Kamis, 08 Mei 2014

Tentang Indonesia

Indonesia
Dengarlah suaraku
Kan kubawa sampai akhir langkahku
Jangan pernah menyerah
Sudah terlalu lama kita terlelap
Merah putih kan selalu di hati
(Dari Mata Sang Garuda - Pee Wee Gaskins)
Akhir-akhir ini saya sering membaca tulisan yang cukup provokatif, yang satu, sebenarnya tidak menjelek-jelekkan Indonesia, tetapi memang menonjolkan kelebihan negeri tetangga, sedangkan tulisan satunya, seakan tak mau kalah, menulis mengenai betapa indahnya Indonesia, tanpa harus melirik negeri lain. Hm, menarik.
Saya sendiri, tidak naif, memang menjadikan luar negeri menjadi salah satu tujuan saya, terutama untuk studi lanjut (insyaAllah). Dan bagi saya, itu sah-sah saja, maksudnya, dalam beberapa hal, luar negeri memang lebih unggul dari Indonesia.
Tapi, Indonesia tetaplah tanah air saya. Sebagaimanapunnya saya nanti, saya ingin kembali ke tanah ini untuk mengembalikan apa yang telah saya dapatkan.
Maksud saya, haruskah diperdebatkan kecintaan kita pada Indonesia? Apakah solusi hanya selesai hingga perdebatan? Tentu saja tidak.

Saya yakin, orang-orang yang dengan sengaja belajar ke luar negeri itu sebagian besar (pasti ada yang tidak meski kecil) berniat tulus belajar, mendapatkan ilmu, dan kemudian membagikannya kembali pada saudara di tanah air. Jikapun tidak bisa kembali ke Indonesia dengan alasan tertentu, pasti, beliau-beliau ini telah menularkan ilmunya pada pemuda-pemuda di Indonesia yang justru akan menjadi kunci kemajuan Indonesia nantinya.
Contohnya saja Pak Habibie, beliau adalah salah seorang jenius dari Indonesia. Saya secara pribadi sangat kagum dengan beliau. Seorang yang benar-benar mencintai negeri ini tanpa pamrih, meski pernah lama tinggal di luar negeri. Meskipun begitu, beliau selalu mendedikasikan karyanya untuk anak bangsa, meski sering 'dihambat', beliau tak gentar. Bahkan karyanya terus melegenda dan berkembang.
Tempat tinggal memang bukan satu-satunya faktor yang menunjukkan bahwa kita mencintai negeri ini. Tetapi lebih kepada apa yang bisa kita berikan pada negeri kita, apa yang bisa kita perbuat untuk setidaknya tidak menjadikan negeri ini lebih buruk. 
Indonesia adalah negara yang cukup muda usianya, belum genap 70 tahun, jadi wajar saja jika masih mengalami gejolak dimana-mana. Menjadi negara adidaya itu proses, dan itu tidak mudah.
Pertanyaannya adalah: kelak, ketika Indonesia mencapai masa kejayaan, akankah kita menjadi bagian dari penggerak perubahan menuju kejayaan itu? Renungkanlah. 
Kita tidak harus menjadi orang lain, tidak harus berbuat seperti orang lain. Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri, berbuat semampu kita, dan sesuai dengan porsi kita.
Belajarlah menerima perbedaan, karena perbedaan itu indah. Ambil yang baik dari hal-hal di luar Indonesia, terapkanlah untuk memperbaiki negeri ini. Juga, lestarikanlah kebaikan yang telah ada di negeri ini.
Mari bersama membangun bangsa sesuai porsi kita.

Yogyakarta,
8 Mei 2015 19:36

Tidak ada komentar:

Posting Komentar