Selasa, 18 Februari 2014

Demi Masa

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1. Demi masa. 
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. 
(Q. S. Al-Ashr: 1-3) 

Subhanallah, Maha Suci Allah atas Segala yang ada di Bumi dan di Langit.

bagaimana kau merasa banggaakan dunia yang sementarabagai manakah bila semuahilang dan pergi meninggalkan diri mu
bagimanakah bila saat nyawaktu terhenti tak kau sadarimasikah ada jalan bagi mu untuk kembalimengulang ke masa lalu
dunia....di penuhi dengan hiasansemua..dan sgala yang adaakan kembali pada nyabila waktu tlah memanggilteman sejati hanyalah amalbila waktu tlah terhentiteman sejati tinggalah sepi...
(Opick - Bila Waktu Telah Berakhir)

Subhanallah, walhamdulillah. Bersyukur masih dikarunia nikmat hidup oleh Allah.

Tulisan ini berawal dari kejadian yang saya alami hari ini.  Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).  Hadits perumpaan umat Islam yang digambarkan oleh Rasulullah tersebutlah yang cukup untuk membuat saya sakit hati ketika saudara seiman saya direndahkan.

Memang, keimanan seseorang tidak hanya dapat dilihat dari caranya berpakaian saja, tetapi juga akhlak dan ketaqwaannya. Akan tetapi, seorang mukmin yang mengenakan layaknya orang mukmin, tentu saja bukan hal yang salah, bahkan merupakan hal yang baik. Apalagi jika itu merupakan perintah Allah dan RasulNya. Astaghfirullah, ampunilah segala kesalahan dan dosa kami, ya Allah.
Saya, hanyalah manusia yang masih belajar. Belajar untuk bertanggung jawab, disiplin, dan tepat waktu. Termasuk untuk urusan ibadah. Saya sungguh masih belajar. Terkadang iman pada diri memang naik-turun. Akan tetapi, sikap seperti itu, menurut saya sungguh tidak dapat diterima. Ah, sudahlah. Semoga kita dapat terus memperbaiki kualitas (dan kalau bisa kuantitas) ibadah kita. Yuk istiqomah. :)

Lalu, sore tadi, ketika sepulang saya dari kampus, kos saya terasa begitu sepi. Hening, gelap, seperti tak berpenghuni. Suasana senja semakin menambah temaram, sehingga saya membuka kamar lebar-lebar supaya terlihat lebih terang. Kemudian saya berpikir, sungguh, ini hanyalah keadaan sementara di dunia yang penuh gemerlap. Dunia yang bisa diisi dengan tawa, canda, atau apapun yang kita suka. Dan bahkan kita lupa bahwa kematian telah begitu dekat dengan kita. Bahkan, ketika saya masih berpikir untuk dibawa ke arah mana tulisan ini, sebuah pesan masuk mengabarkan bahwa Ayahanda dari salah seorang teman kami meninggal dunia. Subhanallah. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uun. Sesungguhnya semua memang hanya milik Allah swt.

Demi Masa, jadikanlah kami manusia yang senantiasa berbenah dan memperbaiki diri. Jadikanlah kami manusia yang bermanfaat bagi agama, keluarga, dan bangsa kami. Jadikanlah masa muda kami sebagai masa yang dapat kami pertanggungjawabkan di hadapanMu kelak, ya Rabb. Ampunilah kami. Hindarkanlah kami dari siksaMu ya Rabb, baik siksa kubur maupun siksa api neraka. Sungguh siksamu adalah siksa yang paling pedih, maka jauhkanlah kami, hindarkanlah kami. Hanya kepadaMu kami memohon.


Yogyakarta,
18 Februari 2014 23:19

Salah satu tempelan di dinding kamar kos saya (yang lama):)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar