Rabu, 15 Januari 2014

Menikmati Hidup

Manusia itu makhluk, maka ia bertugas menunaikan kewajiban atas Yang Menciptakannya

Manusia itu khalifah, maka ia berkewajiban menunaikan yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk kepada dirinya sendiri.
~
Akhir-akhir ini saya merasakan benar-benar menjadi anak kos
Selama satu setengah tahun saya hidup ngekos, baru akhir-akhir ini saya memasak 
Walaupun sekedar menggoreng pisang, atau bahkan hanya menggoreng telur
Duduk manis di depan ruang TV dengan makanan yang telah dimasak sendiri
Mencuci, membersihkan kamar, dan aktivitas santai lainnya
Ala anak kos, bukan aktivis
Dengan begitu kita sadar bahwa hidup ini tidak melulu tentang perjuangan dan kerja keras, namun manusia juga memerlukan ruang untuk bernafas. Akhir-akhir ini saya merasakan, bahwa kehidupan kita ini kompleks. Tidak boleh ada yang mendzalimi atau didzalimi, adil. Kita harus adil terhadap lingkungan kita, termasuk diri kita sendiri. Ada saatnya bekerja keras, ada saatnya sejenak menikmati hidup, mensyukuri nikmatnya, dengan melakukan aktivitas ringan atau sekedar menjalankan hobi. Iya, sejenak saja.
Yogyakarta, 15 Januari 2014
11:08

Sabtu, 11 Januari 2014

Estimasi Penempatan Sumber Energi Listrik Tenaga Gelombang Laut di Kawasan Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta



Estimasi Penempatan Sumber Energi Listrik Tenaga Gelombang Laut di Kawasan Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta


Ima Rahmawati1, Andika Putri Firdausy2, Azzadiva Ravi Sawungrana3
1,2,3 Universitas Gadjah Mada


Abstrak: Energi fosil merupakan sumber energi utama di Indonesia, tetapi energi ini justru membawa dampak buruk berupa peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer yang mempercepat laju perubahan iklim dunia. Menurut data WDI dan GDF tahun 2013 perbandingan penggunaan energi fosil dan energi bersih di Indonesia sebesar 65,5:8,5 dengan emisi karbon 389,43 juta kubik ton pada 2010. Indonesia yang terkenal dengan Negara kepulauan, dimana laut Indonesia memiliki berbagai potensi salah satunya potensi gelombang laut yang dapat menghasilkan energi listrik. Gelombang laut yang tergolong eco-energy diperkirakan dapat menghasilkan energi sekitar 20-70 kWh/meter, dengan garis pantai sekitar 81.290 km (Peneliti Puslitbang PLN, 2011). Pantai Selatan Jawa merupakan salah satu kawasan potensial sebagai lokasi penempatan sumber energi yang memanfaatkan gelombang laut, terutama di Kabupaten Gunungkidul yang karakteristik wilayah didominasi oleh batuan gamping/karst. Pasalnya lokasi ini memiliki kemiringan dasar laut yang cukup curam sehingga besar kemungkinan untuk menghasilkan gelombang laut yang sesuai. Penelitian ini bertujuan menentukan kesesuaian kawasan untuk penempatan sumber energi listrik dari tenaga gelombang laut (PLTGL Onshore) menggunakan SIG dan Citra Landsat ETM+ komposit 457. Citra Satelit Landsat ETM+ komposit 457 dengan resolusi spasial 30 meter digunakan untuk mengetahui morfologi pantai. Peta Geologi digunakan untuk mengetahui formasi batuan penyusunnya. Peta RBI digunakan untuk mengetahui data lereng pantai yang digunakan dalam mengidentifikasi tipe gelombang. Interpolasi data angin di setiap titik pengukuran memberikan informasi tentang kecepatan angin dan arah angin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesesuaian lahan secara spasial dan metode pembobotan. Tingkat kesesuaian lahan terbagai menjadi sesuai (S1), sesuai bersyarat (S2), dan tidak sesuai (N). Metode pembobotan menggunakan parameter morfologi pantai, kedalaman air laut, kemiringan pantai, tipe gelombang, kecepatan angin dan arah angin sebagai penilaian awal dan dasar dalam mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk penempatan PLTGL Onshore di Kabupaten Gunungkidul.

Kata Kunci : Gelombang Laut, Eco-energy, PLTGL Onshore

Kamis, 09 Januari 2014

#5



Malam mulai menyapa. Dingin mulai merasuki sekujur tubuhku. Ini masih di Indonesia, put, gerutuku dalam hati. Saat ini bagianku menjaga barang-barang kami. Dua temanku sedang mengerjakan tugas di dalam, dan satu lagi sedang mendapat jatah tidur. Ya, kami sedang menanti fajar datang agar segera masuk dan terhindar dari gemerlapnya dunia malam ibukota. Kami baru akan menaiki pesawat besok pagi sehingga belum boleh melakukan check in dengan barang segudang. Baiklah, menggelandang dimulai disini!

Lengkap dengan laporan yang masih tersegel, aku duduk di pelataran bandara. Di hadapan sejumlah koper-koper luar biasa besar (dan berat). Malam ini luar biasa. Perjalanan yang tidak akan dilupa, karena kali pertama. Namun belum banyak yang berbeda karena masih di Indonesia. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan sedari tadi di stasiun hingga sekarang di bandara, seakan bunyi-bunyian yang biasa. Tidak ada yang mau kalah, apalagi mengalah. Ah, manusia.

Ada beberapa orang yang juga sedang menggelandang seperti kami. Mereka menghabiskan malam ditemani segelas kopi, hangat di malam yang dingin. Sedangkan aku yang sendiri, hanya bisa gigit jari. Entahlah, sepertinya ada beberapa barang yang tertinggal, tapi semoga tetap bisa bertahan. Akhirnya aku membuka slayer yang awalnya kugunakan sebagai tanda pengenal koper sebagai syal dadakan. Cukup hangat, rupanya.

Sembari menulis aku mengamati sekitar. Sesekali menegok ke tumpukan koper-koper di hadapan, melihat sekilas keadaan orang-orang sekitar, berusaha menangkap raut baik dari setiap orang yang melihat ke arah kami. Dingin mulai menyapa lagi. Tetesan air hujan tidak terasa menemani. Segar, bau tanah. Namun kesegaran itu pada akhirnya harus kalah dengan aroma sengak asap rokok di sekitar. Ah, lagi-lagi manusia, semoga bisa jera dan mengambil hikmahnya.

Butuh beberapa penyesuaian dimulai dari sini, terutama kamar mandi. Haha, terlalu ndeso, mungkin. Kran airnya terlalu simpel hingga membuatku basah kuyup dan harus rela sedikit bersapa dengan dingin ketika angin menerpa. Anggap saja latihan, sebelum hawa musim dingin 5 derajat benar-benar menyapa. Gimme strength, Rabb.

Cukup. Aku ingin melanjutkan malam dengan menatap langit, dan menengadah. Sepertinya esok akan menjadi hari yang lebih indah. Ya, aku siap. Namun aku harus menyelesaikan tugasku, LAPORAN. Face the sleepy yeah!

Bandara Soekarno Hatta,
Jakarta, 8 Desember 2013 22:18
Andika Putri Firdausy

Rabu, 08 Januari 2014

#4



Sudah lama tak bersua. Sedang banyak cerita, padahal. Meski UAS di depan mata, dan tugas pun belum rampung. Bukan Saya namanya kalau tidak sesantai ini menghadapi keduanya. Haha, maafkan saya Ayah, Ibuk. :3

Ceritanya tadi siang saya kebetulan mendengarkan kajian dengan tema tertentu (*uhuk). Di tengah kajian tersebut, Ustadz menjelaskan bahwa sebuah hubungan (pernikahan, red) itu seperti sebuah persahabatan, dimana keduanya memiliki ikatan yang hangat dan saling melengkapi. Kurang lebih begitu redaksinya. Kemudian beliau menceritakan sebuah kisah dari seorang rekan beliau ketika di Jepang.

Ceritanya, rekan beliau tersebut sedang melakukan perjalanan dengan sepeda di salah satu sudut kota Jepang. Beliau (sang rekan), sedang mengendarai sepeda di jalanan kota Jepang. Beliau sendiri pada saat itu menyadari bahwa cara beliau bersepeda agak sedikit menyalahi atura. Dan entah bagaimana ceritanya, sepeda beliau terserempet oleh sebuah mobil milik orang Jepang sehingga roda sepeda lepas.

Bisa Anda bayangkan bagaimana keadaannya?

Ya, pengendara mobil yang orang Jepang asli tersebut turun, dan meminta maaf kepada beliau. Meminta maaf dengan sangat dan tulus tentu saja. Meski beliau telah menjelaskan duduk perkaranya bahwa memang beliau yang salah, tetapi tetap saja orang Jepang tersebut meminta maaf dengan sangat. Alhasil beberapa waktu kemudian, datanglah sebuah sepeda baru kepada beliau. Subhanallah.
Lalu, yang menjadi pertanyaan Ustadz adalah : Bagaimana jika, kejadian tersebut terjadi di Indonesia, dan diperankan oleh orang Indonesia pula pada kedua belah pihak?

Hm, yang ada ya saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Kurang lebih begitu kata Ustadz.

Inti yang saya tangkap berkaitan dengan materi adalah, dalam sebuah hubungan dibutuhkan semacam chemistry, hubungan yang sehat, saling menyadari, saling memaafkan, saling membantu, dan tentu saja saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna, dan justru hal itulah yang pada akhirnya membuat sebuah pernikahan itu menarik. Ketika kita berbeda dengan pasangan kita, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama.

050114 22:45