Sabtu, 21 Desember 2013

#2



Awan berarak, mengiringi langkah lima pemuda hebat pemimpin masa depan, semoga. 

Siang ini suasana berbeda di kereta. Kami hanya berempat, sedangkan satu kawan kami menunggu keberangkatan di tempat yang lain. Disinilah kami duduk selama kurang-lebih delapan jam. Mencoba “lari” dari rutinitas perkuliahan. Ah, semoga niat lurus dan tulus kami terjaga, Rabb.

Berasal dari latar belakang yang berbeda, tentu saja. Aku dan dua orang kawanku yang lain telah “bekerja sama” sebelumnya sehingga tidak banyak membutuhkan penyesuaian. Tapi tidak dengan dua kawan yang lain. Anggapa saja mereka newbie. Tidak, bukan bermaksud meng-eksklusifkan diri kami, hanya saja memang butuh penyesuaian dalam beberapa hal. Jadwal kuliah dan jadwal bertemu yang paling riskan. Pada akhirnya, kami semua harus rela pulang “larut” untuk menuntaskan semua ini. Haha, terdengar alay dan klise, mungkin. tapi, ya, begitulah. Dan semua cerita berawal dari sini.


Aku sudah lupa itu hari apa, yang jelas sebuah pesan yang cukup “tidak singkat” masuk. Intinya, si dia mengajakku bertemu! Entah karena sama-sama sok sibuk atau bagaimana, pertemuan itu beberapa kali direncanakan, dan gagal. Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya kami bertemu! Meski bukan dengan si dia langsung, melainkan dengan temannya. Gadis delapan belas tahun itu memperkenalkan diri. Namanya Fithrothul Khikmah. Mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan jauh 2013. Dalam perkenalan singkat itu, dia juga memperkenalkan seorang temannya, Isna Pujiastuti, mahasiswa Program Studi Geografi dan Ilmu Lingkungan UGM 2013 – yang ternyata adalah orang yang sebelumnya berjanjian denganku. Dan perkenalan berakhir di situ, pada suatu sore di sudut Mushola Al-Ardhu.

Akhirnya aku bertemu dengan dua temanku lainnya: Ima Rahmawati dan Azzadiva Ravi Sawungrana. Kami bertiga adalah mahasiswa Program Studi Kartografi dan Penginderaan Jauh UGM 2012. Singkatnya, kami dipertemukan oleh sebuah visi. Terdengar agak berlebihan, mungkin. Tapi kami memiliki tekad dan mimpi yang segaris, lurus. Bermodal itu, kami beberapa kali mengirim abstrak. Kami hanya bermodal abstrak sampai akhirnya mendapat kesempatan menjadi juara di suatu ajang perlombaan. Alhamdulillah. (Link to MUN). Oke, kembali ke kisah kami berlima.

Singkatnya, pertemuan-pertemuan kami berlima selanjutnya adalah mebicarakan proyek. Entahlah. Semacam mekso, terkadang. Tapi itulah anak muda, orang-orang yang jiwanya belum tenang jika belum mendapatkan yang diinginkan. Dan salah satu keinginan kami adalah : Going Abord ! lalu kami mencari, mencoba, berusaha, berkorban, tak lupa berdoa, bahkan kehilangan. Satu hal yang sering saya buktikan adalah: Tidak ada hal besar tanpa pengorbanan yang besar pula. Dan semua itu memang sebanding, dan terbukti dengan tepat!

Lalu kami diberi kesempatan. Jepang adalah negara pertama yang dipilihkan Allah untuk kami. Bersyukur? SANGAT! Tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadaNya. Dia, yang tidak pernah berhenti mendengar doa kita, meski seringnya, kita hanya berdoa saat membutuhkan, Allah...
Akhirnya, proses panjang dimulai. Berawal dari pengiriman naskah – two pages manuscript – yang membuat saya pening di tengah malam, urusan passport yang harus bolak-balik Kanim, urusan VISA dengan agen yang menegangkan dan pada akhirnya kami (tiga orang dari kami) harus mengurus sendiri ke Kantor Kedubes Jepang di Jakarta, urusan finansial, sponsor, yang sungguh menguras tidak sedikit tenaga, sampai urusan perizinan yang subhanallah, membuat bapak-ibu akademik, TU, dekanat, semua, sampai hafal dengan muka dan nama kami. 

Haha, terima kasih, pak, bu, jasamu tak akan kami lupa. Mumumu, hihi :3 Juga, mas-mbak dan ibu-ibu di KUI UGM, arigatou ne, maaf sudah sangat merepotkan. Kepada teman-temanku, Erika, yang sudah bersedia menemani saya berhujan-hujan, lalu mengerjakan laporan yang tetap saja belum selesai, haha, Dhika, yang rela pagi-pagi bangun tidur saya mintain tolong buat nyari taksi hihi, Nisa, Icha, dan teman-teman serta civitas akademika Fakultas Geografi lainnya, aaaaak terimakasih! Saya terharu, bangga, dan sangat bersyukur mempunyai teman seperti kalian! Lalu, mbak-mbak kos, yang sudah teramat peduli dengan saya, tapi saya cuek dan ga peduli haha, maaf njih mbak :3 Lalu, pada bapak-bapak penjaga markas, maaf sering pulang terakhir dan membuat menunggu haha. Tak lupa, kepada kedua orangtua kami, ayah, ibuk, dan satu adek manisku, nuwun sanget nggih, aishiteruuuu!!! Tidak ada lagi yang bisa kami ucapkan, yah, buk. Tidak akan ada hari ini tanpa doa, kasih sayang, dan tentu saja dukungan moral dan material dari ayah dan ibuk. At least, akhirnya kami berangkaaat!

Ihik, berasa bikin kata pengantar skripsi :3

Ah, jadi lupa mau bilang apa lagi.
Oh iya! Satu lagi harapan saya. Semoga tas saya tiba-tiba massanya menyusut! :3

Baik, sampai disini dulu. Semoga niat kami selalu terjaga. Bismillah.



Fajar Utama Yogya,
Minggu, 8 Desember 2013 13:19 WIB
A good daughter, sister, wife, and mom wanna be.
Andika Putri Firdausy.

Lets be a better one, keep doing the best, and let Allah do the rest!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar