Sabtu, 11 Januari 2014

Estimasi Penempatan Sumber Energi Listrik Tenaga Gelombang Laut di Kawasan Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta



Estimasi Penempatan Sumber Energi Listrik Tenaga Gelombang Laut di Kawasan Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta


Ima Rahmawati1, Andika Putri Firdausy2, Azzadiva Ravi Sawungrana3
1,2,3 Universitas Gadjah Mada


Abstrak: Energi fosil merupakan sumber energi utama di Indonesia, tetapi energi ini justru membawa dampak buruk berupa peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer yang mempercepat laju perubahan iklim dunia. Menurut data WDI dan GDF tahun 2013 perbandingan penggunaan energi fosil dan energi bersih di Indonesia sebesar 65,5:8,5 dengan emisi karbon 389,43 juta kubik ton pada 2010. Indonesia yang terkenal dengan Negara kepulauan, dimana laut Indonesia memiliki berbagai potensi salah satunya potensi gelombang laut yang dapat menghasilkan energi listrik. Gelombang laut yang tergolong eco-energy diperkirakan dapat menghasilkan energi sekitar 20-70 kWh/meter, dengan garis pantai sekitar 81.290 km (Peneliti Puslitbang PLN, 2011). Pantai Selatan Jawa merupakan salah satu kawasan potensial sebagai lokasi penempatan sumber energi yang memanfaatkan gelombang laut, terutama di Kabupaten Gunungkidul yang karakteristik wilayah didominasi oleh batuan gamping/karst. Pasalnya lokasi ini memiliki kemiringan dasar laut yang cukup curam sehingga besar kemungkinan untuk menghasilkan gelombang laut yang sesuai. Penelitian ini bertujuan menentukan kesesuaian kawasan untuk penempatan sumber energi listrik dari tenaga gelombang laut (PLTGL Onshore) menggunakan SIG dan Citra Landsat ETM+ komposit 457. Citra Satelit Landsat ETM+ komposit 457 dengan resolusi spasial 30 meter digunakan untuk mengetahui morfologi pantai. Peta Geologi digunakan untuk mengetahui formasi batuan penyusunnya. Peta RBI digunakan untuk mengetahui data lereng pantai yang digunakan dalam mengidentifikasi tipe gelombang. Interpolasi data angin di setiap titik pengukuran memberikan informasi tentang kecepatan angin dan arah angin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesesuaian lahan secara spasial dan metode pembobotan. Tingkat kesesuaian lahan terbagai menjadi sesuai (S1), sesuai bersyarat (S2), dan tidak sesuai (N). Metode pembobotan menggunakan parameter morfologi pantai, kedalaman air laut, kemiringan pantai, tipe gelombang, kecepatan angin dan arah angin sebagai penilaian awal dan dasar dalam mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk penempatan PLTGL Onshore di Kabupaten Gunungkidul.

Kata Kunci : Gelombang Laut, Eco-energy, PLTGL Onshore

Tidak ada komentar:

Posting Komentar