Rabu, 09 April 2014

#10: Shalat di Jepang

Tulisan berikut sedikit melompat dari tulisan yang sebelumnya. Saya akan membahas bagaimana kami bisa survive untuk sholat di Jepang dengan jumlah penduduk muslim yang minim. Inilah cuplikannya :)

Sebelum melanjutkan ke cerita perjalanan selanjutnya, saya akan menceritakan bagian cerita kami tentang sholat. Sebuah anugerah luar biasa bagi kami dapat menunaikan shalat di negeri orang. Apalagi di sini muslim sebagai minoritas. Alhamdulillah wa Allahuakbar. Semoga saya (kami) tetap istiqomah dan dapat menunaikan ibadah kami di negeri-negeri indah lainnya. Aamiin.

Shalat pertama di luar Indonesia adalah di Kuala Lumpur. Kami transit di KL sewaktu berangkat. Karena kami akan take off lagi masih siang dan akan melalui perjalanan yang cukup panjang, kami menjama' shalat dhuhur dan ashar di KL. Di bandara terdapat sebuah mushola yang tidak terlalu besar, mirip dengan mushola yang ada di mall di Indonesia. Kebersihannya juga kurang lebih sama, maklum masih serumpun. Cara berwudhu dan kesemuanya juga masih 11-12. Orang-orang yang sholat juga banyak yang masih serumpun, kalau tidak orang Indonesia, pasti orang Malaysia. Hanya beberapa yang memiliki ras yang berbeda, misalnya India.

Tempat sholat kedua telah berpindah ke negara selanjutnya, Jepang. Kami sampai di bandara Kansai tengah malam dan sudah masuk waktu shalat Isya. Setelah membersihkan diri dan merapikan barang-barang, kami mulai mencari tempat untuk shalat. Di dalam kawasan bandara sudah cukup sepi, hanya tampak beberapa orang yang sedang membersihkan ruangan dan di ujung lain sedang memasang semacam spanduk. Alhamdulillah di sekitar basecamp yang kami pilih tidak ada orang lain, sehingga kami bisa leluasa memilih tempat shalat. Setelah yakin dengan arah kiblat, kami menggelar sajadah, dan memulai shalat. Semilir angin menambah kekhusyukan shalat kami, di negeri orang. Alhamdulillah shalat Maghrib dan Isya selesai ditunaikan.


Setelah rehat, fajar mulai menyapa. Shubuh saat musim dingin seperti ini datang agak siang, sekitar pukul enam, dan bandara sudah mulai menampakkan aktivitasnya. Hm, harus berpindah tempat shalat sepertinya, mengingat kami berada di lantai satu yang notabene dipakai orang hilir-mudik. Daripada shalatnya diperhatikan orang, mending kami mlipir. Sembari yang lain menjaga barang dan ada juga yang bersih-bersih, saya dan Pipit pergi shalat duluan, kami mencari tempat yang lebih aman.

Bandara Kansai terdiri dari empat lantai, dan kami naik ke lantai dua. Setelah memutar sebentar, kami belum juga menemukan pray room. Akhirnya kami memutuskan untuk shalat saja di pojokan yang agak sepi. Setelah selesai dua rakaat, kami bergegas pergi sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, hehe. Setelah turun dan gantian shalat, ternyata Ima dan Azza menemukan pray room di lantai empat. Sedikit menyesal dan penasaran, tapi, ah yasudah, yang penting sudah shalat. ^^

Waktu shalat berikutnya, kami mengalami kejadian yang menarik. Agak sedikit menegangkan memang, tapi alhamdulillah kami tetap bisa shalat. Perjalanan selanjutnya menuju Fukuoka sekitar jam dua siang. Sepertinya sudah masuk waktu dhuhur, tapi kami memilih untuk melakukan jama' ta'khir, selain juga karena kami takut ketinggalan pesawat nanti malah susah. Jam check innya juga agak cepat. Kami tiba di Fukuoka sekitar pukul empat. Di luar perkiraan, bandara Fukuoka trelihat lebih ramping, bahkan sangat ramping dibanding bandara Kansai. Mungkin karena terminal domestik dan internasionalnya dipisah. Setelah meletakkan barang di tempat yang aman, kami segera mengambil wudhu.



Ohya hampir lupa. Kami selalu mengambil wudhu di wastafel, karena memang tidak ada kran di dalam kamar mandi orang Jepang. Jadi, pada bagian kaki saat wudhu, saya sering tengok kanan-kiri sebentar, jikalau ada orang yang memperhatikan saya, sungkan sendiri jadinya hehe. Waktu itu toilet agak rame, jadi yaa terpaksa saya ngangkat-ngangkat kaki di depan banyak orang :D

Setelah semua berwudhu, kami mencoba mengamati sekitar sembari bertanya-tanya: dimanakah kiranya sang prayroom berada? Setelah berkeliling sebentar, ternyata bandaranya memang mungil, hanya ada pertokoan di ujung bandara. Ah, bagaimana ini? Sudah jam empat pula. Akhirnya kami memberanikan diri bertanya pada mbak-mbak di pusat informasi.


Kami: Excuse me, is there any prayroom in here?
Mbaknya: Plrayroom? (Ngg maklum, orang Jepang susah membedakan L dan R)

Kami: Ya, is there any prayroom in here? (Sambil tangannya gerak-gerak kaya shalat. Dan eh, lupa, merekan kan ngga shalat. zzzzz --")
Kemudian, muka mbaknya mulai merah, panik, bingung, entahlah, dan kami juga haha. Kemudian mbaknya mengambil secarik kertas dan mencoba menuliskannya.

Daan yang ditulis adalah: PLAYINGROOM. Gubrak >.<

Kami: Ah, no, prayroom not playingroom
Dan, mbaknya mulai mengerti, kemudian menuliskan kata "prayroom" sambil mengucapkannya. Alhamdulillah, ngerti juga, batin kami.

Mbaknya: Ah, sorry, there is no prayroom in here.. (dengan raut kasihan, mengasihani kami maksudnya)
Jleb! Njuk kami harus shalat dimana mbaaak? *mulaipanik*
Saya sendiri tidak bisa mengatakan apa-apa jika memang demikian. Salah satu ikhtiar saya adalah dengan menampakkan muka sedih, dan memelas. Banget. Kemudian datanglah pertolongan dari Allah.

Mbaknya: Wait, I will contact the security, maybe you can do it
Kami: Ah, thanks, arigatou ne :))
Kemudian, terjadilah percakapan di telepon antara mbaknya dengan you dont know who. Ngg percakapan mereka menggunakan bahasa Jepang, jadi kami mendengarkannya dengan harap-harap cemas, hanya bisa membaca raut muka mbaknya.


continue --> #12: Shalat di Jepang (2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar