Minggu, 08 November 2015

Rindu pada Biak

Jendela Dunia - dari Ruang Belajar Sempadan, Agustus 2015
Sore ini, hujan gerimis mengguyur kota pelajar untuk pertama kalinya setelah lama kering kerontang. Beberapa hari terakhir mendung memang selalu mengiringi, namun bulir air langit belum juga turun. Hanya gerah semalaman yang terasa karena awan masih terus menggantung di atas langit, tetapi belum juga genap terkondensasi. Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Sore hari begini, akan terasa lebih nikmat dengan menyeduh teh panas ditemani sekaleng biskuit dan sebuah buku di rumah. Bayang-bayang teh manis panas segera menyeruak memenuhi kepalaku, kerongkongan yang kering kemudian mengaminkan otakku.

Aku ingin segera sampai di rumah. Lampu merah ini sungguh menghambat perjalanan. Sebenarnya tidak, mungkin kendaraan di depanku saja yang begitu. Berjalan teramat pelan dan menutupi jalan, sedangkan di depannya tidak ada satupun kendaraan yang merintanginya. Ah, yasudahlah, mungkin ia sedang ingin bermesra dengan rintik hujan sore ini.

Kupacu motorku sedikit lebih kencang, enggan jika tubuhku basah kuyup. Terlalu banyak benda yang tidak boleh terkena air di dalam tasku. Dan aku sendiri enggan kedinginan, lalu masuk angin yang justru akan menggagalkan semua agenda yang telah disusun. Aku memainkan gas motor dengan sangat lincah. Sedikit kencang, lalu kemudian pelan. Meliuk ke kanan, kencang sedikit, lalu kembali perlahan. Begitu seterusnya. Aku menikmati perjalananku sore ini, dengan rintik hujan dan angin sepoi yang menemani.

Di lampu merah kesekian aku berhenti. Pas sekali, setiap aku hampir sampai di persimpangan, rona hijau di deretan traffic light itu segera berubah menjad merah. Sepertinya Allah ingin menguji kesabaranku, atau mungkin hujan sedang rindu denganku. Aku segera berhenti dan merapikan barisan motorku. Tak lama segera kumatikan mesin motorku karena durasi menuju lampu hijau masih cukup lama. Sambil mengamati sekeliling, sayup-sayup terkedang suara dari pengeras masjid/mushola terdekat. Suara anak-anak kecil yang sedang memanggil temannya untuk mengaji di surau – TPA. “Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman yang mau mengaji sudah ditunggu oleh teman-temannya..Yu..da Fa..jar, I..na, Me..ga,.... “. Dan tiba-tiba pikiranku melayang ke suatu sore di ujung sana...
~~~
Di Kota Pelajar ini, mereka – anak-anak TPA—selalu perlu untuk memanggil terlebih dahulu teman-teman mereka yang mau mengaji di surau melalui pengeras suara surau. Entah karena semangat mereka yang menggebu, atau karena belum ada yang datang. Aku juga tidak tahu pasti. Hanya saja, ini cukup berbeda dengan keadaan di luar sana.

Terkadang aku merasa semua ini cukup membingungkan; kalau aku tak boleh menyebutnya tidak adil. Betapa tidak? Bahkan di pelosok sana, sebagaimanapun cuaca, mereka bahkan selalu datang tepat waktu, bahkan lebih awal dibandingkan kami. Mereka rela menunggu berjam-jam, yang bahkan kami baru datang ketika waktu sudah hampir habis. Mereka rela menunggu, berlama-lama, ‘hanya’ untuk sedikit ilmu yang akan mereka dapatkan. Entah itupun apa. Rasanya, hati ini seperti teriris. Di Jogja, banyak sekali majelis ilmu dan TPA untuk anak-anak. Banyak sekali asatidz yang ‘rela’ menunggu anak-anak untuk mengaji, tetapi tidak sedikit yang enggan. Sedangkan jauh di luar sana, sadarkah, bahwa banyak anak-anak yang mau dan sangat ingin, bahkan sangat membutuhkan, tetapi tidak ada yang bisa mereka dapatkan? Fasilitas sangat terbatas disana, bahkan seorang gurupun sangat berharga.

 Di satu dusunku, terdapat puluhan anak keil, tetapi hanya ada satu surau aktif yang digunakan untuk belajar mengaji. Akan tetapi keadaan di dusun ini cukup baik karena ada Pak Haji yang bersedia mengajarkan mengaji kepada anak-anak. Hampir setiap hari mereka mengaji, tidak terbatas hanya di bulan Ramadhan saja. Saat kami berada di sana, mengaji mereka berubah menjadi dengan kami, bukan dengan Pak Haji disana. Mereka adalah anak-anak yang semangat dan ceria. Mereka selalu menebarkan kebahagiaan di muka-muka lelah kami setelah seharian mengerjakan program yang lain. Mereka juga biak-biak yang setia. Setia menunggu kami yang entah kapan datangnya. Kadang kami lupa, atau bahkan kadang kami sengaja pergi karena kelelahan. Tetapi mereka senantiasa sabar menunggu kami demi sesuap ilmu dan berkah yang mereka harapkan.

Ah, kalian dek. Senyum yang begitu tulus. Mata yang begitu berbinar. Maafkan kakak iie belum bisa menjadi kakak yang baik. Kakak sayang dan rindu kalian, dek... :’)


[7 November 2015 - To be continue...]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar