Senin, 19 Maret 2018

Silhouette

SIL•HOU•ETTE :// (N) 

The dark shape and outline of someone or something visible against a lighter background, especially in dim light.

-

Anyway, kamu tau nggak kenapa 'siluet' itu mostly terlihat sangat bagus, eye-catching, lagi instragam-able?

Kenapa?

Karena siluet itu diambilnya dari samping, yang sebagian.

Hah? Maksudnya?

Iyaaa, siluet kan, hanya memperlihatkan sebagian dari objek, bukan keseluruhan.

Lalu?

Itu, sama seperti ketika kita melihat orang lain, atau orang lain melihat kita. Hanya sebagian. Enggak pernah utuh. Hanya orang-orang tertentu, semisal keluarga, yang tahu benar-benar tentang kita. Atau bahkan, merekapun enggak tahu. Hanya Allah yang tahu. Bahkan, bisa jadi lagi, diri kita sendiri, belum tentu memahami jati diri yang sesungguhnya.. Jadi, ya gitu. Kadang, prasangka orang hanyalah sebatas persepsi yang tidak terbukti. Karena, mereka cuma tau sebagian aja dari diri kita.

Hmm begitu rupanya. Lantas?

Benarnya sih, yaa kita enggak perlu lah menceritakan diri kita ke orang lain, apalagi sampai membagus-baguskan diri di depan orang lain. Sama sekali enggak perlu. Karena,

Karena yang menyukai kita nggak membutuhkan itu, dan yang nggak menyukai kita nggak akan percaya itu, kan?

Yak, benar sekali, layaknya quotes dari Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sebentar, terus, kita kudu gimana?

Lakukan yang memang kita sadar ingin dan butuh kita lakukan. Bukan karena orang lain. Tapi karena Allah. Karena nilai dan prinsip yang kita pegang kuat-kuat.

Sanggup?

Mungkin kalau sendiri enggak, tapi kalau barengan, semoga lebih bisa deh~

-

Okey, percakapan yang agak absurd. No father-father. Yang penting kita sama-sama paham, kalau hidup bukan cuma ngalir, apalagi cuma demi orang lain. Ada masa depan lebih besar yang sedang kita perjuangkan. Let's hit the book! 😎


#ntms

Selasa, 06 Maret 2018

Mars BMKG

Kami BMKG, handal dan terpercaya
'Tuk mendukung keselamatan masyarakat kita
Pengamatan yang tepat, data-data akurat
'Tuk membangun Indonesia yang aman dan nyaman

Meteorologi, Klimatologi, Geofisika, dan Kualitas Udara
BMKG handal, BMKG tanggap
Demi Indonesia

Kami pun berjanji, bersatu 'tuk mengabdi
Bagi negara dan dunia, setulus jiwa
Itulah semangat kami, dalam kata dan aksi
T'lah tertanam dalam hati, semangat yang tinggi

Meteorologi, Klimatologi, Geofisika, dan Kualitas Udara
BMKG handal, BMKG tanggap
Demi Indonesia

Meteorologi, Klimatologi, Geofisika, dan Kualitas Udara
BMKG handal, BMKG tanggap
Demi Indonesia

Demi Indonesia


.
.
.

Audio dan cerita lainnya menyusul 😁

Senin, 05 Maret 2018

Katanya Siap

Katanya, yang mengukur siap atau tidak itu, sebenarnya bukan diri kita sendiri, tetapi orang lain. Bahkan, bukan juga keduanya, melainkan Allah.

Ada, yang merasa siap, tapi tak berhenti meratap ketika yang ditunggu tak kunjung tiba. Ternyata, Allah rasa, dia belum cukup siap.

Ada, yang merasa belum siap, tapi tetiba ada yang datang menjemputnya dari persembunyian. Ternyata, Allah rasa, dia sudah pantas dikategorikan siap.

Lalu, apa parameternya?

Katanya, ia akan tiba ketika seseorang berada pada puncak ketaqwaan. Ketika tak ada lagi yang menjadi puncak harapan selain Allah, tak ada tujuan selain Allah, tak ada penghambaan selain kepada Allah.

Bukankah, yang lebih pasti adalah menemuiNya?

Semoga dalam keadaan terbaik, di puncak keimanan dan ketaqwaan.

Jumat, 23 Februari 2018

Anak Malang

Hari mulai gelap
Cahaya lampu satu per satu mulai menerangi sudut-sudut kota yang riuh
Hiruk-pikuk manusia yang membuat ruang semakin penuh
Hilir mudik mencari sesuatu pengganti peluh

Di sudut lain yang lebih jauh
Seorang anak kecil baru saja beranjak dari hutan yang teduh
Kaki kecilnya melangkah dengan cepat, beradu dengan langit yang berawan jenuh
Ia cepatkan lagi langkahnya, agar seikat kayu di panggulnya tak basah oleh runtuhan air yang tak sabar terjun dari langit

Sesampainya di gubuk kecil beratap jerami, segera ia susun kayu demi kayu yang telah ia kumpulkan di tepi hutan tadi
Tinggal satu masakan lagi, batinnya
Berasnya habis
Tak ada pula makanan yang lain
Biarlah, yang pasti, mamak dan ketiga adiknya malam ini bisa tidur nyenyak
Besok, biar ia cari ubi jalar di hutan
Syukur jika ia mendapatkan ikan di danau tengah hutan
Atau, barangkali membantu pak haji mengangkut pasir saja?

Ah,
Dia memang anak yang kuat
Setiap hari tak pernah lelah bekerja demi menghidupi mamak dan adik-adiknya
Sejak hulu subuh, terbit-tenggelam fajar dan mentari, hingga rembulan yang menggantikannya lagi
Semoga, nasib baik segera menghampirinya
Anak malang di ujung pedalaman

Rabu, 21 Februari 2018

Berkelana di Ibukota

Haaai akhirnya aku sampai kosan meski lewat maghrib wkwk. Sebenernya mau nulis yang lain tapi gapapa lah ini terlalu seru untuk dilewatkan 😂

Jadi ceritanyaaa, selasa kemarin motorku datang dari Jogja. Sebenarnya udah dari hari jumat, tapi karena ku harus pergi ke Serang dlsb, jadi baru diambil di sekitar Senen hari selasa pulang kerja. Pertama kali ketemu si "Abang", kageeet hahaha. Kotor banget lah dia parah, blethokan gitu. Itu sekitar jam 5an waktu ibukota, tau lah yaaa macet2nya kek mana wkwk. Bermodalkan gmaps, akhirnya ku pulang dengan selamat hehe alhamdulillah jalannya familiar dan ga ribet karena kayanya siih pernah lewat.. Daan langsung sore itu juga ku cuci bersih biar dia sehat dan siap mengarungi kerasnya (?) ibukota ~

Beberapa hari bawa motor ke kantor. Kesannya? Enak siih wkwk karena lebih murah. Banget. Which is biasanya ngegojek kalo pake gopay dan harga normal (bukan peak hour) kena 12ribu PP, pernah lebih. Sedangkan bensin full sekitar 25ribu bisa dipake lamaaa, seminggu lebih sih kayanya karena jarak kantor-kosan sekitar 3km lebih dikit. Selain itu lebih fleksibel juga kalo mau mampir entah beli makan atau yang lain. Cuma ya beda yaaa, tinggal duduk di ojek sm bawa motor sendiri. Tapi karena udah biasa juga di Jogja dulu jadi pembalap jadi malah lebih suka bawa motor sendiri wkwk. Cumaaan, ada satu hal sih yang sedih hahaha, stasiun deket sini ga ada parkiran jadi tetep harus gojek, dan harganya naik, biasa 8ribu kemarin 11ribu :((

Rasanya motoran di Jakarta?
Seru siiih hahaha melatih kesabaran bener dah 😂 karena sebenarnya macet bukan cuma di Jakarta sih yaa, dan alhamdulillah di daerah antara kos-kantor macetnya ga banyak, bahkan ga ngelewatin lampu merah sama sekali. Enaaakk alhamdulillah hihi. Cuma ya selain kitanya yang harus sabar, banyakin dzikir juga hehe, terus juga harus sigap dan ga boleh ragu. Karena selain bakal lama sampe, kita juga bakal diklaksonin teruuuss ama yang belakang hahaha. Bahkan nih ya, kita udah bener aja tetep di klakson, saking mereka pengen cepet -___- padahal mah ya, kalau mau sesuai aturan, harusnya bisa lebih tertib dan enak buat semua pengguna jalan, dan ga ngerugiin siapa2. Jadi ingat betapa kzl nya diriku di ringroad pas di Jogja, kalau ada mobil yang jalan di jalur lambat, tapi bikin dua lajur, which is sebenernya cuma muat satu mobil dan satu motor. Allahuakbar, rasanya kalo boleh pengen aku tabrak aja biar baret hahahaha jahat kali gue astaghfirullah :( tapi yaaa gimana yaaa, buat motor aja ngepas lhooo, malah dipaksa buat dua mobil. Njuk motornya suruh lewat atas mobil gitu ta? :(

Malah bahas di Jogja wkwk. Skip.

Oiyaaa selain yang tadi-tadi, yang penting juga dalam berkendara adalah, istiqomah wkwk. Elah , berkendara aja butuh istiqomah yeee 😅 Etapi bener lhoo, maksudnya tep istiqomah dalam menaati aturan. Semacam peraturan standar berkendara kek helm, lampu, surat dlsb, juga termasuk jalannya motor sebelah mana (ga masuk jalan busway -.-), lampu merah, dkk. Syusyah euy ternyata. Yaaa emang namanya istiqomah mah daridulu juga ga gampang yaaa :( tapi perlu dilatih euy. Semangat, Put! Kudu kuaaat.

Jadi, ceritanya, (calon) mamak-mamak satu ini, lagi galau abeeezzz gegara, belum nemu tempat belanja yang tepat gituh -,- Tepat means, murah hahahaha, dan lengkaap.. Karenaaa, entahlah orang2 ini suka kali belanja di mart-mart-an yang muahaaallll eeee gak ketulungan itu astaghfirullah T.T kalo dulu di Jogja mah (Jogja lagi Jogja lagi) buanyaakk yang murah hehe dan itupun masih sering kubanding2kan harganya, karena mereka deket juga kan, jadi hayuk aja cari yg diskon dlsb 🙈 500 yang berulang sangat berarti euy, apalagi anak kosan kan yaaa wkwk #mamakmamaklyfe

Singkat cerita ada keperluan mendesak yang harus segera dibeli gitu, dan udah sempet nanya ke beberapa orang dimanakah wakamsi (warga kampung sini) biasa berbelanja hehe. Awalnya mau ke Omi (koperasi kantor) aja dulu, seadanya, tapi karena tadi ada acara sampe agak sore gitu, Omi dah tutup. Dan pas udah belok keluar kantor langsung menyadari, eh sekarang ajadeh perginya, mumpung masih terang, dan sekalian aja gitu. Lalu ku searching lah di gmaps..

Nama tempatnya "Days" (alias Hari-Hari) di bahasa Indo-in wkwk (biar ga sebut merk, tapi naon bgt sih yak haha). Setelah melewati keganasan jalanan ibukota yang subhanallah banget yak jam lima sore, ditambah gatau jalan dan mengandalkan gmaps wkwk, ditambah pula letaknya yang unpredictable di dalam mall yang udah agak sepuh (?) dan menurutku agak ngeri sih sendiri (biasanya ga punya takut padahal hahaha cm ngerinya tuh lebih ke kriminal siih, bukan yg kek gitu..tau kan?).

Sampai dalam semacam jumbo mart nya, eeh bener ajaaa, harganya jauuuh bangeet sama yang di mart-mart-an deket kosan huhu. Langsuuung deh ngecek list barang2 yang dibutuhkan dan berkeliling. Alhamdulillaah mayaaan bangets, kusenang bisa menghemat puluhan ribu kali yaa kalo belanja segitu di sono :" tapi tetep ada yang belum kebeli siiih karena selain belum butuh banget, masih bisa diskip atau substitusi dengan barang lain, juga karena budget terbatas wkwk. Dan karena hari beranjak malam, mari kita segera pulang~

Jalanan ibukota setelah maghrib sekitar 18.30 kek mana? Hmm yhaaa gitu lah. Like, klakson everywhere, dude.! 😆 alhamdulillah mental map cukup aman lah yaa, jadi liat gmapsnya cuma sekali aja pas pulang. Yhaa udah cocok lah daftar driver ojol .-. Sebenernya masalahnya itu-itu aja sih, kesabaran menahan ego, karena lampu merah aja diterabas kan, apalagi yang ga ada traffic lightnya. Kebayang kan, kek mana orang2 rebutan biar dapat jalan duluan? Saya mah ngikut alur aja, karena kalo enggak, siap2 aja di klakson terus dr belakang haha.. Macet dikit juga di jalan arah Sunter-Kemayoran, biassaaa siih, setelah jalan besar tetiba jadi cuma satu lajur, jadi yhaa gitu, rebutan lagi wkwk.

Intinya mah, selama masih bisa jalan, jalan we lah. Asal ada tujuannya *yaiyalah. Dan yang jelas kudu bersabar polll. Ku jadi ingat di Jogja hampir selalu kzl sama mobil plat B karena mostly ngawur #eh hahaha, walau ada juga siih yang enggak. Eeh ternyata sekarang malah jadi orang sini (?) wkwk. Takdir Allah emang nggak ada yang tau yaa :"") malah kemana hahaha. Intinya sabar dan perbanyak dzikir di jalan, daripada di pake yang lain kan?

"Karena hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

Sekian tjoerhad kali ini. Seeya.

Ditulis, 12 Februari 2018
Selesai diedit seminggu lebih kemudian, wk.

Rabu, 14 Februari 2018

Dekat-dekat Saja

Kemarinnya kemarin, temanku cerita. Katanya, hidup dia berubah..

Dulunya dulu, dia menjalani hidup seperti biasa. Normal layaknya manusia lainnya. Kadang tersadar, kadang juga terlupa. Biasa, namanya juga manusia kan ya~

Tapi. Ada suatu waktu ketika ia menyadari hal penting dalam hidupnya. Pencarian makna yang mungkin sampai puncaknya? Entahlah. Tapi dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Seperti hidup di dalam hidup. Seakan melenggang dengan mudah di dalam setiap episode kehidupan.

Quran, katanya, yang membuat hidupnya berubah. Dia bukan, atau belumlah seorang penghafal. Tapi dia berusaha untuk menjaga yang sudah Allah karuniakan padanya. Rezeki untuk memahami cara membaca dan (mungkin) mentadabburinya. Dan, ia gunakan untuk terus mendekat padaNya dengan cara selalu dekat-dekat dengan Quran.

Dan, terbukti. Rasa-rasanya semua urusan menjadi mudah saja. Belum sampai berjuz-juz, 'cukup' satu saja, tapi, rutin. Iya, rutin. Katanya, itu kunci. Istiqomah memang berat, bukan? Tapi, istiqomah dalam dekat-dekat dengan Quran itu, banyak untungnya, banyak berkahnya. Perniagaan dengan Allah, termasuk dalam khidmat Quran, memang tidak pernah rugi, kan?

Kemarin, dia datang lagi. Katanya, hidupnya kembali banyak diuji. Sembari, dia bercerita bahwa kedekatannya dengan Quran memang tak seperti waktu sebelumnya. Banyak hal yang membuat dia jadi menjaga jarak. Eh, atau dibuat-buat saja?

Entahlah. Yang jelas, keberkahan ketika dekat-dekat dengan Quran itu nyata. Jadi, kami bersepakat untuk tak saling melupa, saling memgingatkan dengan saudaranya agar tak jauh-jauh. Disini saja. Bersama-sama. Agar, juga bisa ke surgaNya tanpa terpisah.

Ibukota,
14 Februari 2018

Andika Putri Firdausy

Jumat, 09 Februari 2018

Titik Marginal

Salah satu teori dari pelajaran pelajaran ekonomi jaman SMA yang paling saya ingat adalah tentang "Titik Marginal".

Intinya dalam teori itu seingat saya adalah; ada titik ketika kepuasan manusia mencapai puncaknya. Alias terbatas.

Misalnya, kita lagi haus banget-banget. Terus, ada yang menawarkan kita es kelapa muda yang teramat sangat segar sekali. Minumlah kita tanpa pikir.

Satu gelas, rasanya tidak bisa dideskripsikan saking enak dan segarnya. Dua gelas, juga masih terasa segar dan masih kurang. Tiga gelas, cukup melegakan. Empat gelas, perut kita sudah kenyang dan tidak ingin minum lagi. Jika diteruskan lima gelas, bahkan mungkin air itu akan kita keluarkan lagi.

Begitulah. Titik marginal ada pada gelas keempat, ketika kita sudah "puas" dan tidak ingin lagi menambah porsi. Dan kita baru sadar bahwa yang tadi-tadi itu, sesungguhnya hanyalah nafsu belaka...

Begitulah manusia.
Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaliii~

Keinginan kita mungkin tak berujung, lalu bisakah kita implementasikan pada rasa syukur?
Impian kita mungkin tak berbatas, lalu bisakah kita implementasikan pada stok sabar?

Sesungguhnya rahmatNya pula tak terbatas. Tapi sungguh kita lebih sering alpa tak mengingatnya. Padahal jika kita mau sedikit saja lebih bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan, tentu semuanya akan terasa lebih membahagiakan.

Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jakarta, 9 Februari 2018

Senin, 05 Februari 2018

Tentang Memasangkan

Seneng nggak siih kalian melihat pasangan muda-mudi aktivis-progresif gitu yang meniqa? Hahaha, kalau aku bukan senang, tapi bahagiaaa, sambil doain yang baik-baik 😍

Entah mengapa, sadar atau enggak, kita seringkali memasangkan (?) mbak yang satu dengan mas yang lain, yang menurut kita "cocok" dengan segala kelebihan dan tipikal mereka, entah bidangnya atau apapun yang ada pada diri mereka. Sejak jaman sekolah dulu, atau awal kuliah lah, seringkali mendoakan diam-diam (?) "pasangan" mbak-mas yang kita anggap cocok. Sama-sama pintar, aktif, kontributif, keren, de el el pokoknya mah berharap mereka (dan kita adalah regenerasinya) adalah sosok harapan Bangsa ini yang akan menjadi bagian dari perunahan Indonesia yang lebih baik. Hahaha rada lebay, ya?

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dunia nggak sesempit itu. Atau malah sesempit itu? Wkwk. Boleh jadi, mbak-mas yang kita pasangkan tadi "kebetulan" cocok. Atau, bisa jadi, mbak-mas tadi ternyata nggak cocok. Mereka hanya kita cocok-cocokan saja. Mereka, ternyata, memiliki pasangan mereka masing-masing yang "tidak kalah cocok" dengan yang selama ini coba kita pasang-pasangkan.

Hahaha, lucu ya? Memangnya kita ini siapa berani memasang-masangkan yang orangnya sendiri aja belum tentu melakukan hal yang sama. Tapi, kenyataannya, apapun yang terjadi pada mereka, siapapun yang bersama mereka sekarang (atau kelak), tentu mereka bahagia, bukan? Mereka menemukan partner-berjuang-selamanya dengan caranya masing-masing, dengan cara yang baik.

Jadi, berhentilah wahai kalian-kalian (dan aku hahaha) sang ahli nujum (?) yang hobi memasangkan manusia. Bukankah Allah sudah menjamin (54:21) bahwa setiap makhlukNya macam kita ini memang diciptakan berpasang-pasangan? Termasuk mbak-mbak dan mas-mas itu.

Berhentilah, sebelum mereka terpengaruh oleh candaan kalian, walaupun prinsip teguh mereka bisa jadi tak goyah hanya untuk meladeni candaanmu. Tapi, bukankah sebaik-baik penghantar perasaan adalah doa? Doakanlah.

Doakanlah mereka-mereka yang belum Allah pertemukan dengan jodohnya itu, supaya saling menemukan di waktu yang tepat. Ketika, sudah sama-sama siap mengarungi bahtera yang sesungguhnya. Sekarang, kita dulu yang perlu bercermin; memang, sudah apa kita dibandingkan ke-keren-an mereka-mereka? Baiknya kita perbaiki diri dulu saja dengan benar~

(masih di) Yogyakarta,
18 Januari 2018 02:38

Andika Putri Firdausy

#latepost wkwk baru inget sewaktu kemarin berdiskusi tentang suatu hal wkwk. Yhaaa intinya mah gitu. Jodoh adalah keputusan Allah. Kita boleh minta cem-macem, tapi hasil akhir tetap: hak prerogatif Allah. Soo, sebagai hamba yang baik, yang penting tujuan kita lurus, yang lain bakal ngikut aja~ 😉

Jakarta, lagi di ruang rapat yang kita kuasai  (08:06)

Minggu, 04 Februari 2018

Ruang Penyimpanan

Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kemarin, hari ini, dan esok. Tetapi, kita tidak akan pernah bisa menyimpan semuanya sendiri. Ada ruang-ruang yang kemudian hari menjadi sesak akan hal-hal yang telah terlalu lama terlewat. Ada bagian-bagian diri yang menjadi terlalu lemah apabila berlama-lama berkutat dengan yang seharusnya terlupa. Dan ada keping-keping hati yang harus diselamatkan dari kenangan-kenangan yang harusnya dilupakan.

Ada banyak hal yang telah kita lakukan, orang-orang yang pernah kita temui, dan pekerjaan yang kita selesaikan. Tetapi, tidak semuanya harus disimpan baik-baik selamanya. Manusia bukanlah komputer yang meski memiliki kapasitas terbatas, tapi tetap memiliki simpanan tak terbatas di ruang-ruang yang lain, harddisk misalnya.

Tapi, bukankah kita tidak mau seperti itu? Manusia, bagaimanapun jua, memiliki kapasitas terbatas yang harus dikelola dengan baik. Biarkanlah diri kita menjadi utuh dan tetap utuh tanpa menyimpan ruang di tempat yang lain. Karena semua itu hanyalah tentang kita, bukan? Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Maka demi itu, kita lagi-lagi harus memperbaiki ruang penyimpanan kita. Membaginya dengan mana yang urgent, prioritas, rutinitas, atau hal-hal sekunder-tersier yang layak dikemudiankan. Kita harus pandai-pandai membagi ruang, menyekat antar ruang, pun juga mengisinya dengan hal yang seharusnya. Seakan merapikan folder dalam ruang komputer yang berserakan. Bahkan terlalu berserakan. Atau jangan-jangan, kita perlu menginstal ulang saja semua?

Sepertinya tak perlu. Cukup berdamai dengan diri dengan menghapus yang tak berarti. Bila saatnya folder itu dibutuhkan lagi, mungkin kita bisa membuat yang semisalnya?

Kereta Lokal Merak-Rangkas,
4 Februari 2018 08:28

Andika Putri Firdausy

Kamis, 25 Januari 2018

Hari Pertama

Syukur tak terhingga untuk Ia yang tak pernah alpa memahami setiap hal dari hamba-hambaNya. Doaku sebelumnya, di atas udara, diantara perjalanan, yang -katanya dan semoga - makbul, rasa-rasanya sudah diaminkan cepat oleh malaikat. Semoga. Khusnudzon itu, perlu kan? Wajib bahkan, apalagi terhadap ketentuan Allah.

Waktu Fajar, biasanya cukup ku tarik selimut tanda enggan memenuhi panggilan istimewa yang sungguh tak semua orang bisa merasakannya. Tapi fajar tadi, bahkan sebelum fajar, semesta melalui perintahNya seakan terus mengajakku, membisikkan lembut seruan-seruan yang aku mintakan, agar diri ini bisa kembali pulang, dengan sebenar-benar pulang. Ah, lain cerita lagi ini, karena akan panjang. Tentang perjalanan menuju pulang...

Pagi ini, semua kumulai dengan bahagia. Kekhawatiran-kekhawatiran yang sebelumnya kerap kupikirkan, telah kutitipkan pada Yang Maha Menjaga. Biarlah. Aku memulai dengan niat yang baik, dan semoga dapat menjalani dengan baik, dan selesai juga dalam keadaan baik.

Paginya pagi. Seorang bapak ramah mengantarku. Oh, ada lagi, sebelumnya seakan tahu saja hari pertama, aku mendapat 'tumpangan gratis'. Pertanda baik. Dan semua akan baik-baik saja. Semoga. Dan memang harusnya begitu.

Subuh tadi hujan. Jalanan basah. Suasana kota yang biasa penuh hiruk-pikuk pun lengang. Aku menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Ah, lega sekali. Rasanya, ingin seperti ini setiap hari.
Tapi aku tahu, ini baru awal. Dan akan banyak hal menanti di depan. Mari siapkan dengan sebaik persiapan. Agar bisa berpulang dengan sebaik keadaan.

Terima kasih, Allah.
Terima kasih Ibuk dan Ayah dan Adik.
Terima kasih, semuanya.
Doakan aku.

Jakarta,
25 Januari 2018 07:40
A new place (and stories, and memories, and contributions, and many more) to be fought

Andika Putri Firdausy

Rabu, 24 Januari 2018

Senin, 22 Januari 2018

Akumulasi

Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..

Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.

Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."

Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.

Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.

Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.

Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.

(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30

Andika Putri Firdausy

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy