Selasa, 07 April 2015

KAMU

Waktu yang mempertemukan.

Kita tidak akan pernah tahu arti sebuah pertemuan, apakah itu awal dari kesuksesan kita, atau justru kehancuran kita. Waktu itu sekitar bulan September 2013, ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam kotak masuk HP saya. Nomor yang tidak dikenal, mengenalkan dirinya sebagai adik angkatan yang ingin berkenalan dengan saya. Menarik, dari mana anak ini tahu nomor saya? Mengapa dia tetiba sms saya? Beragam pertanyaan menghantui, tapi toh waktu itu saya sedikit acuh, karena dia sendiri juga sibuk, berkali-kali diajak bertemupun belum bisa. Ya sudahlah, mungkin belum waktunya.
Pucuk  dicinta ulampun tiba, akhirnya pada suatu hari kami bertemu. Di suatu sore sebuah pesan kembali masuk, akan tetapi dengan nomor yang berbeda, mengajak bertemu dengan saya dengan mengaku sebagai teman si anak pertama. Sebut saja anak kedua ini Pipit dan anak pertama itu Isna. Akhirnya, di sudut Mushola Al-Ardhu saya bertemu dengan Pipit. Setelah ngobrol sebentar kami sepakat untuk bertemu lagi.

Suatu sore kami bertemu berlima: Saya, Pipit, Isna, dan dua teman saya lainnya yang sudah terlebih dahulu saya kenal dengan baik, Ima dan Azza. Kami duduk dengan menyewa selasar fakultas seberang, lalu bercerita tentang diri kami, dan juga mimpi kami. Pertemuan pertama kami berlima memang tak serta merta membuat hati kami saling terpaut, akan tetapi awal itulah yang membuat kami, saya, hingga sampai saat ini berdiri disini.

Singkat cerita kami berada dalam sebuah keadaan dimana kami mendaftarkan paper kami ke dalam sebuah konferensi di salah satu Universitas di Jepang, dan kami diterima. Jutaan syukur kami panjatkan. Akan tetapi di balik kesyukuran itu, tentu perasaan terusik akan datang lebih besar. Bingung, takut, terlampau bahagia, dan berjuta perasaan lainnya. Di tengah kesibukan akademik dan kepanitiaan, saya sendiri merasa semester tiga adalah semester ter-hectic. Dalam kurun waktu tiga minggu saya berada dalam tiga kepanitiaan besar tingkat nasional, juga berada dalam masa-masa pasca UTS dan menghadapi responsi serta kesibukan akademik lainnya, serta, kesibukan baru kami: menyiapkan segala sesuatu mengenai konferensi tersebut.

Persiapan pertama dimulai dengan mencari sebanyak-banyak informasi mengenai Jepang, Kumamoto, dan segala seluk-beluknya. Mulai dari passport, visa, proposal pengajuan dana, tiket dan penginapan, PPI Jepang, dan semuanya. Pembagian tugas pun dilaksanakan. Saya, seperti biasa berada di bagian administrasi, bagian kerja lainnya lebih dibagi ke dalam sub-sub tugas. Misalnya dalam menghubungi pihak sponsor, kami akan membagi rata jatah menghubunginya, dengan asumsi jadwal kuliah sama. Kamipun tak segan meminta tolong jika yang lain sedang beramanah di tempat lain, toh ini semua juga untuk kami sendiri. Kami hanya ‘bekerja’ atas dasar kekeluargaan.

Di tengah hiruk pikuk akademik yang semakin membelenggu menuju Ujian Akhir Semester, kami diharuskan untuk memilih. Berbagai pengorbanan kami lakukan, mulai dari bolos kuliah, izin rapat, inhal praktikum, sampai harus merelakan tabungan bertahun-tahun yang telah saya kumpulkan lewat begitu saja. Ya, di akhir tahun sekitar bulan November-Desember, banyak perusahaan dan institusi yang sudah tutup tahun anggaran sehingga membuat kami sulit bergerak mencari sponsor. Selain itu, keterbatasan ruang dan waktu yang membuat kami juga tidak bisa begitu saja pergi mengunjungi kantor-kantor tersebut. Akhirnya, setelah meminjam sana-sini dan menguras tabungan, kami berhasil memenuhi sejumlah uang untuk keperluan kami disana, termasuk tiket, dan mengolah nilai di rekening agar dapat memenuhi syarat untuk membuat visa Jepang.

Hal besar memang selalu membutuhkan pengorbanan, dan itulah yang kami selalu kami jadikan pembakar semangat. Hingga sampai pada suatu titik, sekitar 10 hari sebelum hari keberangkatan dan kami belum memiliki visa. Agen yang adapun tak dapat dijagakan. Akhirnya, di tengah kuliah dan praktikum yang masih berjalan, dengan terpaksa kami harus membolos dan pergi ke kantor kedubes di Jakarta. Akan tetapi kami tidak bisa berangkat berlima. Selain karena biaya yang lebih mahal, juga karena ada hal lain yang harus kami urus, hingga diputuskan bahwa yang berangkat hanya tiga: Ima, Pipit, dan Azza.

Senja di stasiun kota itu menjadi saksinya. Pecah sudah air mata. Entah mengapa saya menangis di tengah keramaian kota pelajar waktu itu. Ah, mengapa berat sekali rasanya melepas mereka. Sampai di titik ini saya merasa tidak kuat. Lelah sekali rasanya berjuang itu. Hingga sebuah tepukan di pundak menyadarkan saya dari lamunan, “Mbak kenapa?”. Ah, aku lebih dari baik-baik saja, kurasa.

Akhirnya kami berdua pulang, dan saya memang sudah benar-benar tidak kuat. Tubuh saya ambruk, kepala pening dan badan panas, ini sudah lebi dari cukup. Satu jam sebelum kuliah saya berangkat ke kampus, tetapi saya malah ketiduran di Mushola dan terbangun ketika Isna datang, “Mbak gak papa? Badan mbak panas banget. Makan sih mbak..” Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk makan. Dan bahkan hanya untuk makanpun saya butuh diingatkan. Ah, kalian.

Setelah perjuangan yang begitu keras, semuanya terbayar. Awan yang menari-nari di atas sayap pesawat itulah yang pertama kali membayar semua perjuangan selama ini. Lagi-lagi pecah. Tetapi kali ini adalah air mata kebahagiaan. Saya tertunduk dalam sujud, menghaturkan jutaan rasa syukur saya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Hingga sejuknya hawa musim dingin Jepang lagi-lagi membuat saya tersadar, betapa Allah itu Maha Baik. ‘Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang kamu dustakan?’

Perjalanan itu membuat saya sadar, bahwa persaudaraan itu dapat tumbuh. Sahabat itu yang saling mengingatkan dan menguatkan. Sahabat itu bukan yang saling mengiri, tapi yang saling memberi. Pun saya juga belajar bahwa hal besar tidak akan pernah didapatkan tanpa pengorbanan. Saya belajar dari mereka, orang-orang luar biasa. Ima, yang telah menyampaikan rindunya ke tanah Borneo. Azza yang telah mendedikasikan dirinya pada pendidikan anak-anak dan telah melesat ke Bogor. Pipit yang telah menggaungkan dan menyapa Kota Bandung. Dan Isna yang telah melanglangbuana ke seluruh Jawa dan Sumatera. Ingatlah kawan, rasa syukur bukanlah sekedar ucapan, tetapi lebih kepada apa yang bisa kita kerjakan. Persaudaraan ini, semoga bisa terus terjaga.

Lalu dimana aku berada?
Aku, masih setia, disini.


Yogyakarta, 19 Juni 2014 23:49

Andika Putri Firdausy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar