnya sekedar bersiap-siap registrasi setelah lelah perjalanan seharian.

Rasanya baru kemarin sore saya mencari kos ditemani Tante Rini hingga saya hampir pingsan kelaparan. Rasanya baru kemarin sore saya diantar Ayah, Ibu, dan Adik saya ke kos baru dan berkenalan dengan para penghuninya disana. Rasanya baru kemarin sore saya dan Uni Ella, Uni Dina, Mbak Erlin, Mbak Adah, Ririn, Mba Usi, Mbak Neni, Mbak Fifi, Mbak Ufi, kami terbahak-bahak menonton reality show di ruang keluarga kosan kami. Rasanya baru kemarin kami foto studio bersama untuk mengantarkan salah satu diantara kami pulang ke tanah asalnya. Rasanya baru kemarin saya berpamitan dengan Bu Bodro dan Pak Ingin untuk berpindah ke tempat yang lebih baik untuk saya.

Rasanya baru kemarin sore saya mencari kosan baru diantar oleh Ima. Rasanya baru kemarin sore saya berkenalan dengan Bu Tuti dan Bapak lalu memutuskan untuk menetap disana. Rasanya baru kemarin sore saya diajak Ibu makan berdua di KaliMilk dan Nungong Jeumpa. Rasanya baru kemarin sore saya kenalan sama Mbak Tia dan Mbak Tari yang baik. Rasanya baru kemarin sore Pak Jo membetulkan lampu depan kamar saya. Rasanya baru kemarin sore abu Gunung Kelud berhasil memutihkan kamar saya dan Mbak Tia hingga kami mengalami petualangan yang menghebohkan. Rasanya baru kemarin sore saya kekunci di kosan sendiri hingga jam dua pagi. Rasanya baru kemarin sore saya serasa memiliki istana ketika Ibu dan Bapak pergi ke Jakarta. Rasanya baru kemarin sore ketika saya kembali harus memutuskan untuk berpindah ke tempat yang lebih baik untuk saya.

Rasanya baru kemarin sore saya wawancara dengan Umi di ruangan yang sekarang kami sebut RBU itu. Rasanya baru kemarin sore akhirnya Ayah dan Ibu memberikan restu untuk saya kembali berpindah. Rasanya baru kemarin sore saya dibantu Ima mengangkut berdus-dus barang dan kembali menatanya di ruang baru. Rasanya baru kemarin sore saya berkenalan dengan Ammah Ela dan Ammah Firda yang menyambut saya pertama kali. Rasanya baru kemarin sore kami berempat, santri 'baru', berkenalan di depan puluhan santri lainnya di class meetingRasanya baru kemarin sore saya 'berkenalan' dengan para asatidz; Ustadz Deden, Ummi Isma, Ustadz Ahmad Dahlan, Ustadz Sunono, Ustadz Talqis, Ustadz Tulus, Ustadz Syafi'i, Ustadz Darlin, Ummi Widi, Ummi Habibah. Rasanya baru kemarin sore saya sekamar dengan Vio. Rasanya baru kemarin sore saya lalu pindahan kamar dan sekarang berdua dengan Mbak Awi. Rasanya baru kemarin sore saya dan Nana mengejar-ngejar kereta dengan kecepatan gilaRasanya baru kemarin sore kami rihlah naik bis ke luar kota. Rasanya baru kemarin sore saya tertidur dan bolos kelas. Rasanya baru kemarin sore saya merasa sangat lelah dan jenuh menjalani semua rutinitas. Rasanya baru kemarin sore pula saya sangat bersyukur bisa 'terjerembab' di tempat ajaib ini.

Rasanya baru kemarin sore...

Memori tiga setengah tahun itu kembali berputaran. 
Menari-nari lincah di dalam kepala yang penuh pikiran berjejalan.
Saya kembali merunut semua yang telah saya lalui, yang saya alami, yang saya rasakan.

Dan sekarang saya berada disini, sedang menuliskan ini.

Ah, waktu begitu cepat berlalu.
Begitu saja kita melalui banyak tempat, menemui banyak orang, melakukan banyak hal.
Tapi, apakah sudah cukup yang kita lalui? Apakah sudah cukup yang kita temui? Apakah sudah cukup yang kita lakukan?

Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. [QS. Al-'Ashr: 1-3]

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak merugi.



Muzdalifah 8,
Yogyakarta, 20 Februari 2016 09:09 AM


Andika Putri Firdausy
a.k.a Putri Pejuang