Rabu, 08 Januari 2014

#4



Sudah lama tak bersua. Sedang banyak cerita, padahal. Meski UAS di depan mata, dan tugas pun belum rampung. Bukan Saya namanya kalau tidak sesantai ini menghadapi keduanya. Haha, maafkan saya Ayah, Ibuk. :3

Ceritanya tadi siang saya kebetulan mendengarkan kajian dengan tema tertentu (*uhuk). Di tengah kajian tersebut, Ustadz menjelaskan bahwa sebuah hubungan (pernikahan, red) itu seperti sebuah persahabatan, dimana keduanya memiliki ikatan yang hangat dan saling melengkapi. Kurang lebih begitu redaksinya. Kemudian beliau menceritakan sebuah kisah dari seorang rekan beliau ketika di Jepang.

Ceritanya, rekan beliau tersebut sedang melakukan perjalanan dengan sepeda di salah satu sudut kota Jepang. Beliau (sang rekan), sedang mengendarai sepeda di jalanan kota Jepang. Beliau sendiri pada saat itu menyadari bahwa cara beliau bersepeda agak sedikit menyalahi atura. Dan entah bagaimana ceritanya, sepeda beliau terserempet oleh sebuah mobil milik orang Jepang sehingga roda sepeda lepas.

Bisa Anda bayangkan bagaimana keadaannya?

Ya, pengendara mobil yang orang Jepang asli tersebut turun, dan meminta maaf kepada beliau. Meminta maaf dengan sangat dan tulus tentu saja. Meski beliau telah menjelaskan duduk perkaranya bahwa memang beliau yang salah, tetapi tetap saja orang Jepang tersebut meminta maaf dengan sangat. Alhasil beberapa waktu kemudian, datanglah sebuah sepeda baru kepada beliau. Subhanallah.
Lalu, yang menjadi pertanyaan Ustadz adalah : Bagaimana jika, kejadian tersebut terjadi di Indonesia, dan diperankan oleh orang Indonesia pula pada kedua belah pihak?

Hm, yang ada ya saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Kurang lebih begitu kata Ustadz.

Inti yang saya tangkap berkaitan dengan materi adalah, dalam sebuah hubungan dibutuhkan semacam chemistry, hubungan yang sehat, saling menyadari, saling memaafkan, saling membantu, dan tentu saja saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna, dan justru hal itulah yang pada akhirnya membuat sebuah pernikahan itu menarik. Ketika kita berbeda dengan pasangan kita, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama.

050114 22:45


Lanjutan

Sebenarnya, yang ingin saya tonjolkan adalah tentang orang Jepang. Hanya saja pada posting sebelumnya tiba-tiba tangan saya berbelok arah. Ah, syudahlah. :3

Orang Jepang memang sangat ramah, tidak seperti bayangan sebagian orang (termasuk saya, dulu) yang menganggap orang Jepang kurang senyum sampai pernah saya melihat sebuah video kursus senyum di Jepang. Dan itu saya buktikan ketika kemarin diberi kesempatan berkunjung ke Jepang.
Salah satu ceritanya serupa dengan cerita sebelumnya. Waktu itu kami baru saja tiba di Kyoto sekitar jam sembilan pagi. Dengan barang yang segudang, tentu saja kami agak kesulitan untuk berpindah-pindah, sedangkan saat itu kami sedang mencari alamat hostel yang akan kami inapi malam nanti. Pada akhitnya kami menemukan sinyal wifi, dan juga selembar peta. (Oh ya, peta di Jepang sedikit aneh, selain isinya huruf kanji semua, orientasinya juga membingungkan, arah utara tidak selalu berada di atas). Beberapa saat kemudian, kami memutuskan dan yakin bahwa hostel kami berada di seberang stasiun, dengan asumsi orientasi yang benar tentu saja.

Kami berjalan menyusuri lorong pemukiman di tengah hiruk-pikuk Kyoto. Dengan segudang koper itu, tentu saja jalan kami agak sedikit lambat, dna tidak terlalu memperhatikan sekeliling dengan seksama. Pada akhirnya kami sampai di sebuah perempatan kecil. Saya yang berada di barisan paling belakang berhenti paling akhir. Sejenak melepas pandang ke sekeliling. Menarik. Suasana kota yang tenang, batin saya. Terlihat seorang teman saya sedang berbincang, atau lebih tepatnya bertanya, mengenai alamat hostel kami. Setelah mendapat pencerahan, kami mengucapkan salam perpisahan, serta arigatou kepada orang tersebut.

And guess what?

Ternyata kami salah arah. Fix.

Pada akhirnya, salah seorang teman saya bertanggung jawab. Dia mencoba jalur yang telah diberitahukan oleh orang Jepang yang baik hati tersebut. Sedangkan sisanya menunggu di persimpangan. Tentu saja bukan hal yang mudah menunggu orang di tengah jalan seperti ini, apalagi dengan barang-barang yang tidak sedikit. Memang, tersedia trotoar untuk pejalan kaki dan pesepeda, hanya saja terlalu berlebihan jika kami menata barang-barang kami di trotoar, apalagi ini di depan rumah warga Jepang. Ah, tapi kami tidak memiliki pilihan lain. Dan akhirnya kami harus menata serapi mungkin barang-barang kami agar tidak mengganggu pejalan kaki atau pesepeda yang hendak lewat.

Sembari menunggu kami makan. Memakan mi instan yang sudah berkeringat karena telah menginap semalam. Dengan dibantu rasa kecap manis, kami melahap makanan tersebut. Lalu pencernaan kami dibantu dengan sebuah minuman kaleng khas Jepang hehe. Namun teman kami belum kunjung tiba. Sembari mengobrol, sesuatu pun terjadi.

Brukkkkkk!

Sontak kami semua menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis manis, kira-kira seumuran dengan kami, terjatu dari sepedanya. Guess what? Dia terjatuh karena menabrak salah satu barang kami. Ah.
Sebenarnya yang dibingungkan adalah: kenapa gadis itu terjatuh, padahal dia bersepeda pada jalur yang lurus dan tidak melewati tikungan sebelum menabrak. Atau barang kami terlalu banyak dan mengganggu jalan meski sudah ditata? Atau mbaknya yang grogi melihat barang sebanyak itu? Ahahaha, summimasen.

Gadis tersebut tertindih oleh sepedanya, dan barang di keranjangnyapun terjatuh. Kami membantu berdiri, dan terlihat ada luka di bagian lututnya. Ah, kasihan. Lalu, dia meminta maaf kepada kami, dengan masih terbata-bata. “Ah, I’m sorry. I’m sorry. How about your bag?” dan blablabla. Dia terjatuh, terluka, lalu meminta maaf. Tidak ada yang salah sih menurut saya, tapi dia meminta maaf.
Dan tentu saja kami meminta maaf juga.

050114 23:13

Tidak ada komentar:

Posting Komentar