Minggu, 21 September 2014

Secuil Cinta dari Jogja

Putri’s Ramadhan Diary: Secuil Cinta dari Jogja

Bismillah. Alhamdulillah, its Ramadhan! ^o^

Hari ini, saya merasa menjadi manusia yang paling lemah. Paling berdosa. Paling hina. BETAPA TIDAK? Hari ini masih di dalam bulan suci Ramadhan, dimana amal baik dilipatgandakan pahalanya, dimana pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, dimana Neraka ditutup serapat-rapatnya, juga, dimana setan dan iblis dibelenggu. TAPI... Masih sempat-sempatnya saya bermalas-malasan dalam melakukan kebajikan? Astaghfirullah, ampunilah kami Rabb. Sungguh hanya Engkaulah Pembolak-balik hati kami...

RAMADHAN MASIH MALES2AN??? TERLALU! -,-“

***
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
***
Jogja itu... ISTIMEWA :3

Sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana bahagia dan bersyukurnya saya bisa berada di sini, menuntut ilmu disini, sampai saat ini. Terima kasih ya Allah, terima kasiiih sekali. *kedip-kedip* :D

Ramadhan tahun kemarin, saya sudah bertekad untuk ‘menghabiskan’ Ramadhan berikutnya di Jogja. Ya setidaknya lebih dari setengah jalanlah. Pokoknya, harus lebih banyak waktu Ramadhan di Jogja daripada di rumah. Selain karena kalau di rumah intensitas produktif akan menurun, juga, di sekitar rumah Ramadhannya sangat biasa saja jika dibandingkan dengan di Jogja. Serius. Semacam nggak bisa dibandingkan. Kalau di Jogja kaan, rame, banyak kajian, ah, pokoknya berasa bangetlah. Naah, karena biasanya orangtua agak susah dilobi soal kepulangan yang suka agak telat (karena saya bang thoyib yang jarang pulang :3), jadii harus pinter-pinter cari alasan buat pulang telat, hehe. Maaf nggih Ibuk dan Ayah sayaaang. Daan, akhirnya setelah pedekate sama Allah, saya punya alasan yang kuat sekali. Cling!

Selesai UAS tanggal 20 Juni, KKL tanggal 23-27 Juni, presentasi KKL tanggal 11 Juli. Duh, apa lagi ini alasan buat mundurin pulang? Naah, monev PKM tanggal 15-17 Juli 2014! Wah, pas banget ini. Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah. Akhirnya, bisa langsung beli tiket pulang tanggal 18 Julinya biar nggak ditanya-tanyain lagi, hehe, nggak enak juga sama orangtua sudah lama ditunggu ^^v.
Daan, Jogja di bulan Ramadhan, I’m ready!!!
***
Waktu itu masih minggu pertama Ramadhan, JMG (Jamaah Muslim Geografi) mengadakan kajian, buka bersama, dan shalat tarawih berjama’ah di Mushola Al-Ardhu di fakultas, ge-ra-tis! Alhamdulillah cukup rame, karena memang masih banyak mahasiswa geografi yang mengerjakan laporan KKL. Yah, namanya juga mahasiswa, paling mudah ditarik dengan kata ‘bebas bea’, terutama di Indonesia. Awalnya sih, agak gimanaa gitu. Lah kajiannya mulai jam 5, yang lain pada datang 5 menit sebelum maghrib, yo wis rampung to cah kajiane. Pernah juga ya, kan dapatnya kurma seplastik (2-3 buah), nasi bungkus, sama air mineral, nah terus diantara anak JMG tuh ada yang shalat Maghrib dulu baru makan. Eh malah pas pada shalat makanan, kurma, sama minumnya amblas, tinggal sisa satu yang emang sudah disendiriin. Ya Allah, ini mah, terlalu namanya broooohh. -,-“ Semoga Allah menerima amalan baik kita semua deh yaa~

Nah, ada satu lagi yang selalu membuat hati bergetar ketika mengingat...

Selepas shalat Ashar saya bermaksud pergi ke rumah Pak RT untuk mendaftarkan diri agar bisa memilih untuk tanggal 9 Juli. Setelah memutar mencari rumah beliau, ternyata kata si Bapak saya kudu ke KPU aja di Sleman untuk mengisi formnya. Gitu lah ribet. Akhirnya dengan membaca tasmiyah saya berangkat. Belum lima menit, hp saya getar. “Put, kamu bisa bantuin JMG gak, hari ini kita mau bagi-bagi ifthor nih”, masuklah sebuah sms dari rekan di JMG. Sek sek, lah, bukannya hari ini acaranya di mushola ya, makanya mau izin telat, kenapa malah...? Saya bingung sendiri. Akhirnya setelah membalas sms alakadarnya, saya meluncur ke kampus.

Sesampainya di kampus, ini apa yang mau tak bantuin, orang udah siap semua?, batin saya agak menggerutu. “Kita langsung ke Progo aja yuk, Put. Ini udah siap semua.” Toweweeng, oke lah saya ngikut aja kalau begitu. Sepanjang jalan saya masih bingung, ini sebenarnya mau kemana sih, mau ngapain, ada yang tahu jalan nggak sih, kok nggak ada yang ngejelasin, kok, kok, dan kok. Akhirnya saya diem, puasa Put, puasaa, mbok yang ikhlas kalau mengerjakan apa-apa.

Pas udah pada turun dari motor terus parkir, oalaah mau kesini toh. Jadi, kami berlima, saya, dua teman akhwat, dan dua teman ikhwan sedang berdiri di depan hamparan gelandangan. Yap, kami berada di sekitar toko Progo, itu yang gede banget, hypermart kali saya juga nggak ngerti. Pas baru turun bawa dua kardus sama kresek nih ya, orang-orang udah pada merhatiin sama ngeliatin gitu. Akhirnya kami berjalan ke arah jalan besar terlebih dahulu. Di dekat situ, ada sepasang suami istri pedagang angkringan. Kami menyapa, lalu memberikan ‘seperangkat’ ifthor. Awalnya saya ragu sih, mereka pada puasa atau nggak, soalnya setelah beberapa langkah kami pergi, terlihat sekilas ada yang lagi minum teh. Tapi kata teman saya, ‘udah lah, Put, yang penting kan niat kita karena Allah’. Benar juga ya, astaghfirullah. Sebesar atau sekecil apapun amal kita, sungguh tidak akan berarti jika niat kita tidaklah benar.

Setelah itu kami berbalik ke spot pertama, karena disana kami sudah ‘ditunggu’ banyak orang. Tanpa kami sadari, kami melewati seonggok daging manusia. Iya, itu memang manusia. Saking ‘absurdnya’ orang itu, sampai kami mau memberikan makanan saja ragu dan sedikit takut. “Mbak, kok aku ra diwenehi? Iki sing tenanan ra nduwe. Ora kaya kae, bakul angkringan, senengane ngentek-ngentekke panganan.” Glek, langsung tercekat rasanya. Ya Allah, maafkan kami Ibu, kami tidak bermaksud demikian. Hanya saja keberadaan Anda memang tertutupi oleh karung-karung rongsokan yang Anda kumpulkan. Sejenak kami merasa sangat tidak enak. Setelah meminta maaf dan memberikan makanan, kami undur diri. Emang sih ya, terkadang orang yang miskin itu yang nggak bilang kalau mereka miskin. Pun terkadang kita juga nggak peka. Ya Allah, semoga saya semakin peka dengan keadaan sekitar saya, maafkanlah kami ya Allah.

Kami sudah berpindah ke spot awal, daan, kami sudah dikerubungi banyak orang. Dua teman saya yang ikhwan sudah dadah-dadah karena kardus mereka sudah kosong. Dan gilirannya kami yang diserbu. Belum lima menit kardus kamipun juga sudah kosong, alhamdulillah. Dug! Dug! Dug! Alhamdulillah lagi, bedugnya bunyi, tanda puasa kami hari itu harus diakhiri. Tapi tunggu, kok ini kardusnya kosong semua? Ya, emang niatnya mau ngasih ifthor, yaudah sih ya kitanya nggak kebagian. Alhamdulillahnya, tadi pas di jalan ada yang dapat kurma, akhirnya dibagi-bagi berlima. Setelah membatalkan puasa dengan kurma, kami bergegas mencari masjid untuk kembali menata diri kami di hadapan Allah. Melaporkan segala hal yang kami temui, mengadukannya, dan memohon pencerahan dariNya. Dan saya memilih Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta sebagai tempat pengaduan saya kala itu. Di sana saya bersimpuh, memohon ampun atas segala dosa saya selama ini, memohon petunjuk untuk kehidupan saya selanjutnya hingga kelak saya mati dan menghadap Sang Ilahi Rabbi.

Akhirnya hari itu berakhir oleh wisata rohani saya. Ramadhan saya di Jogja masih beberapa hari lagi dan saya telah banyak mendapat pelajaran, terutama bahwa apa yang kita niatkan itulah yang kita dapatkan. Bahwa apa yang kita lakukan dengan ikhlas akan lebih besar nilainya. Saya merasa Ramadhan ini akan terus bertambah terus kualitasnya selama saya sendiri bersungguh-sungguh ingin meraih ridhoNya. Semoga Ramadhan saya tahun ini diterima, ditandai dengan bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah saya kelak setelah Ramadhan berakhir. Dan semoga Allah masih mengizinkan saya i’tikaf di Jogja Ramadhan mendatang, aamiin. Marhaban yaa Ramadhan!

Yogyakarta, Ramadhan 1435 H


Andika Putri Firdausy

1 komentar: