Rabu, 07 Mei 2014

#11 : Kansai, We're Coming! (Part 3)

Kansai, the amazing airport. Nggg before I continue my story, let me share a link about Kansai Airport. Here it is. (Kansai Airport)

Yup, that's a picture through Kansai Airport. :3



Awalnya, sebelum kami belum benar-benar tahu akan ke Jepang, saya sendiri tidak ada bayangan Bandara Kansai itu seperti apa. Kata salah seorang teman saya yang sudah browsing, bandaranya ngapung, sudah diperlihatkan sih gambarnya, tapi saya tetap belum bisa membayangkan sampai saya sendiri yang membuktikan. Dan ternyata Kansai ini adalah bandara yang dibangun diatas tanah reklamasi pantai. Ya semacam Pantai Marina di Semarang lah.

Tempat-tempat yang ada di Jepang memang sangat bersih, dan tertata, termasuk bandara ini. Kansai sendiri merupakan bandara internasional terbesar ke dua di Jepang setelah Tokyo. Bandara Kansai terdiri dari empat lantai. Lantai pertama, sesuai pengalaman, merupakan lantai yang cukup ramai. Berfungsi sebagai gate kedatangan, baik domestik maupun internasional. Di lantai pertama ini juga terdapat pusat informasi dan spot-spot tempat mengambil berbagai macam brosur, dari yang berbahasa Inggris sampai yang menggunakan huruf kanji. Selain itu juga terdapat tempat penitipan/pengiriman barang, dan tempat penjualan tiket shuttle bus dan shinkansen.


Lantai ketiga sendiri saya tidak tahu dengan pasti apa isinya, karena lantai ini hanya bisa dijangkau dengan menggunakan tangga berjalan atau eskalator. Sedangkan lift hanya menjangkau lantai 1, 2, dan lantai 4. Setahu saya, lantai ini berisikan pertokoan dan hampir mirip pasar, pasar modern tentunya karena terdapat beberapa tulisan dan gambar yang mendukung. Akan tetapi secara pastinya memang saya kurang tahu.

Lantai keempat merupakan gate penerbangan internasional. Lantai ini penuh dengan orang yang lalu-lalang, dengan sejumlah barang bawaan. Selain itu juga terdapat pray room, akan tetapi saya tidak tahu persis letaknya karena belum sempat shalat disana. Sedih sih, berasa kurang pethakilan keliling sana-sini, tapi yaa, kan ada porsinya masing-masing, kalau yang lain pergi saya juga pergi, lantas, siapa yang akan menjaga barang-barang? *abaikan* Semoga suatu saat nanti bisa kembali lagi kesini, aamiin, insyaAllah. ^_^

JetStar

Lantai kedua merupakan gate keberangkatan domestik, seperti ANA dan Jetstar. Penerbangan Jetstar menuju Fukuoka tertulis pukul 14.45, akan tetapi kami dipersilahkan untuk check in dua hingga satu jam sebelumnya. Kami mencoba melakukan web check in melalui website dan wifi bandara. Tapi tapi tapi, sayangnya semua tulisan mendadak berubah menjadi huruf kanji, dan proses web check in menjadi semakin rumit! Aaa panik panik panik. >.< Akhirnya karena waktu semakin mepet juga, kami naik ke lanta dua untuk memastikan terlebih dahulu apakah kami tetap boleh masuk meskipun belum melakukan web check in.

Maskapai Jetstar berada di hampi ujung selatan, dan karena kami naik lift dari bagian utara, kami melewati berbagai titik di lantai dua, mulai dari Lawson, Tsutayya, Mc Donalds, beberapa vending machine, dan tentu saja tempat check in penerbangan domestik. Setelah sampai, kami sengaja mlipir terlebih dahulu, bermaksud bertanya kepada mbak-mbak penjaga gate. Alhamdulillah, ternyata boleh masuk meski belum web check in lagi.

Dan, tibalah saatnya deg-degan untuk penimbangan barang dalam bagasi. Setelah mengkonsumsi banyak mi di bandara, alhamdulillah tas kami berkurang massanya dan tidak terkena charge :) baik sekali penjaganya karena memperbolehkan akumulasi massa dari kesemua barang kami menjadi satu. Ah, legaaa.



Setelah itu, saya dan salah seorang teman saya pergi menuju Lawson, semacam supermarket begitu. Kami bermaksud akan membeli tiket pulang.*

Agar tidak bingung, saya ceritakan dulu rencana rute perjalanan kami.
Jadi, kami berangkat dari Jogja hari Minggu, 8 Desember 2013 dengan personil empat orang. Kemudian kami pergi ke Bandara Soekarno Hatta menggunakan satu taksi. Kami menginap semalam di bandara karena penerbangan terjadwal 9 Desember pukul 9 pagi. Jangan tanya bagaimana kami tidur XD Kami menggelandang, dengan barang segudang! Ya karena kami belum boleh masuk ke area bandara dengan barang banyak apabila belum waktunya check in, maka kami harus bergantian untuk berjaga di luar, dan sebagian bergantian masuk ke dalam untuk keperluan sholat, ke kamar mandi, maupun mencari koneksi dan colokan listrik. 
Penerbangan dilakukan tanggal 9 WIB dari Jakarta, dan sampai di Jepang sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Penerbangan menuju Fukuoka terjadwal tanggal 10 Desember pukul 14.45, kemudian dari Fukuoka kami akan naik bus kota menuju Kumamoto, dan kemudian menuju Kumamoto Islamic Center tempat kami akan menginap.
Konferensi akan dilaksanakan pada tanggal 12-13 Desember, dan pada tanggal 14 Desember akan dilaksanakan fieldtrip ke Mt. Aso. Akan tetapi kami tidak dapat langsung pulang, karena tiket pesawat kami menuju Indonesia terjadwal pada hari Senin tanggal 16 Desember, karena maskapai tidak beroperasi pada hari Sabtu dan Minggu (maklum tiket promo ^^v). Hal tersebut secara tidak langsung menuntut kami untuk melakukan perjalanan lain pada tanggal 15-16 Desember sebelum pulang (jalan-jalan, red). Daan, untuk itulah kami berencana 'mampir' ke Kyoto.
Kyoto sendiri dipilih karena Kyoto merupakan salah satu kota tua mantan ibukota Jepang. Selain itu kota ini kaya akan budaya dan banyak festival (sayangnya di musim panas dan semi T.T). Jadilah kami memilih kota ini. Akan tetapi, kami belum memesan tiket untuk keberangkatan ke Kyoto. Rencananya sih, kami membeli tiket bus white-white apaaaa gitu. Nah tapi karena tidak bisa dipesan jauh hari sebelumnya, apalagi lintas negara, jadilah kami harus berburu tiket tersebut sebelum beranjak ke Fukuoka.
Berdasarkan hal tersebut, kami mampir ke Lawson. Lawson, seperti layaknya supermarket di Indonesia, berisi banyak sekali barang, mulai makanan, sampai alat tulis, rame deh! Kami masuk ke toko dengan agak ragu, serius, tulisannya kanji semua! Then, karena saya tidak terlalu bisa berbahasa Jepang, akhirnya teman saya yang bertanya pada petugas bagaimana caranya jika kami akan memesan tiket bus.

Kemudian mbaknya mengantarkan kami ke hadapan sebuah mesin, dan semacam mempersilahkan kami untuk memesan tiket busnya. Karena kami terkendala bahasa, akhirnya dengan baik hati mbaknya mau membantu kami. Beberapa pertanyaan dilontarkan kepada kami untuk menanyakan tujuan dan asal, waktu keberangkatan, dan jumlah penumpang (laki-laki dan perempuan dibedakan, keren!). Beberapa kali si mbak terlihat salah memencet dan berekspresi seperti agak kebingungan. Karena kami juga tidak mengerti, kami hanya bisa diam. Setelah menemukan beberapa alternatif bus dan harga, kami pamit, semacam bilang "sek yo mbak, tak tanyakan temenku".

Harga yang ditawarkan cukup mahal, sekitar 9000 yen per orang untuk bus malam dari Fukuoka menuju Kyoto, kalau di kurskan waktu itu sekitar satu juta. Transportasi di Jepang memang agak mahal, tapi memang sebanding dengan kualitasnya. Kami sendiri tidak langsung memutuskan karena itu cukup mahal bagi kami, lalu memutuskan untuk mencari alternatif lain sambil mencari tahu apakah ada Lawson di Kumamoto.

Kami berlima dan barang-barang kami sudah naik ke lantai dua, sedangkan di lantai dua wifi tidak dapat tersambung. Alhasil, karena laptop saya yang paling 'available', jadilah saya naik-turun lantai satu-dua untuk mencari informasi. Saya turun sendirian waktu itu, dengan membawa laptop. Saya berjalan sambil melihat sekeliling, berpapasan dengan beberapa orang Jepang yang juga naik lift. Bahagia sekali rasanya.

Sembari saya  turun, teman yang lain melihat sesuatu. Di ujung selatan, terdapat mini kantor pos. Sayangnya saya sendiri tidak sempat membeli di kesempatan itu, sedangkan pada saat pulang mini kantor pos tersebut tutup *syedih*. Beberapa teman berbelanja perangko, terutama Ima yang memang filateli.



Sekitar pukul 2 siang, kami masuk ke gate penerbangan domestik. Lagi-lagi melalui pemeriksaan, dan ternyata pemeriksaannya lebih ketat dibandingkan ketika saya berangkat dari Soekarno Hatta ataupun transit di Kuala Lumpur. Bahkan tas saya harus diperiksa dua kali karena di dalam ransel masih ada tas laptop. 
  

Ruang tunggu cukup padat. Masih ada sekitar 20 menit sebelum pesawat kami siap. Saya melihat sekeliling, bangunan yang sungguh keren. Kerangka gedung didesain anti gempa (kata teman saya -_-), dan tentu saja berada di atas air, rapi, bersih, dan sangat terstruktur. Suatu saat, saya yakin Indonesia bisa lebih dari ini. ^^


Sembari menatap laut yang tenang itu, saya dan Isna, berusaha mengambil gambar pesawat yang sedang take off. Lucu saja begitu, kami balapan, bercanda, alhamdulillah, bahagia yang sangat sederhana. 
Kemudian tibalah saatnya kami yang take off. Kami menyiapkan boarding pass dan passport, lalu berbaris rapi. Kyaaa Fukuoka we're coming!!!




Selesai ditulis: 7 Mei 2014 -_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar