Kamis, 27 Februari 2014

Kesyukuran Dibalik Bencana

Kesyukuran Dibalik Bencana: Memandang dan Menyikapi Bencana

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” Q.S 94:5

Foto Udara Sebagian Yogyakarta (sumber: Kota Yogyakarta [fb] )

Definisi bencana menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (bnpb.go.id). Bencana, terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Bencana dianggap selalu membawa dampak negatif yang merugikan manusia. Akan tetapi kita telah lupa, bahwa dibalik setiap kejadian atau bencana tersebut, selalu terkandung sebuah hikmah.
Erupsi Gunung Kelud pada tanggal 13 Februari 2014 kemarin merupakan salah satu contoh. Gunung Kelud mengalami erupsi terakhir pada tahun 2007. Akan tetapi erupsi yang terjadi pada tahun tersebut merupakan erupsi yang tidak biasa. Erupsi Gunung Kelud biasanya merupakan erupsi yang eksplosif dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Akan tetapi pada tahun 2007, Gunung Kelud tidak mengalami erupsi eksplosif melainkan memunculkan kubah lava yang cukup besar di kawah Kelud. Akibatnya, aktivitas gunung tersebut menjadi berubah. Hal inilah yang mengindikasikan terjadinya erupsi yang cukup besar pada tahun 2014.
Erupsi Gunung Kelud pada tahun 2014 ini merupakan erupsi yang cukup besar. Hal ini dapat dilihat dari material yang terlempar saat erupsi hingga sejauh 17 kilometer. Selain itu, akibat arah angin pada ketinggian tertentu lebih banyak mengarah ke barat-barat daya, sebaran abu vulkanik hasil erupsi Kelud juga lebih banyak mengarah ke bagian barat Kelud dubanding daerah lainnya. Menurut pemberitaan bahkan abu tersebut mencapai daerah Bandung, Jawa Barat dan mengakibatkan penundaan penerbangan di seluruh bandara di Pulau Jawa. Salah satu kota yyang terkena dampak dari abu vulkanik Kelud yan cukup besar adalah Yogyakarta.
Matahari pagi pada tanggal 14 Februari seakan enggan menyapa. Jam menunjukkan hampir pukul enam pagi, tetapi suasana masih sangat gelap seperti belum shubuh. Dari berita di televisi saya baru mengetahui bahwa hal tersebut terjadi akibat dampak abu vulkanik hasil erupsi Gunung Kelud semalam. Hari mulai terlihat lebih terang sekitar pukul tujuh. Langit berwarna jingga seperti senja, tetapi membawa hawa yang sedikit pengap. Berdasarkan instruksi, kami akhirnya menggunakan masker meski di dalam ruangan agar terhindar dari abu vulkanik yang memiliki bagian runcing sehingga dapat merusak organ pernapasan.
Kota Jogja seperti kota mati saat saya berkeliling untuk mencari makan di sore harinya. Hampur tidak ada warung yang buka membuat kami – anak kos – kelaparan. Dengan adanya hujan abu banyak pedagang enggan berjualan karena terganggu dengan debu yang beterbangan. Selain itu memang kondisi lingkungan belum kondusif sehingga justru akan emmbahayakan jika menjual makanan pada kondisi seperti ini. Dari sudut pandang negatif lainnya, kita dapat melihat banyak kejadian. Hujan krakal, krikil, hingga hujan abu yang mengguyur bahkan sebagian dari Pulau Jawa, lahar dingin dan material erupsi lainnya, serta beragam dampak negatif lain yang dapat kita lihat dari siaran-siaran berita di media. Akan tetapi, Allah tidak pernah menguji melebihi kemampuan hambaNya, maka dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan.




Selain dampak negatif, kita juga dapat melihat adanya dampak positif dari bencana ini. Sebuah gunung berapi dipastikan memiliki siklus erupsi sebagai bentuk peremajaan, sehingga gunung tersebut dapat terus memberi manfaat. Selain itu, material-material hasil erupsi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan juga media tanam. Bagi para pedagang, tentulah hal ini menjadi suatu keberkahan untuk mendapatkan rezeki lebih. Jiwa sosial kita sebgai manusia juga diuji, apa yang dapat kita berikan kepada saudara kita yang sedang diuji dengan musibah. Salah satu contoh nyata kegiatan yang dapat meningkatkan rasa kekeluargaan adlah yang terjadi di Fakultas Geografi UGM. Kami bekerja bakti untuk membersihkan sisa abu vulkanik yang masih ada di sekitar kampus. Alhamdulillah, hujan telah mengguyur kampus semalam. Bukti akan kebesaran Allah akan ada, dan selalu ada, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Selalu siratkan syukur dibalik apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, agar semua kejadian lebih terasa nikmatnya. InsyaAllah.


Dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Penginderaan Jauh untuk Vegetasi dan Penggunaan Lahan
Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh
Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2014

Andika Putri Firdausy,
27 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar