Jumat, 21 Desember 2012

Gadis Pesantren





Akhir-akhir ini aku jadi sering mendengar kata ‘pesantren’. Tidak asing memang, tapi tetep aja kata itu bikin aku terhenyak. Gimana engga, sejak masuk kuliah banyak yang bertanya ke aku “Kamu dulu alumni pesantren, ya?”, “Kamu mondok dimana?”, “Kamu kaya kelompok itu deh” *sambil nyebut sebuah kelompok yang aku sendiri ga tau itu apa. Sedikit freak, memang. Haruskah seseorang yang memakai jilbab yang ‘sedikit’ menjulur ke bawah disebut sebagai anak pesantren? Haruskah itu terjadi apabila memang seharusnya itulah yang dibenarkan syariat?
Terkadang aku bingung, kenapa banyak orang mengibaratkan jilbab yang ‘agak’ panjang dengan pesantren atau rohis. Memang, belum banyak orang yang sadar bahwa sebenarnya itu yang dibenarkan. Aku sendiri dulu juga begitu. Dulu waktu SMP aku ga pernah pake kerudung kecuali waktu ngaji atau ada acara keagamaan. Pikiran aku waktu itu sih simpel aja, toh jilbab itu ga wajib, yang penting aku solat. Mungkin itu karena efek ngajiku yang kurang serius atau bagaimana, entahlah wallahua’lam. Yang pasti, aku pernah merasakan betapa aku merasa belum membutuhkan jilbab. Sampe aku sadar bahwa itulah identitas yang membedakan aku, umat Rasulullah, dengan orang-orang kafir.
Kadang, ngerasa sedih juga ketika melihat orang-orang terdekat kita masih belum memiliki ‘identitas’. Bukannya sok atau apa, tapi coba deh dirasakan, ketika memakai jilbab yang ‘benar’, rasanya indaaah banget! Mungkin aku emang masih pemula, tapi yakin deh, rasanya itu sangat berbeda. Disini aku tidak menekankan pada ayat-ayat Al-Qur’an atau apa, karena aku yakin semua orang bisa mencari jawabannya sendiri. Tapi aku hanya ingin sedikit berbagi aja, betapa indahnya semua itu. Ketika tidak sembarang lelaki bisa melihat kita dengan seenaknya. Ketika harga diri terasa lebih ‘tinggi’. Entahlah, aku hanya bahagia dengan hidupku sekarang, insyaAllah.
Yeaah, terkadang masih makjleb juga kalo tahu bahwa orang-orang yang katanya lulusan pesantren tetapi jilbabnya terbang entah kemana. Sedih. Sekali lagi, bukannya sok atau apa, tapi sayaang aja kalo mereka menyiaka-nyiakan apa yang telah mereka dapatkan, sedangkan di sisi lain, aku tengah mengais-ais pengetahuan tentang semua itu.
Tetapi dibalik semua itu, ketika kita mampu mengambil hikmahnya dengan terus memperbaiki diri, insyaAllah akan dimudahkan. Semoga Allah selalu menjaga keistiqomahan kita di jalanNya. Semoga Allah meluruskan niat kita dan menjadikan kita seseorang yang lebih baik lagi. Aamiin.


YK,
1 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar