Rabu, 09 Maret 2011

Tajuk Rencana - Tugas Bahasa Indonesia


-->
Buta Karena Putra Mahkota
APA yang lebih menjijikkan dibanding seorang diktator? Anak-anak mereka yang bernafsu meneruskan tahta empuk sang bapak! Tanpa melalui pemilu, tanpa restu dari rakyat, hanya memanfaatkan nama besar ayahanda, dan ancaman senjata serta penjara.
Dari kawasan Arab dan Timur Tengah yang tengah bergejolak, kita memandang dengan muak tingkah laku para putra mahkota seperti Saif Al-Islam Kadhafi di Libya, Ahmed Ali Abdullah Saleh di Yaman, dan Gamal Mubarok di Mesir. Saat kehendak perubahan demikian massif diteriakkan di jalan-jalan, mereka justru berusaha membutakan para ayah dari realita yang ada, meyakinkan untuk bertahan dengan segala cara, dengan segala harga.
Akibatnya adalah kengerian. Dalam pidatonya di televisi, Saif mengancam bakal pecah perang saudara kalau demonstrasi menuntut pengunduran diri Kadhafi terus berlangsung. Itulah yang terjadi kemudian.
Di Tripoli dan Benghzai, ratusan nyawa melayang karena kebrutalan para tentara bayaran. Mereka bisa dengan gampang menangkap, menyiksa, atau bahkan membunuh siapa saja yang dicurugai sebagai bagian dari oposisi. Sedemikian mengerikan sampai Tripoli berubah menjadi kota mati.
Tapi, dua hari lalu, dengan enteng, Khadafi menyatakan tak pernah ada kekerasan. Kita tak tahu apa yang telah dilakukan Saif hingga sang ayah bisa demikian buta. Mungkin dia melenakan Kadhafi dengan tarian perut di tengah kehangatan para pengawal pribadinya yang cantik-cantik itu. Atau, mungkin dia mengubah semua saluran televisi di istana sehingga cuma berisi tayangan sinema dan liga Italia.
Kita ingat di Mesir, Gamal juga melakukan hal serupa. Saat orang-orang terdekatnya –termasuk kalangan militer– menekan Mubarok untuk turun, Gamal-lah yang justru bersikeras meyakinkan bapaknya untuk bertahan. Dia pula yang diyakini mengerahkan para preman bayaran berkedok pro-Mubarok untuk melawan para demonstran di Alun-alun Tahrir, Kairo. Buntutnya, darah pun tumpah.
Padahal, semula, harapan demikian tinggi disandangkan di pundak para buyung istana itu. Saif dan Gamal berlatar belakang pendidikan Barat dan terbiasa bergaul di lingkungan jetset Eropa. Tak heran kalau lantas banyak pihak berasumsi mereka bakal lebih liberal dan moderat dibanding ayah-ayahnya.
Tapi, mungkin banyak yang lupa, privilege itu, yakni pendidikan dan pergaulan elite, mereka nikmati semata berkat keringat sang bapak. Bukan karena kerja keras mereka. Mereka memang pengusaha, tapi pengusaha papan nama. Hanya menjadi makelar bagi tiap investasi asing yang masuk.
Jadi, ketika bapak-bapak mereka hendak dirobohkan, merekalah yang paling merasa khawatir. Sebab, mereka tak terbiasa hidup tanpa hak-hak istimewa. Kisah anak-anak Shah Reza Pahlevi mungkin bisa menjadi referensi. Satu per satu keturunan mantan penguasa Iran yang digulingkan lewat revolusi 1979 itu tewas secara tragis di tempat pengasingan karena bunuh diri dan depresi.
Barangkali, itu pula yang membuat para penguasa di kawasan Arab dan Timur Tengah demikian berjarak dari rakyat yang dipimpinnya: anak-anak yang manja, istri-istri yang doyan harta, dan para pembvisik yang tak mau kehilangan jabatan. Karena itu, setelah puluhan tahun berkuasa, mereka justru kian terisolasi di istana.
Tapi, pemimpin Syria Bashar Al Assad –yang juga mewarisi kekuasaan dari sang bapak, Hafez Al Assad –sudah mengingatkan, mau tak mau para penguasa Arab dan Timur Tengah sekarang harus mulai membuka diri. Tuntutan rakyat mesti didengar. Hak-hak asasi yang semula ditekan harus dipulihkan. Sebab, dengan mengangkat senjata atau memboikot Facebook dan Twitter sekalipun, bola salju perubahan tetap bakal sulit dihentikan.
Mungkin ini nasihat yang agak terlambat. Tapi, lebih baik terlambat berbenah daripada membunuhi rakyat sendiri, bukan?
Jawa Pos . Sabtu, 26 Februari 2011          

Keterangan:
     : Kalimat opini (warna biru tulisane reeekk)
     : Kalimat Fakta (warna ijo tulisane reeekk)
Permasalahan:
-->
Penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan seorang  penguasa oleh sang anak dengan cara memanfaatkan nama besar ayahnya. Anaknya merasa sangat khawatir ketika jabatan seorang ayahnya sudah mulai lengser dan bergejolak. Karena mereka sudah terbiasa dengan kemewahan yang diberikan oleh ayahnya. Mereka akan berjuang dan berusaha sekuat tenaga agar ayahnya tetap  menjabat sebagai seorang penguasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar