Selasa, 19 Februari 2013

Waduk Sutami

Selasa, 12 Februari 2013, hari kedua kuliah pada semester dua. Hari itu hanya ada dua mata kuliah, Ilmu Wilayah dan Representasi Data dan Semiologi. Ada sepotong kisah menarik sewaktu kuliah Ilmu Wilayah. Jadi begini ceritanya:




Sebenarnya, sama sekali tidak ada hubungannya antara foto diatas dengan materi kuliah Ilmu Wilayah hari itu. Hanya saja ada sedikit cerita menggelitik. Pak Dosen mengawali perkuliahan dengan menjelaskan beberapa definisi dari mata kuliah tersebut (Ilmu Wilayah). Kemudian beliau menyebutkan salah satu nama yang telah memberikan definisi ilmu tersebut sambil bertanya kepada mahasiswanya, 'Ada yang pernah dengar nama Sutami?'. Entah darimana asalnya, rasa keberanian yang langka sekali itu tiba-tiba muncul dan membuatku nyeletuk, 'Saya tahu pak, itu nama salah satu waduk di Jawa Timur.', melihat beliau yang berekspresi seperti kurang puas atau bagaimana, dengan PDnya aku menambahkan 'itu letaknya di perbatasan antara Malang dan Blitar, pak.'. Glek. Hening sejenak. Nampak raut muka yang sedikit bingung atau entah bagaimana aku tidak bisa menjelaskannya, seperti akan bilang 'maksud saya bukan itu, mbak', begitu, tapi khusnudzon saja toh kemudian beliau melanjutkan penjelasan tanpa mengkritik responku. Dan ternyata yang dimaksud oleh beliau adalah Prof. Dr. Ir. Sutami. Beliau adalah salah seorang yang memberi definisi pada kata Ilmu Wilayah.  
Ilmu Wilayah adalah ilmu yang mempelajari wilayah sebagai suatu sistem, khususnya yang menyangkut hubungan interaksi dan interdependensi antara subsistem utama eko-sistem dengan subsistem utama sosial sistem, serta kaitannya dengan wilayah-wilayah lainnya dalam membentuk suatu kesatuan wilayah guna pengembangan termasuk penjagaan kelestarian wilayah tersebut (Sutami, 1997).
Setelah Pak dosen melanjutkan penjelasan, aku kemudian berpikir. Jangan-jangan, tadi aku salah menyebutkan nama, jangan-jangan nama waduknya bukan itu, jangan-jangan... Ah, aku jadi menyesal telah terlalu berani menjawab pertanyaan yang tidak seharusnya kujawab, apalagi dengan pengetahuan yang sangat minim. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari keterangan tentang nama waduk itu dan akhirnya ketemu. *Dan ternyata aku tidak salah! :D
Di daerah perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar (tepatnya di Kecamatan Sumber Pucung, Desa Karangkates) memang terdapat waduk. Di daerah tersebut terdapat dua buah waduk yang berdekatan, entah memang berbeda atau satu waduk dengan jarak tertentu. Yang pasti, setiap anda akan pergi ke Blitar dari arah Malang, anda akan melewati waduk-waduk tersebut. Waduk sendiri adalah sebuah cekungan yang ada di daratan. Waduk atau yang biasa disebut dengan danau buatan sengaja dibuat untuk menampung air, bisa untuk PLTA, irigasi, atau kebutuhan yang lain. Nah untuk di Sumberpucung ini, terdapat dua buah waduk (setahu saya) bernama Waduk Sutami dan Waduk Karangkates. 
Waduk pertama yang kemudian saya sebut sebagai Waduk Sutami (karena ada tulisan seperti itu di pintu gerbangnya) adalah waduk yang terdapat di sebelah kiri jalan dari arah Malang. Kalau anda ingin melihat waduk ini, anda harus memasuki wilayah objek wisata waduk ini yang terdapat di sebelah kiri setelah terminal kecil Sumberpucung sebelum memasuki wilayah jalan berliku-liku yang biasanya dilalui kendaraan umum seperti bus dan truk. Bingung? Hehehe, tenang saja, anda bisa bertanya pada orang disekitar situ. Waduk ini mudah dijangkau kok, anda bisa menaiki bis jurusan Malang-Blitar kemudian turun di Sumberpucung atau Karangkates, pak kondektur pasti sudah tahu. Jika anda bepergian ke Blitar dengan menaiki kereta api, setelah stasiun Sumberpucung anda akan melewati dua buah terowongan. Usut punya usut, dua buah terowongan tersebut adalah terowongan yang dibangun di bawah bendungan di waduk ini. Jika anda cermat, anda juga bisa melihat sebagian waduk yang airnya berasal dari sungai Brantas ini, seringnya yang saya lihat airnya berwarna hijau seperti cincau. Dan anda juga bisa dengan jelas melihat cerobong yang ada di sana seperti ini:


Saya sendiri pernah sekali memasuki wilayah wisata waduk ini beserta keluarga saya. Tetapi itu sudah lama sekali, sekitar empat tahun yang lalu. Pada waktu itu saya baru ngeh bahwa jalur kereta api yang biasanya saya lewati berada di bawah bendungan disitu, masyaAllah. Di atas bendungan itu sendiri terdapat sebuah jalan, sepertinya sih bukan jalan umum yang bisa digunakan oleh sembarang orang. Saya sendiri tidak tahu dengan pasti, tetapi setahu saya jalan itu cukup lebar dan sepertinya digunakan sebagai mobilitas orang-orang di kawasan tersebut. Udara disekitarnya sangat sejuk, kami menikmati es dawet yang memang menjadi jajanan yang banyak dijual disekitar situ. Meskipun nampaknya sederhana, es dawet yang ada sangat segar dan manis. Di kawasan wisata waduk ini juga terdapat kolam renang, seingat saya ada dua kolam yaitu untuk orang dewasa atau remaja, satu lagi kolam kecil untuk anak-anak yang memang relatif dangkal. Oh iya, saya sendiri sudah lupa berapa biaya untuk memasuki kawasan wisata waduk ini, tidak merogoh kocek terlalu dalam menurut saya. Seingat saya yang entah benar atau salah, empat tahun yang lalu sekitar 3-5 ribu rupiah, mungkin sekarang paling mahal sepuluh ribu rupiah, yang pasti sangat disarankan bagi anda yang ingin berpiknik dan berkumpul bersama keluarga anda.






Waduk kedua yang kemudian saya sebut sebagai Waduk Karangkates (yang lagi-lagi karena tulisan di gerbangnya seperti itu) adalah waduk yang bisa kita lihat secara langsung ketika kita pergi ke Blitar dengan kendaraan pribadi. Jalan di tengah waduk ini memang dijadikan jalan umum meskipun ketika melewatinya tiap kendaraan tetap ditarik biaya retribusi sebesar Rp 2.000 untuk mobil dan 1.000 untuk motor. Di sepanjang jalan di atas waduk ini terdapat banyak pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam dagangan terutama makanan. Bagi anda yang lelah melakukan perjalanan bisa berhenti sejenak dan membeli makanan di PKL tersebut sembari menikmati keindahan dan kesejukan waduk. Pada bulan Ramadhan biasanya banyak orang yang ngabuburit disitu, menikmati indahnya senja sembari menantikan adzan Maghrib. Saya sendiri pernah beberapa kali mampir ketika akan ke rumah keluarga di Blitar. Kami berhenti sejenak dan menikmati es dawet yang segar dan manis. Sejuknya udara disitu membuat kami ingin berlama-lama, tetapi kemudian kami ingat bahwa kami harus melanjutkan perjalanan untuk bertemu sanak saudara kami.
Di waduk ini juga terdapat semacam area rekreasi sama seperti di waduk pertama. Hanya saja anda harus memasuki area tersebut dan membayar biaya memasuki kawasan wisata terlebih dahulu. Saya sendiri belum pernah masuk ke dalam, karena dari luarpun sudah bisa menikmatinya hehe. Setahu saya di dalamnya juga terdapat permainan flying fox dan semacamnya.
Begitulah sedikit paparan tentang Waduk Sutami yang saya tahu, semoga bermanfaat.

Sumber: http://pustaka.pu.go.id dan pengalaman pribadi :D
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar