Senin, 18 Agustus 2014

Indonesia, ku? (2) : Kado Untuk Negeri

..IndonesiaKobarkan semangatmuKan ku bela sampai habis nafaskuJangan pernah menyerahSudah terlalu lama kita terlelapBangkit dan raih semua mimpi..
Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins
Sumber: tribunnews.com

Entah sudah berapa lama postingan ini saya abaikan, hingga akhirnya saya menemukan momentum yang tepat. That's it, Dirgahayu Republik Indonesia ke-69!
Saya adalah orang yang sangat moody untuk menulis. Salah suasana dikit, semua ide buat nulis yang ada di otak langsung ngilang -,- jadi memang harus berusaha sangat keras mengendalikan 'mood' ketika menulis. Menulis apapun, termasuk tugas nyehehee..

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah pesan singkat dari seorang teman. Intinya adalah dia 'memamerkan' pada saya mau upacara tujuh belasan di atas ketinggian, naik gunung maksudnya. Ya tapi karena saya lagi-lagi ngga bisa ikut meski udah diajak karena udah di Jogjes, jadilah saya cuma bisa dipamerin ckck. Sering banget memang, pas teman-teman pada ngajak main, daan saya sedang tidak di rumah. Semacam cuma bisa gigit jari dan ngiri liat foto-foto mereka.

Upacara di atas gunung, keren kali yaa..
Tapi sebenarnya yang terpikirkan bukan cuma masalah keren aja. Ini adalah tahun ketiga saya ngga melakukan upacara bendera. Terlepas dari bagaimana pemerintahan Negara kita saat ini, saya termasuk seseorang yang menghargai pahlawan negeri. Berkat rahmat Allah-lah Indonesia bisa merdeka. Namun kemerdekaan itupun memerlukan usaha. Diraih bukan dengan tangan hampa, melainkan melalui cucuran keringat dan darah para pejuang.

Sumber: antaranews.com
Kemarin pagi, saya dan adik saya makan di sebuah warung. Kami berangkat sekitar pukul setengah sepuluh, lalu makan dan ngobrol ngalor-ngidul. Sambil makan juga kami menghadap ke arah yang sama: layar 21 inch. Ya, tv di depan kami sedang meliput proses upacara bendera di istana negara, dengan Presiden SBY sebagai inspekturnya. Terlintas di benak kami berdua bahwa dulu, kami sama-sama ernah bercita-cita menjadi pengibar bendera di istana negara. Sama seperti mbak-mbak yang sedang kami tonton, mengambil bendera dari tangan presiden RI. Sejenak kami terhanyut dalam nuansa haru melihat detik-detik pengibaran bendera. Kami sama-sama melihat wajah beliau, betapa bapak Presiden satu ini setidaknya telah cukup baik melaksanakan amanah dalam memimpin negeri. Semoga Allah menerima amalmu dan mengampuni dosamu, pak..

Saya jadi teringat postingan saya yang ini... --> Indonesia, ku ?

"...Mulutku terus berusaha menyayikan lagu kebangsaan ini dengan penuh semangat dan keyakinan, sembari berdoa dan berharap, suatu saat nanti akan kunyanyikan lagu ini dihadapan bangsa-bangsa asing, dan akan kutunjukkan pada mereka, bahwa Indonesia bukan negara lemah yang bisa selamanya diinjak. Tapi indonesia adalah negara yang kaya, sejahtera, berdaulat, serta bangsa yang bermartabat."

Waktu itu sekitar akhir September, sekitar satu tahun yang lalu, ketika saya berdoa demikian. Hingga, hanya dengan hitungan bulan, Allah mengabulkan doa saya. Allah-lah memang satu-satunya tempat kita meminta. Ketika Allah dengan cepat mengabulkan doa kita, maka Allah menyayangi kita. Ketika Allah belum mengabulkan doa kita, maka Allah juga lebih menyayangi kita, dengan menunda terkabulnya doa pada saat yang tepat, atau menggantikannya dengan yang lebih baik. Dan saya membuktikan hal itu :)

Student Exchange Party, Kumamoto University, Japan - December 2013
Tidak sampai tiga bulan ketika saya kembali menyanyikan lagu kebangsaan ini di Negeri Matahari Terbit. Alhamdulillah wa Allahuakbar! Tidak dapat dibayangkan bagaimana rasanya. Bahagia, deg-degan, bangga, speechless

Waktu itu setelah presentasi pada acara ICAST 2013, malamnya ada acara Student Exchange Party. Kami berlima sengaja berangkat agak malam setelah shalat Maghrib dan masak karena kami kelaparan. Setelah berputar mencari gedung yang dimaksud, akhirnya kami masuk ke sebuah bangunan. Dari luar semerbak bau harum (campur aneh wkwk) mulai terasa. Nyamm jadi lapar lagi~ Ternyata itu adalah kantin mahasiswa. Di depan bangunan terdapat penunjuk jalan untuk kami peserta ICAST. 

Acara berada di lantai kedua. Setelah menunjukkan tanda pengenal kami baru boleh masuk. Jengjeeeeengg!!! Daan ternyata di hadapan kami terhampar berbagai macam makanan saudara-saudara! Mulai salad, semacam gorengan gitu, buah, minuman sirup-sirup gitu, daan banyak lagi. Sayang saya dan teman saya ngga ada yang punya foto makanannya. Mungkin karena mereka pada sibuk makan hehe, karena saya sendiri cuma makan satu sandwich yang insyaAllah halal karena isinya telur sama sayur, udeh. Sedangkan teman-teman saya yang lain pada heboh nyobain makan macem-macem (yang insyaAllah halal). -,-"

Setelah makan ini-itu, dan berkenalan sana-sini (saya sendiri ngga banyak kenalan ckck: jangan ditiru! >.<), acara berlanjut dipimpin MC. Waktu itu MCnya ada dua: mas Ryan dari Indonesia sama mbak-mbak dari Kazakhstan apa manaa gitu timur tengah pokoknya. Dan kemudian acaranya adalah: perwakilan setiap negara maju untuk 'show'. Memang sih, pas siangnya ada kasak-kusuk dari Indonesia mau menampilkan apa. Tapi karena saking banyaknya jadi malah bingung. Daan pas perwakilan dari Indonesia harus maju, sama mas Ryannya kita semua dipanggil, siapa aja boleh maju. Tidak ketinggalan saya! :D

Biasanya, saya bukan tipe orang yang suka maju-maju gitu. Show up, atau apalah itu namanya. Enggak. Sama sekali. Tapi ini beda. Ini di luar negeri dan mewakili Indonesia. Kesempatan langka yang belum tentu bisa saya ulangi. Akhirnya saya mendesak diri saya sendiri untuk maju. Nah.

Pas di depan, sebenarnya kita semua bingung mau ngapain. Akhirnya, setelah melalui proses musyawarah yang cukup panjang, kami menyanyikan lagu kebanggaan kami...

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku...
Dan mata saya mulai gerak ke kanan dan kiri~
Dan dagu saya mulai gerak ke atas dan ke bawah~
Dan pelupuk mata saya mulai hangat~
Saya nyanyi sambil ngusap-ngusap mata. Tengok kanan-kiri kali aja ada yang lihat. Ya Allah, terimakasih ya Allah, Engkau telah membantuku mencoret satu mimpi yang ini. Terimakasih ya Allah. :')
Setelah Indonesia Raya kami menyanyikan dua lagu lagi, kalau saya tidak salah ingat 17 Agustus sama Satu Nusa Satu Bangsa. Setelah itu kami berfoto dan undur diri. Pengalaman yang tidak terbayarkan. Sungguh.
 ~~~
Sampai saat ini, tugas kita sebagai pemuda yang 'ikut-ikut' merdeka tanpa berperang adalah mengisi kemerdekaan. Tugas kita saat ini bukanlah lagi berperang secara fisik, melainkan berperang dalam bidang pendidikan, teknologi, dan ilmu-ilmu lain. Mengisi kemerdekaan bisa kita lakukan sesuai dengan bidang dan profesi kita masing-masing. Bisa dengan belajar sungguh-sungguh, berkarya, mengabdi untuk negeri, 'mempromosikan' Indonesia ke luar negeri, berkiprah dimana saja, asal untuk kebaikan negeri dan tentu saja diridhoi Allah. Saya sendiri mungkin memang belum berbuat banyak. Tapi setidaknya saya sudah berusaha dan akan terus berusaha. Bangsa ini membutuhkan kita semua yang bersama-sama membangun negeri. Bangsa ini membutuhkan kita yang bersama-sama mau mengabdi.
"Jangan tanyakan apa yang telah bangsamu berikan padamu. Tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan pada bangsamu"
 Semoga negeri ini menjadi semakin bermartabat dan diridhoi Allah.

Perpustakaan UGM, Yogyakarta
18 Agustus 2014 13:59

Andika Putri Firdausy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar