Kamis, 09 Januari 2014

#5



Malam mulai menyapa. Dingin mulai merasuki sekujur tubuhku. Ini masih di Indonesia, put, gerutuku dalam hati. Saat ini bagianku menjaga barang-barang kami. Dua temanku sedang mengerjakan tugas di dalam, dan satu lagi sedang mendapat jatah tidur. Ya, kami sedang menanti fajar datang agar segera masuk dan terhindar dari gemerlapnya dunia malam ibukota. Kami baru akan menaiki pesawat besok pagi sehingga belum boleh melakukan check in dengan barang segudang. Baiklah, menggelandang dimulai disini!

Lengkap dengan laporan yang masih tersegel, aku duduk di pelataran bandara. Di hadapan sejumlah koper-koper luar biasa besar (dan berat). Malam ini luar biasa. Perjalanan yang tidak akan dilupa, karena kali pertama. Namun belum banyak yang berbeda karena masih di Indonesia. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan sedari tadi di stasiun hingga sekarang di bandara, seakan bunyi-bunyian yang biasa. Tidak ada yang mau kalah, apalagi mengalah. Ah, manusia.

Ada beberapa orang yang juga sedang menggelandang seperti kami. Mereka menghabiskan malam ditemani segelas kopi, hangat di malam yang dingin. Sedangkan aku yang sendiri, hanya bisa gigit jari. Entahlah, sepertinya ada beberapa barang yang tertinggal, tapi semoga tetap bisa bertahan. Akhirnya aku membuka slayer yang awalnya kugunakan sebagai tanda pengenal koper sebagai syal dadakan. Cukup hangat, rupanya.

Sembari menulis aku mengamati sekitar. Sesekali menegok ke tumpukan koper-koper di hadapan, melihat sekilas keadaan orang-orang sekitar, berusaha menangkap raut baik dari setiap orang yang melihat ke arah kami. Dingin mulai menyapa lagi. Tetesan air hujan tidak terasa menemani. Segar, bau tanah. Namun kesegaran itu pada akhirnya harus kalah dengan aroma sengak asap rokok di sekitar. Ah, lagi-lagi manusia, semoga bisa jera dan mengambil hikmahnya.

Butuh beberapa penyesuaian dimulai dari sini, terutama kamar mandi. Haha, terlalu ndeso, mungkin. Kran airnya terlalu simpel hingga membuatku basah kuyup dan harus rela sedikit bersapa dengan dingin ketika angin menerpa. Anggap saja latihan, sebelum hawa musim dingin 5 derajat benar-benar menyapa. Gimme strength, Rabb.

Cukup. Aku ingin melanjutkan malam dengan menatap langit, dan menengadah. Sepertinya esok akan menjadi hari yang lebih indah. Ya, aku siap. Namun aku harus menyelesaikan tugasku, LAPORAN. Face the sleepy yeah!

Bandara Soekarno Hatta,
Jakarta, 8 Desember 2013 22:18
Andika Putri Firdausy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar