Senin, 10 Desember 2018

Sholat Malam dan Rindu

Di malam yang dingin dan sesunyi ini, menarik kembali selimut tentu sangat menyenangkan. Bebas dari hawa dingin dan nyamuk ganas ~

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk sholat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, ..."

Bentar deh.. Lima menit lagi...

"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. ..."

Eh?

=====

Surat Muzzammil ini, sungguh mencabik-cabik perasaan kita. Bagaimana bisa kita terlalu sibuk dengan dunia di siang hari, lalu di malamnya pun tak kita sempatkan waktu untuk menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta?

Sering, kita sudah diberikan tanda untuk terbangun di malam hari. Sayangnya, sinyal-sinyal itu sering kita abaikan. Menarik lagi selimut adalah hal yang nikmat dan tak pernah ragu kita lakukan. Alarm yang sudah meraung-raung pun kita matikan cuma-cuma. Tunda lagi, tunda lagi. Sampai adzan menyahut-nyahut, baru kita terkaget-kaget. Atau, malah masih asik berselimut?

Padahal, sudah jelas bahwa Allah sudah memilih kita untuk menjadi satu dari sekian yang 'dipanggil'. Kadang, melalui hawa dingin yang tetiba menyeruak dan membuat kita terbangun menggigil. Kadang, melalui nyamuk ganas yang menggigit tanpa ampun hingga kita terbangun gatal-gatal. Kadang, melalui alarm yang meraung-raung, suara tetangga yang berisik, selimut yang terjatuh, keinginan untuk berhajat ke kamar mandi, atau hal-hal kecil lainnya yang mungkin tidak kita sadari bahwa itu adalah tanda.

Tanda, bahwa Allah sedang merindukan hambaNya.

Lalu, apakah kita menyambut panggilan rindu itu? Atau hanya sebatas lalu saja? Bukankah, di setiap sepertiga malam itu, adalah waktu terbaik kita bertemu denganNya? Seberat itukah menuntaskan rindu dengan Sang Pencipta? Seberat itukah kita tundukkan diri sejenak melalui Qiyamul Lail dibandingkan apa yang telah Allah berikan kepada kita? Apa kita tidak rindu? Apa kita tidak ingin membalas rindu itu?

=====

Ah iya, tentang rindu.
Barangkali rindu itu berat. Eh, emang berat sih ya. Tapi, bukankah kita tetap senang merindu? Bukankah kita menikmati setiap saat kerinduan sampai kita menyapa temu? Bukankah, kita akan melakukan dan memperjuangkan apapun untuk mempersiapkan pertemuan itu sebaik mungkin? Baik dengannya, apalagi denganNya, bukan? Baik dengan ciptaanNya, apatah lagi dengan Penciptanya, kan?

=====

Kalau sholat malam dan rindu sama-sama berat, barangkali kolaborasi keduanya akan saling meringankan? Semoga keduanya berujung pertemuan membahagiakan. Mari kita buktikan. ❤

Jakarta, 10 Desember 2018
Di ujung pagi, diantara nyamuk ganas, dan berisik musik tetangga. It's okay, mari menuntaskan rindu, juga untuk mempersiapkan temu :3

Rabu, 31 Oktober 2018

Tentang Hidup (?)

Hmmm jadi gini.
Semua hal di hidup ini, fana. Sementara.
Susah, senang, di atas, di bawah, penuh, kosong, sedih, bahagia, hidup, lalu mati.
Yaaa pokoknya semua sementara to?

Jangan terlalu.
Terlalu sedih, jangan.
Terlalu bahagia, jangan.
Yaaa pokoknya hidup dibawa santai aja.

Yang penting, tujuannya tetap sama. Ke Allah.
Utuh, nggak bisa diganggu gugat.
Jadi, biar hidup kita juga enak. Nggak gampang sedih, nggak gampang kecewa. Kalau gampang bahagia? Gakpapa hehe. Bagus. Nggak menyusahkan diri sendiri dan orang lain. 😝

Dikit-dikit, sabar.
Dikit-dikit, syukur.
Dah gitu aja.
Nggak usah terlalu spaneng menghadapi hidup ini ~

Gitu?

Jakarta, 31 Oktober 2018 22:33
Baru mau bersiap tidur, abis nyuci malam. Haha haha haha. Bhay~

*ohiya, ini btw note to myself sebenarnya, yang juga terinsipiresyen dari beberapa biji kecambah, eh manusia, yang sepertinya terlalu mengkhawatirkan hidupnya akhir-akhir ini. Hm. Jangan, anak muda. Jangan. Dak usah capek-capek mikirin takdir kita. Beraaat. Biar serahkan ke Allah aja yang bakal kasih kita yang terbaik. Yang penting usaha sebaik mungkin, lalu tawakkal. Pasrahkeun. Gitu.

Dah ah, nanti panjang lagi, ku dak jadi tidur lagi, besok harus bangun pagi 😌

Selasa, 09 Oktober 2018

Tentang Takdir (2)

Doa hari ini, "Ya Allah, hindarkanlah hamba dr galau berkepanjangan tentang apapun yang sudah Engkau takdirkan."

Secukupnya aja yhaaa ~ 😗

Hidup manusia emang macem-macem, ya. Ternyata di luar sana banyak lho orang-orang 'galau'. Tentang banyak hal. Kenapa? Padahal kan Allah dah jamin semuanya to? Apakah mereka orang² yang keimanannya diragukan? Hmm enggak juga padahal.

Ya Allah...
Tawakkal tu, emang nggak mudah sih ya. Sama kaya istiqomah juga.
Keliatannya tinggal pasrah. Tapi, buntutnya panjang juga. Ya kita harus mau menerima segala ketentuan Allah, apapun itu. Dan, ini ada setelah ikhtiar, usaha-usaha yang kita lakukan.

Tapi, usaha yang kek mana?
Nah, itu lagi. Sering juga kita salah paham terkait usaha ini. Bukan hanya usaha yang berorientasi atau berskala dunia aja ya, tapi juga yang berorientasi akhirat. Usaha duniawi pasti dah pada paham lah ya. Usaha berorientasi akhirat? Sholat, puasa, doa, sedekah, sabar, ikhlas. Semuanya. Bukan hanya amalan yang dzahir terlihat aja, tapi yang nggak kelihatan juga.

Jangan pernah sepelekan amal usaha sekecil apapun. Allah Maha Melihat, gais. Dan, Allah Maha Tahu, mana yang terbaik buat kita.

Kalau kita sampai saat ini belum ditakdirkan sampai pada apa yang selama ini kita "tuju", sabar. Banyak jalan menuju Allah, to? Maksudku, janganlah kita ini menyempitkan karunia Allah yang sangat luas dengan menyempitkan takdir sesuai apa yang ada di pikiran kita aja. Cobalah buka sedikit pikiran kita. Pelan-pelan.

Coba rasakan, Allah tu, sebenarnya pengen kita kaya mana sih? Apa udah bener yang selama ini kita impi-impikan? Jangan-jangan, meski 'kelihatannya' baik, itu nggak baik buat kita? Jangan-jangan malah menjauhkan kita dari Allah? Atau jangan-jangan, emang kita belum siap sampai di titik itu?

Semua, pasti ada waktunya.
Sabar. Dan tetap lakukan yang terbaiks~

Pilih mana, sampai di titik atau mimpi yang kita inginkan, atau terus deket sama Allah?

Jakarta,
9 Oktober 2018

Senin, 08 Oktober 2018

Semoga Bertemu

Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, waktu mungkin tidak akan sama lagi seperti yang dulu.
Semalam, ada yang bilang rindu. Katanya, terbayang-bayang kisah bersama di masa lalu.
Hei, apakah sama?
Bukankah, waktu memang akan terus berjalan dengan atau tanpa kamu?
Maka jangan berhenti disitu..
Bergeraklah,
Berjalanlah,
Kalau perlu, berlarilah.
Kita susuri bersama mesin waktu yang kadang terkesan sedikit congkak itu, tak mau menunggu kita yang tertatih mengejarnya.
Tak apa, katamu, hidup bukan lomba lari bukan?
Pelan-pelan saja, asal kita terus bergerak. Asal kita tidak berdiam diri.
Nanti, pada saatnya, kita akan berhenti di tujuan akhir kita setelah pemberhentian-pemberhentian yang semoga menyenangkan.
Semoga kita bertemu lagi, ya!
Aku yakin akan banyak teman jalan yang datang silih berganti. Mungkin aku, atau orang lain, atau orang lain lagi.
Tak apa.
Asal tujuan kita masih sama, yakinlah esok kita akan berjumpa.

Jakarta,
8 Oktober 2018
Di penghulu shubuh.

Kamis, 27 September 2018

Menumbuhkan Keyakinan

Tidak satu-dua malam
Bukan satu-dua hari
Tapi melalui malam-malam yang gelisah, bait-bait doa yang panjang, sampai tetes-tetes air mata
Terkadang, perasaan ragu itu seenaknya muncul kembali
Menggoda niatan diri apakah benar-benar mengharapkan ridho Ilahi
Kemudian keyakinan muncul kembali seiring keimanan yang terus diusahakan
Begitulah
Sesungguhnya keragu-raguan bukanlah sifat seorang mukmin
Kadang memang ia datang, tapi baiknya segera kita tepiskan
Berhenti, atau jalan kembali
Menumbuhkan keyakinan membutuhkan usaha yang tidak mudah
Tapi hei, bukankah akhir yang baik memang membutuhkan usaha yang lebih?

Rabu, 26 September 2018

Jangan Silau

Hati-hati sama cahaya.

Kalau kurang, namanya gelap. Mungkin tidak mematikan, tetapi bisa jadi sedikit menyulitkan.

Hati-hati sama cahaya.
Kalau lebih, namanya terang. Silau kadang. Dan, banyak orang nggak sadar, kalau ini bisa bikin sakit mata. Alih-alih malah sakit hati.

Jangan.
Nggak usah gitu-gitu amat liat cahaya di luar sana. Secukupnya saja sebagai penunjuk jalan untuk melanjutkan perjalanan.

Jangan.
Nggak usah banyak-banyak. Apalagi sampai membanding-bandingkan. Nggak perlu. Cukup dengan yang ada saja. Setiap orang kan, beda. Jadi, nikmati bagian kita saja.

Jangan silau dengan apa yang ada di luar sana. Cahaya terlalu banyak belum tentu baik untuk kesehatan jiwa dan ragamu. Cukupkan sesuai apa yang kita butuhkan, dan gunakan sebaik mungkin. Itu saja. (:

Rabu, 22 Agustus 2018

Betapa Tidak Mudahnya

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika berusaha menyampaikan maksud dengan baikpun, terkadang masih ada yang menilai tidak baik.

Betapa tidak mudahnya menjadi orang baik, yang ketika melakukan kebaikanpun, masih ada orang yang menganggapnya hanya kepura-puraan yang disengaja.

Memang tidak mudah, mengabaikan persepsi manusia. Tetapi niat yang lurus, semoga menjadi timbangan tersendiri, bagi orang baik yang beramal baik.

Jangan takut menjadi orang baik.
Jangan ragu untuk berbuat baik.
Karena Allah tidak pernah menilai amal seorang hamba dari tanggapan orang lain, melainkan dari niat awalnya.

Lillaah.
Walaupun lelah, insyaaAllah berkah.

Tidak mudah.
Belajar ikhlas, supaya hidup lebih mudah.

Yes, it's a big note for myself.
Cheers! Cause everything's gonna be allright! 😉

Jakarta, 22 Agustus 2018

Ketika tetiba kepikiran (lagi) tentang hoax dan niat sharing informasi, heu. Anyway, Eid Mubarak! Semoga menjadi hamba dan pribadi yg lebih baik lagi! ❤

Idul Adha

IDUL ADHA

🐏🐑🐂🐫

Belajar untuk meneladani keimanan Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail terhadap ketentuan Allah.

Bahwa apa yang kita lakukan adalah semata untuk mendapatkan ridho Allah, dan apa yang nampak menjadi kepunyaan kita adalah hanya titipan yang kelak akan diminta pertanggungjawaban.

Semoga kita bisa belajar untuk 'mengurbankan' hawa nafsu kita, untuk meraih puncak keimanan dan ketaqwaan. Heu, aamiin.

Eid Mubarak everyone! ☺

*fyi, selain di Indonesia, mostly Idul Adha atau Hari Raya Besar ini justru lebih meriah lhoo dibanding Idul Fitri 😁
**can't wait to see mam and dad :")

#HappyEid #IdulAdha #ntms

Rabu, 15 Agustus 2018

Perspektif

Salah satu materi dari pelajaran Seni Budaya zaman SMP dan SMA adalah tentang Gambar Perspektif. Ada yang ingat?

Ialah ketika kita menggambar objek dari suatu titik pandang tertentu. Kalau digambar di atas kertas, titiknya bisa diambil dimana saja sih; kadang di tengah di pojok kiri, atau dimana saja. Suka-suka yang gambar. Gambarnya biasanya pake penggaris, karena gambar perspektif nih harus menggambar objek dengan menarik garis dari titik acuan.

*btw ini pelajarin seni yg cukup favorit bagi sy krn gambarnya pake penggaris jd lbh 'mudah' gak perlu mikir² amat wk

Hasilnya? Objek yang sama, tetapi dengan titik acuan berbeda, ya gambaran akhirnya akan berbeda.

Lho, tapi kan gambar awalnya sama? Yha. Tapi kan sudut pandangnya berbeda.

Sama seperti respon manusia ketika ada suatu kejadian. Pasti beda-beda, kan?

Ya, karena mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda. Bahkan dari sudut yang sama pun, bisa jadi masih berbeda dalam menanggapi karena memang latar belakang pengetahuan yang berbeda.

Intinya,
Saling memahami.
No judgement.
Jangan lupa klarifikasi.

Karena hidup ini adalah seni untuk saling mengerti ~

Jakarta,
15 Agustus 2018

#iyainajalahyha

Jumat, 27 Juli 2018

Mencari Alasan

Ternyata, mencari-cari alasan itu, tidak selalu buruk. Tidak selalu berkonotasi negatif, seperti yang selama ini kupikirkan.

Misalnya, ketika kita mencari-cari alasan untuk tidak marah, mencari-cari alasan untuk tidak berprasangka, mencari-cari alasan untuk tidak malas dan seolah lupa. Ternyata, sangat tidak mudah, bukan? Dan, tentu saja tidak berkonotasi negatif.

Kata seorang kawan hari ini, "Tunggu, jangan buru-buru menyimpulkan. Kita harus mencari 70 alasan agar tidak berprasangka buruk."

Ah, benar juga rupanya.
Betapa awal dari berbagai bentuk kedzoliman salah satunya adalah ketidakkuasaan kita untuk mencari-cari alasan. Untuk tidak cepat-cepat marah, untuk tidak cepat-cepat suudzon, untuk tidak cepat-cepat menghakimi seseorang atau suatu hal.

Benar juga.
Kalau perlu, bukan 70, tapi seribu. Atau sejuta? Ah, baiknya memang tidak terbatas.

Bukankah kelapangan hati kita seharusnya seluas samudera? Agar menjadikan diri jauh dari berbagai keburukan, yang justru pada puncaknya akan mencelakakan diri sendiri.

Baiklah, hari ini belajar satu hal lagi. Tak selamanya yang terlihat buruk itu tidak baik. Ya "mencari alasan" ini misalnya. Tinggal bagaimana kita melihat dengan kacamata apa. Itu saja.

Jumat, 20 Juli 2018

Kehilangan

Kenapa manusia baru merasa sesuatu itu berharga ketika kehilangan?

Mungkin, karena selama ini ia tidak peka. Menganggap apa yang dia dapatkan adalah sesuatu hal yang "wajar". Padahal, tentu ia tidak akan mendapatkannya jika Allah tak memberikannya.

Mungkin juga, karena selama ini ia kurang bersyukur. Selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki. Padahal, tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu. Hingga, ia baru menyadari bahwa sesuatu itu berharga ketika harus melepaskannya.

Atau, selama ini kehidupan tak dijalaninya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Seakan hidup hanyalah sebuah "rutinitas" yang tidak berarti. Padahal, dalam menjalani hari-hari seorang mukmin tentu harus bersungguh-sungguh. Meniatkan diri dan segala yang terjadi untuk Allah. Maka, tidak akan ada yang sia-sia dalam hidupnya.

Begitulah tabiat manusia.
Sering tersadar, sering juga terlupa.
Semoga, lebih banyak ingatnya.
Semoga, akhirnya adalah puncak keimanannya.

Jumat.
Jangan lupa Al Kahfi, ya! (:

Minggu, 15 Juli 2018

Sibling(s)

Someone who knows you well, sometimes more than your ownself. Someone who gives you much attention, but dont want you to know. Someone who treats you, although its the last coin. Someone who randomly getting mad to you, but contains love inside. 🍁

Kata orang, kita kembar. Saking miripnya, cuma beda dua tahun. Dari prinsip dan kesukaan juga nggak beda jauh, tapi bukan karakter, haha. Kalau nggak dibilang kembar, kadang orang bilang kamu kakaknya. Sepertinya karena kedewasaanmu, dan kebocahanku, haha. But yes, sometimes aku merasa lebih bocah darimu, heu.

Dek, I'm not the best sister, but I tried to be, and I will always be. Pesen Ayah sama Ibuk sebelum pergi, katanya, "nitip adek." I hope I can do it well..

Kata ayah lagi, "mbak yang dewasa, ya,". I know sometimes I am more childish than you. I hope I can play this role better.

Meski dunia masa kecil kita penuh "ketidakharmonisan", yang sering kuungkit2 karena aku lebih sering kalah haha, but I will always be thankful cause Allah gives me you. Yes, you.

Maybe this world is not as small as your hand which you can control. But you have Allah which is "Bigger" than everything you can imagine. All the things in this life is not ours, but we can ask Him to make it easier. Calm, life is only life. We "only" have a task to be better one, not a perfect one. Keep going, girl! 💅

Keep shining my little-with-the-big-heart star 💫

Sorry for being annoying and 'gengsian' Mbak. Maybe I will always be like that, but it will never decrease my love and pray to you 💕

Gumarang, 15 July 2018
Unperfect sister.

Senin, 02 Juli 2018

Idol

Pernah dak sih, kita secara sengaja atau tidak, tiba-tiba mengikuti suatu tren, atau gaya bicara, atau pembawaan, atau hal lain yang mengikuti suatu tokoh?

Kalau iya, berarti secara tidak langsung, kita sudah terpapar 'virus' tokoh tsb. Entah secara pengakuan kita mengidolakan atau tidak, tapi alam bawah sadar kita sudah otomatis mengikuti jalur hidupnya.

Sayangnya, di zaman sekarang ini, emang nggak mudah cari contoh yang baik.. Tapi, ada. Dan akan selalu ada kalau kita mau mencari.

Jangan sampai kita terlena dengan "tren-tren" unfaedah atau malah berdampak negatif. Naudzubillah. Udah mah nggak dapet manfaat, malah merugikan. Hiii sereeem~

Kadang, serem sendiri liat zaman sekarang. Cem mana besok zaman anak-anak kita, kan? Betapa tidak mudahnya. Tapi sekali lagi, bisa. Kalau kita tau caranya.

Naah, itu. Kek mana lagi caranya? Itu yang harus dicari tahu.

Harus mau terus-terusan belajar. Dari sumber yang benar. Harus mau terus-terusan memperbaiki diri kita, juga dari sosok-sosok yang mencerahkan. Dalam hal ini, penting sekali mencari sosok "idol" yang benar. Rasulullah misalnya?

Emang nggak mudah, dan nggak akan mudah. Tapi, bisa. Kalau kita mau belajar.

Life is never ending learning, tho?