Kamis, 11 September 2014

Terimakasih "Pak Ogah"

Nyil Unyil Unyil Usrok ~ 
Mencoba menyelesaikan kalimat yang telah saya mulai berbulan-bulan yang lalu :D
Bismillah.
~~~
Ada yang tahu Pak Ogah?

Pak Ogah, salah satu tokoh dalam Si Unyil

Benar, Pak Ogah yang ada di film Si Unyil.
Mungkin ada yang akrab dengan kalimat, "Gopek dulu dooong..."
Yap, itu adalah kalimat andalan Pak Ogah jika akan dimintai tolong.
Akan tetapi yang menjadi bahasan saya kali ini bukan Pak Ogah-nya Unyil, melainkan Pak Ogah yang lain. Siapakah gerangan???

Lalu lintas yang semakin padat membuat beberapa orang enggan bepergian, terutama di saat musim liburan. Akan tetapi keperluan untuk sekolah, bekerja, dan hal lain yang tidak bisa ditinggalkan membuat sebagian besar orang harus rela bergulat dengan lalu lintas yang padat dan kemacetan. Hal ini tentu saja merupakan suatu hal yang dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama dalam jam-jam sibuk dimana semua orang berharap dapat lebih cepat sampai kepada tempat tujuannya.

Kita patut berterima kasih pada orang-orang ini, Pak Ogah saya menyebutnya. Kenapa? Karena Pak Ogah biasanya menerima uang "receh". Yap, yang saya maksud Pak Ogah disini adalah bapak-bapak yang membantu para penyeberang jalan. Di daerah saya sendiri, Bangil, Pasuruan, fenomena 'Pak Ogah' adalah hal biasa, bahkan menjadi kebutuhan bagi penyeberang jalan karena dapat membantu dalam mengatur lalu lintas kendaraan, terutama untuk menyeberang. Selain itu, bagi Pak Ogahnya sendiri, hal ini tentu sangat bermanfaat, terutama sebagai sebagai sebuah pekerjaan, baik pekerjaan utama maupun pekerjaan sampingan. Setidaknya, niat tulus bekerja dan menolong sudah ada di hati mereka. :)

Sumber gambar dari google ~
Receh demi receh. Rasanya terlihat mudah didapatkan. ~

Walaupun begitu, tentu ada risiko di balik setiap pekerjaan. Bukan berarti pekerjaan 'menyeberangkan jalan' ini mudah, justru menurut saya sangat sulit. Apalagi di daerah saya, yang notabene termasuk dalam jalur pantura yang sangat ramai, terutama pada pagi dan sore hari. Truk-truk dan tronton berjajar siap menerkam, kendaraan roda dua berjubel siap menerjang, pun kendaraan tak bermesin juga siap menerobos jalanan yang ramai. Ditambah, hampir tidak ada lampu merah atau traffic light di Bangil, saya rasa memang sudah tidak ada karena dianggap tidak efektif. Semua itu adalah tantangan yang dihadapi Pak Ogah setiap hari, setiap saat. Seakan, maut sewaktu-waktu bisa saja menyambutnya, meskipun pada kita juga sama sebenarnya.

Terkadang, saya merasa miris. Nasib orang-orang seperti Pak Ogah ini acapkali diabaikan. Tanpa pamrih menyeberangkan, tetapi tetap tidak ada yang peduli. Seringnya kita hanya 'numpang' menyeberang tanpa sedikit berterima kasih dengan memberikan haknya. Padahal, uang 1000 atau bahkan 500 perak yang sering kita abaikan, menjadi sangat penting bagi kehidupan Pak Ogah dan keluarganya. Setidaknya, Pak Ogah telah berusaha 'bekerja' sosial ini, bukan meminta-minta seperti orang-orang di luar sana.

Saya hanya ingin mengajak, yuk bersama-sama membantu Pak Ogah dan teman-temannya. Mungkin bagi kita tidak besar, tetapi bagi mereka tentu sangat berarti. Mungkin kalau di daerah perkotaan akan jarang ditemui Pak Ogah, tetapi akan banyak kita temui di daerah peri-peri. Ya, setidaknya anggap saja amal kita. Terlepas dari niat beliau-beliau apa, yang jelas, mereka jelas-jelas memberikan suatu kebaikan untuk kita dengan membantu menyeberangkan jalan. Semoga niat-niat baik kita, maupun Pak Ogah dibalas oleh Allah. :)

Yogyakarta, 11 September 2014
Andika Putri Firdausy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar