Rabu, 16 Januari 2013

Tulus, masih adakah ?

Tulus, masih adakah?

Karena di balik setiap pergerakan selalu tersirat bercak-bercak perpolitikan.
Demokrasi memang tidak baik dan tidak sesuai syariat. Tetapi bukankah Rasulullah mengajarkan tentang bermusyawarah? Dan bukan mengambil keputusan sepihak? Hey bung, bangunlah kau!
#sigh. Sepertinya membutuhkan tarikan nafas yang cukup panjang sebelum memulai pembicaraan tentang semua ini. Baiklah. Bismillah, semoga Allah senantiasa meluruskan niat kita.
Ehm, baru beberapa bulan memasuki dunia kampus yang nampaknya tenang, ternyata benar-benar menghanyutkan! Entahlah. Terkadang banyak hal yang kita tidak tahu dimana letak kebenaran sejatinya. Atau bahkan patut dipertanyakan, masih adakah kebenaran sejati? Hidup memang begitu, penuh dengan tipu daya. Bahkan  jaman sekarang  tipu daya manusia sanggup mengalahkan tipu daya iblis! Astaghfirullah. Cukuplah Allah sebagai penolong.
Kembali lagi. Malam ini tiba-tiba tubuhku bergejolak. Bukan, aku tidak sedang sakit ataupun tidak enak badan. Hanya saja pikiranku melayang entah kemana. UAS yang tersisa dua hari lagi, tugas dikejar deadline, pulang kampung, semua itu membuatku tiba-tiba menjadi sedikit linglung. Malam ini aku  tidak berada di tempatku. Meski jasadku masih setia berpijak di atas bumi ini, tapi nyawaku beterbangan entah kemana. Ditambah beberapa informasi yang semakin membingungkan dan mungkin menggoyahkan keyakinanku.
Politik. Ada yang bilang politik itu bagai rokok yang lebih baik tidak didekati. Ada juga yang bilang politik itu memang cenderung kurang baik, tetapi apabila kita tidak berpolitik maka kitalah yang akan dipolitisasi. Ada lagi yang bilang bahwa hidup tanpa politik itu bagai sayur tanpa garam, hampa! Lalu, bagian mana yang harus kita ambil? Bukankah ambil yang baik dan tinggalkan yang tidak? Tapi apakah kita tahu mana yg benar-benar baik dan mana yang tidak? No one knows!
Pada jaman sekarang, bahkan orang yang bisa dibilang paling sucipun masih tersirat dengan desas-desus politik. Ada saja yang memunculkan isu. Entah itu nyata atau tidak, tidak ada yang benar-benar tahu. Terkadang dibalik suatu amanah, tersimpan sejuta rahasia. Tidak bermaksud su’udzon, hanya saja dunia saat ini sangat tidak mudah untuk ditebak. Tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi tahun depan, besok, atau bahkan detik berikutnya.
Mungkin diantara ketiga perbedaan pandangan tentang politik, aku sendiri lebih cenderung kepada yang kedua. Bahwa ketika kita tidak belajar tentang itu (politik), maka kita yang akan ikut arus, terpolitisasi! Hanya saja yang menjadi pertanyaanku sekarang, apakah sekarang sudah tidak ada lagi orang yg tulus , benar-benar  tulus ketika dia mendapatkan atau meminta sebuah amanah? Apakah tidak ada yang benar-benar ikhlas berkontribusi tanpa pamrih? Mungkin dirinya sendiri atau kita sendiri juga tidak tahu apakah kita benar-benar tulus atau tidak, tetapi setidaknya kita harus mengerti bahwa hidup itu tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya orang lain, kita butuh mereka, kita butuh orang lain.
Kemudian yang menjadi permasalahan adalah masuknya anggota satu golongan ke golongan lain dengan membawa misi tersendiri dari golongan asalnya. Sejujurnya, terkadang aku masih tidak mengerti, bingung, apakah ini salah atau tidak. Tetapi kembali lagi, ketika kita telah ‘bermain-main’ dengan politik maka semua itu tidak akan menjadi masalah. Ada beberapa alasan sih.. Tetapi ketika alasannya adalah untuk kemaslahatan umat dan misi yang diemban sama, menurutku itu tidak akan menjadi masalah. Mungkin aku memang belum terlalu mengerti tentang seluk-beluk hal seperti ini dalam perspektif islam atau yang lain, tetapi bukankah islam itu selalu manusiawi, dan ketika dipandang secara manusiawi, musyawarah adalah jalan yang terbaik.
Sebenarnya ini tidak hanya menyangkut tentang satu permasalahan saja. Tetapi kemudian permasalahan-permasalahan yang ada masuk tanpa tersaring ke dalam otakku. Serasa diaduk dengan blender sampai lembut seperti adonan kue. Dipanaskan , mengembang, dan karena terlalu lama akhirnya gosong dan, meledak! Dhemb! *apasi -_-
Hahaha saking bingungnya jadi ngaco. :D
Sudahlah, lupakan!
Intinya sih cuma satu, hanya ingin sedikit berbagi, bahwa Rasulullah selalu mengajarkan kita untuk bermusyawarah, tidak melalui keputusan sepihak, itu saja. *Bahkan ketika Rasulullah bermimpi akan tanda-tanda kekalahan di perang Uhud, beliau tetap meminta persetujuan kepada sahabat-sahabatnya melalui musyawarah.
Semoga hal kecil ini masih tetap diingat oleh ‘petinggi-petinggi’ yang memang ilmunya sudah ‘tinggi’. Jazakumullah.
Selesai ditulis pasa 16 Januari 2012 pukul 20.44
*Dengan tangan terus menggaruk kepala, entah karena saking gatalnya, atau saking panasnya~ :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar