Kamis, 13 Februari 2014

GR atau Ge-eR ?

GR (Ge-eR)
Ada yang bisa menjelaskan ke saya apa maksud dari GR?
Pernah suatu ketika saya masih kecil, saya bertanya kepada orangtua saya, “Buk, Ge-eR itu apa sih?”. Lalu beliau menjawab, “GR itu kepanjangan dari Gedhe Rumangsa”.
Oooh, begitu rupanya.
Suatu ketika, saya membaca “Berjuta Rasanya”nya Tere Liye. Di salah satu cerita di dalamnya (saya lupa judulnya), terdapat sebuah kisah menarik tentang Ge-eR ini. Betapa seorang perempuan merasa Ge-eR karena terus dilihat oleh teman laki-lakinya. Dia merasa bahwa temannya tersebut menyukainya karena selalu mencuri pandang dan sering menanyakan sesuatu kepadanya. Padahal temannya tersebut tidak bermaksud seperti yang ia harapkan, karena teman laki-lakinya tersebut justru menyukai teman si perempuan ini. Hahaa. Geli juga membacanya, karena saya seakan ditohok dengan cerita yang ada. [?]
Saya rasa, semua orang pernah merasa ke-Ge-eR-an, entah disadari atau tidak. Hal itu merupakan suatu sifat alami manusia yang merasa ingin diperhatikan. Jika dikelola dengan baik dan sesuai porsinya, saya rasa perasaan Ge-eR itu sah-sah saja. Akan tetapi, semua yang berlebihan akan berujung pada kemudharatan, termasuk sikap Ge-eR ini. Semakin dewasa kita, seharusnya kita lebih bisa mengontrol emosi kita.
Ge-eR, merupakan suatu perasaan berlebihan yang merasa bahwa dirinya diperhatikan, bahwa dirinyalah objek suatu pembicaraan, bahwa dirinyalah yang sedang diperbincangkan. Ge-eR lebih mirip dengan rasa kepercayaan diri yang terlalu tinggi, kePDan.
Boleh, bahwa kita merasa mempunyai sesuatu yang lebih dari yang lain. Boleh, bahwa kita merasa ingin diperhatikan. Tapi ingat, semua harus dilakukan dalam batas kewajaran. Karena semua hal yang berlebihan tidak pernah berujung dengan baik. Cukupkanlah dengan cukup itu sendiri.
Yogyakarta,
12 Februari 2014 10:53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar