Rabu, 14 Februari 2018

Dekat-dekat Saja

Kemarinnya kemarin, temanku cerita. Katanya, hidup dia berubah..

Dulunya dulu, dia menjalani hidup seperti biasa. Normal layaknya manusia lainnya. Kadang tersadar, kadang juga terlupa. Biasa, namanya juga manusia kan ya~

Tapi. Ada suatu waktu ketika ia menyadari hal penting dalam hidupnya. Pencarian makna yang mungkin sampai puncaknya? Entahlah. Tapi dia merasa lebih baik dari sebelumnya. Seperti hidup di dalam hidup. Seakan melenggang dengan mudah di dalam setiap episode kehidupan.

Quran, katanya, yang membuat hidupnya berubah. Dia bukan, atau belumlah seorang penghafal. Tapi dia berusaha untuk menjaga yang sudah Allah karuniakan padanya. Rezeki untuk memahami cara membaca dan (mungkin) mentadabburinya. Dan, ia gunakan untuk terus mendekat padaNya dengan cara selalu dekat-dekat dengan Quran.

Dan, terbukti. Rasa-rasanya semua urusan menjadi mudah saja. Belum sampai berjuz-juz, 'cukup' satu saja, tapi, rutin. Iya, rutin. Katanya, itu kunci. Istiqomah memang berat, bukan? Tapi, istiqomah dalam dekat-dekat dengan Quran itu, banyak untungnya, banyak berkahnya. Perniagaan dengan Allah, termasuk dalam khidmat Quran, memang tidak pernah rugi, kan?

Kemarin, dia datang lagi. Katanya, hidupnya kembali banyak diuji. Sembari, dia bercerita bahwa kedekatannya dengan Quran memang tak seperti waktu sebelumnya. Banyak hal yang membuat dia jadi menjaga jarak. Eh, atau dibuat-buat saja?

Entahlah. Yang jelas, keberkahan ketika dekat-dekat dengan Quran itu nyata. Jadi, kami bersepakat untuk tak saling melupa, saling memgingatkan dengan saudaranya agar tak jauh-jauh. Disini saja. Bersama-sama. Agar, juga bisa ke surgaNya tanpa terpisah.

Ibukota,
14 Februari 2018

Andika Putri Firdausy

Jumat, 09 Februari 2018

Titik Marginal

Salah satu teori dari pelajaran pelajaran ekonomi jaman SMA yang paling saya ingat adalah tentang "Titik Marginal".

Intinya dalam teori itu seingat saya adalah; ada titik ketika kepuasan manusia mencapai puncaknya. Alias terbatas.

Misalnya, kita lagi haus banget-banget. Terus, ada yang menawarkan kita es kelapa muda yang teramat sangat segar sekali. Minumlah kita tanpa pikir.

Satu gelas, rasanya tidak bisa dideskripsikan saking enak dan segarnya. Dua gelas, juga masih terasa segar dan masih kurang. Tiga gelas, cukup melegakan. Empat gelas, perut kita sudah kenyang dan tidak ingin minum lagi. Jika diteruskan lima gelas, bahkan mungkin air itu akan kita keluarkan lagi.

Begitulah. Titik marginal ada pada gelas keempat, ketika kita sudah "puas" dan tidak ingin lagi menambah porsi. Dan kita baru sadar bahwa yang tadi-tadi itu, sesungguhnya hanyalah nafsu belaka...

Begitulah manusia.
Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekaliii~

Keinginan kita mungkin tak berujung, lalu bisakah kita implementasikan pada rasa syukur?
Impian kita mungkin tak berbatas, lalu bisakah kita implementasikan pada stok sabar?

Sesungguhnya rahmatNya pula tak terbatas. Tapi sungguh kita lebih sering alpa tak mengingatnya. Padahal jika kita mau sedikit saja lebih bersabar dan bersyukur dalam setiap keadaan, tentu semuanya akan terasa lebih membahagiakan.

Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Jakarta, 9 Februari 2018

Senin, 05 Februari 2018

Tentang Memasangkan

Seneng nggak siih kalian melihat pasangan muda-mudi aktivis-progresif gitu yang meniqa? Hahaha, kalau aku bukan senang, tapi bahagiaaa, sambil doain yang baik-baik 😍

Entah mengapa, sadar atau enggak, kita seringkali memasangkan (?) mbak yang satu dengan mas yang lain, yang menurut kita "cocok" dengan segala kelebihan dan tipikal mereka, entah bidangnya atau apapun yang ada pada diri mereka. Sejak jaman sekolah dulu, atau awal kuliah lah, seringkali mendoakan diam-diam (?) "pasangan" mbak-mas yang kita anggap cocok. Sama-sama pintar, aktif, kontributif, keren, de el el pokoknya mah berharap mereka (dan kita adalah regenerasinya) adalah sosok harapan Bangsa ini yang akan menjadi bagian dari perunahan Indonesia yang lebih baik. Hahaha rada lebay, ya?

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ternyata dunia nggak sesempit itu. Atau malah sesempit itu? Wkwk. Boleh jadi, mbak-mas yang kita pasangkan tadi "kebetulan" cocok. Atau, bisa jadi, mbak-mas tadi ternyata nggak cocok. Mereka hanya kita cocok-cocokan saja. Mereka, ternyata, memiliki pasangan mereka masing-masing yang "tidak kalah cocok" dengan yang selama ini coba kita pasang-pasangkan.

Hahaha, lucu ya? Memangnya kita ini siapa berani memasang-masangkan yang orangnya sendiri aja belum tentu melakukan hal yang sama. Tapi, kenyataannya, apapun yang terjadi pada mereka, siapapun yang bersama mereka sekarang (atau kelak), tentu mereka bahagia, bukan? Mereka menemukan partner-berjuang-selamanya dengan caranya masing-masing, dengan cara yang baik.

Jadi, berhentilah wahai kalian-kalian (dan aku hahaha) sang ahli nujum (?) yang hobi memasangkan manusia. Bukankah Allah sudah menjamin (54:21) bahwa setiap makhlukNya macam kita ini memang diciptakan berpasang-pasangan? Termasuk mbak-mbak dan mas-mas itu.

Berhentilah, sebelum mereka terpengaruh oleh candaan kalian, walaupun prinsip teguh mereka bisa jadi tak goyah hanya untuk meladeni candaanmu. Tapi, bukankah sebaik-baik penghantar perasaan adalah doa? Doakanlah.

Doakanlah mereka-mereka yang belum Allah pertemukan dengan jodohnya itu, supaya saling menemukan di waktu yang tepat. Ketika, sudah sama-sama siap mengarungi bahtera yang sesungguhnya. Sekarang, kita dulu yang perlu bercermin; memang, sudah apa kita dibandingkan ke-keren-an mereka-mereka? Baiknya kita perbaiki diri dulu saja dengan benar~

(masih di) Yogyakarta,
18 Januari 2018 02:38

Andika Putri Firdausy

#latepost wkwk baru inget sewaktu kemarin berdiskusi tentang suatu hal wkwk. Yhaaa intinya mah gitu. Jodoh adalah keputusan Allah. Kita boleh minta cem-macem, tapi hasil akhir tetap: hak prerogatif Allah. Soo, sebagai hamba yang baik, yang penting tujuan kita lurus, yang lain bakal ngikut aja~ 😉

Jakarta, lagi di ruang rapat yang kita kuasai  (08:06)

Minggu, 04 Februari 2018

Ruang Penyimpanan

Ada banyak hal yang terjadi di dunia ini. Kemarin, hari ini, dan esok. Tetapi, kita tidak akan pernah bisa menyimpan semuanya sendiri. Ada ruang-ruang yang kemudian hari menjadi sesak akan hal-hal yang telah terlalu lama terlewat. Ada bagian-bagian diri yang menjadi terlalu lemah apabila berlama-lama berkutat dengan yang seharusnya terlupa. Dan ada keping-keping hati yang harus diselamatkan dari kenangan-kenangan yang harusnya dilupakan.

Ada banyak hal yang telah kita lakukan, orang-orang yang pernah kita temui, dan pekerjaan yang kita selesaikan. Tetapi, tidak semuanya harus disimpan baik-baik selamanya. Manusia bukanlah komputer yang meski memiliki kapasitas terbatas, tapi tetap memiliki simpanan tak terbatas di ruang-ruang yang lain, harddisk misalnya.

Tapi, bukankah kita tidak mau seperti itu? Manusia, bagaimanapun jua, memiliki kapasitas terbatas yang harus dikelola dengan baik. Biarkanlah diri kita menjadi utuh dan tetap utuh tanpa menyimpan ruang di tempat yang lain. Karena semua itu hanyalah tentang kita, bukan? Tidak ada hubungannya dengan orang lain.

Maka demi itu, kita lagi-lagi harus memperbaiki ruang penyimpanan kita. Membaginya dengan mana yang urgent, prioritas, rutinitas, atau hal-hal sekunder-tersier yang layak dikemudiankan. Kita harus pandai-pandai membagi ruang, menyekat antar ruang, pun juga mengisinya dengan hal yang seharusnya. Seakan merapikan folder dalam ruang komputer yang berserakan. Bahkan terlalu berserakan. Atau jangan-jangan, kita perlu menginstal ulang saja semua?

Sepertinya tak perlu. Cukup berdamai dengan diri dengan menghapus yang tak berarti. Bila saatnya folder itu dibutuhkan lagi, mungkin kita bisa membuat yang semisalnya?

Kereta Lokal Merak-Rangkas,
4 Februari 2018 08:28

Andika Putri Firdausy

Kamis, 25 Januari 2018

Hari Pertama

Syukur tak terhingga untuk Ia yang tak pernah alpa memahami setiap hal dari hamba-hambaNya. Doaku sebelumnya, di atas udara, diantara perjalanan, yang -katanya dan semoga - makbul, rasa-rasanya sudah diaminkan cepat oleh malaikat. Semoga. Khusnudzon itu, perlu kan? Wajib bahkan, apalagi terhadap ketentuan Allah.

Waktu Fajar, biasanya cukup ku tarik selimut tanda enggan memenuhi panggilan istimewa yang sungguh tak semua orang bisa merasakannya. Tapi fajar tadi, bahkan sebelum fajar, semesta melalui perintahNya seakan terus mengajakku, membisikkan lembut seruan-seruan yang aku mintakan, agar diri ini bisa kembali pulang, dengan sebenar-benar pulang. Ah, lain cerita lagi ini, karena akan panjang. Tentang perjalanan menuju pulang...

Pagi ini, semua kumulai dengan bahagia. Kekhawatiran-kekhawatiran yang sebelumnya kerap kupikirkan, telah kutitipkan pada Yang Maha Menjaga. Biarlah. Aku memulai dengan niat yang baik, dan semoga dapat menjalani dengan baik, dan selesai juga dalam keadaan baik.

Paginya pagi. Seorang bapak ramah mengantarku. Oh, ada lagi, sebelumnya seakan tahu saja hari pertama, aku mendapat 'tumpangan gratis'. Pertanda baik. Dan semua akan baik-baik saja. Semoga. Dan memang harusnya begitu.

Subuh tadi hujan. Jalanan basah. Suasana kota yang biasa penuh hiruk-pikuk pun lengang. Aku menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Ah, lega sekali. Rasanya, ingin seperti ini setiap hari.
Tapi aku tahu, ini baru awal. Dan akan banyak hal menanti di depan. Mari siapkan dengan sebaik persiapan. Agar bisa berpulang dengan sebaik keadaan.

Terima kasih, Allah.
Terima kasih Ibuk dan Ayah dan Adik.
Terima kasih, semuanya.
Doakan aku.

Jakarta,
25 Januari 2018 07:40
A new place (and stories, and memories, and contributions, and many more) to be fought

Andika Putri Firdausy

Rabu, 24 Januari 2018

Senin, 22 Januari 2018

Akumulasi

Beberapa hari ini, entah mengapa banyak orang senang sekali mengiris bawang dekat-dekat denganku. Meski aku berkacamata, tak ada jaminan akan bebas dari semerbak bawang. Jadi, jangan salahkan jika kelenjar air mataku bekerja lebih keras dari biasanya..

Sejak kemarin-kemarin, bahkan aku belum sempat pamit secara paripurna kepada semua (atau belum menyempatkan?). Sungguh bukan karena tak ingin pergi dengan cara yang baik, tapi apalah daya diri yang hatinya tak ingin berpamit.

Kata Dilan, "Rindu itu berat, biar aku saja."

Sayangnya, Dilan cuma bilang ke Milea, bukan ke aku. Jadinya, harus juga aku "menanggung" rindu, meski belum sehari.

Maafkan atas pesan-pesan yang belum berbalas, sungguh diri ini tak sanggup membaca semua pesan itu. Biarlah hujan yang mengiringi sepanjang perjalanan menjadi pengganti atas ucapan, doa, dan semuanyaaa selama ini, semoga Allah berkahi, semoga Allah balas dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak. Sungguh, hanya Allah sebaik-baik Pemberi Balasan.

Satu lagi, mohon maafkan. Untuk semuanya.

Entah apa lagi. Banyak. Tapi belum bisa berkata. Yang pasti, semoga iman dan doa menjadi penghubung senantiasa.

(sedang di) Bangil (dan agak pusing?),
22 Januari 2018 00:30

Andika Putri Firdausy

Kamis, 18 Januari 2018

Memupuk Kenangan

"Tidak baik menumpuk kenangan," bisikmu kala itu.

"Kenapa?" Aku, dengan wajah penasaran, tentu saja ingin tau alasanmu. Bukankah selama ini kita mencipta banyak sekali kenangan?

"Karena hati manusia tidak seluas itu, sebenarnya. Ada kalanya, kita perlu menyingkirkan yang telah usang, dan menggantinya dengan yang baru", ucapmu tanpa ragu.

"Jahat sekali..." jawabku mengambang, sambil tak mengerti apa yang ada di pikiranmu.

"Bukan begitu. Tapi manusia memang berbatas bukan? Ada saatnya, dimana kita harus melangkah maju dengan tanpa ragu. Termasuk, jika harus memilah dan memilih mana hal-hal yang akan kita bawa terus berjalan, atau terpaksa kita singkirkan di tengah jalan".

"Apapun itu?"

 "Iya, apapun. Dan siapapun"

Kau menjawab dengan mudahnya, seakan tanpa beban. Sedangkan aku, waktu itu, masih dipenuhi banyak pertanyaan. Manusia sepertiku, yang terlalu banyak memupuk kenangan, yang terlalu banyak menyimpan harapan, sepertinya terlalu sulit untuk harus mengikhlaskan semua kenang.

Tapi, hari ini aku sadar. Perkataanmu, dulu, ada benarnya juga. Bukan, maksudku, benar sekali.

Ada kalanya, aku memang harus melepaskan sesuatu yang telah lama pergi, yang selama ini kubuat-buat saja seakan masih disisi. Aku harus terus hidup, dan belajar menerima keadaan. Bahwa yang ada di belakang hanyalah pelajaran, agar ke depan, aku bisa berjalan dengan tenang, memperbaiki yang akan datang.

Terima kasih atas nasihatmu kala itu. Kini kumasukkan namamu dengan baik dalam sekotak kardus yang akan kutinggalkan. Katamu, apapun dan siapapun, kan?



*ditulis ketika lagi milih baju, pindahan meninggalkan Jogja huhu, dan menemukan baju sejak SD waktu lomba tk prov hahaha.
Dasar manusia baper. Ayo berubah!!! >.<

(masih di) Y
ogyakarta, 
17 Januari 2018 11:40


Andika Putri Firdausy

Rabu, 17 Januari 2018

Nasi Kuning dan Ilham


Pagi ini, yang biasanya kulewatkan saja dengan merapel 'brunch' (if you know what I mean wkwk), qadarullah harus pergi keluar dan akhirnya pilihan (kembali) jatuh pada warung di pertigaan itu.

Ketika membeli nasi kuning di pertigaan itu, jadi inget dulu zaman masih maba tahun pertama-kedua, sering diajak kesana sama mbak kos karena dekat, dan murah!! Sampe hafal sama anak penjualnya yang kecil yang selalu ikut jualan, dan suka kugodain karena dia imyut nurut dan aku emang suka anak kecil hahaha.

Kemudian, keadaan mengharuskanku (?) berpindah berkali-kali, kaya siput wkwk. Dan ketika suatu saat kembali, aku mencoba mengurai memori dengan membeli nasi kuning dan/atau nasi pecel di tempat yang sama. Tapi yang kucoba cari ternyata sudah tiada.

Ku mencoba bertanya, "Ilham nggak ikut bu?". Iya, nama anak kecil itu Ilham. "Nggak mbak, Ilham sekolah". Kemudian aku tertegun, tercekat, dan entah apa lagi sebutannya. "Loh, udah sekolah?", setengah ku berbicara sendiri. Dia sudah SD sekarang. Pantas saja. Waktu sudah berlalu sampai sekarangpun aku sudah sarjana. Tentu saja bukan hanya aku yang melalui proses panjang, bukan? Seorang Ilham-pun jua.

Hari ini, ketika aku kesana lagi, aku sudah tidak mencari Ilham. Aku membeli nasi pecel seperti biasa. Harganya juga baru naik seribu rupiah sejak pertama kuliah. Ditambah gorengan yang dulu lima ratus rupiah dan sekarang seribu tiga.

Ah, Jogja.
Sebentar lagi, jika aku kembali, aku sudah bukan tuan rumah lagi. Tapi tamu. Kau mau suguhkan apa besok jika aku kembali?

(masih di) Yogyakarta,

17 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Selasa, 16 Januari 2018

Gembira Loka dan Pinguin

Saat-saat terakhir di Jogja kaya gini, yang well, sebenarnya sudah beberapa waktu lalu direncanakan, tetapi karena belum ada kepastian pada akhirnya menjadikan diri shantay-shantay manjah (?) hahaha dan, ketika tiba saatnya, kemudian menyadari bahwa masih sangat banyak yang belum dilakukan dan dikunjungi (dieksplor). Walaupun pada dasarnya, nggak cupu-cupu amat karena di Geografi kami sering diajak main ke tempat yang keren :D (yuk masuk Geografi wkwk #malahpromosi).


Ini Peta Gembira Loka Zoo, jadi kita bisa menentukan arah tujuan mengarungi kehidupan #eh
Singkat cerita, beberapa hari terakhir digunakan semaksimal untuk selain packing, juga pamit dan mengeksplor (?) tempat di Kota Sejuta Kenangan ini, heu. Dan terencanakanlah (?) main ke Gembira Loka, sebuah tempat wisata mini taman safari alias kebun binatang yang menurut brosur yang saya peroleh sewaktu membayar tiket, Gembira Loka ini ada karena waktu itu Sultan ingin mengembangkan “Kebon Rojo” atau tempat memelihara satwa raja menjadi tempat publik, kalau tidak salah baca, ada peran Belanda juga (?) *btw brosur dan petanya dibawa Nana jadi saya gabisa merujuk lagi hehe.

Gembira Loka, yang kemudian disingkat jadi GLZ alias Gembira Loka Zoo, ini terletak di lokasi yang cukup strategis, termasuk dalam kawasan Kota Yogyakarta, tapi sangat asri lingkungannya *iyalah ya, kebun binatang hehe. Tapi emang adem sih, walaupun kalau dibandingin sama Jatim Park 2 yang Zoo juga ga sebanding, *haha iya ini mah ga apple to apple siiih wkwk, tapi well recommend juga buat yang ke Batu dan sekitarnya #malah.
Foto ala-ala yang ngantrinya lama bbgit :D
GLZ tepatnya terletak di Desa Rejowinangun, Kotagede, Kota Yogyakarta. Dari jalan utama Jogja-Solo, ada jalan layang namanya daerah Janti, pengunjung silakan mengambil arah ke selatan alias masuk ringroad timur (bisa lewat atas jembatan atau lewat bawah), kemudian pada perempatan pertama mengambil arah kanan (arah JEC), kalau tidak salah ada juga plang petunjuknya. Setelah itu ikutin jalan, dan di perempatan berikutnya ambil kanan lagi. Sampai deh, GLZ ada di sebelah kiri jalan :) Ohiya GLZ ini buka setiap hari dari pukul 07.30 – 17.30 dengan biaya retribusi Rp 25.000 di weekdays dan Rp 30.000 di weekend dan hari libur untuk usia 3 tahun ke atas.

Ohiya, kemarin saya kesana pas hari Ahad atau Minggu, jadi agak rame, heu, tapi cukup terkondisikan siih (dan alhamdulillah pengunjung lumayan sadar kebersihan).. Awalnya saya bilang ke Nana (saya kesini berdua sama Nana), kayanya enak kesini pas weekdays karena sepi tapi kata dia kalo weekdays ada beberapa hewan yang “disimpan” hehe. Jadi ada beberapa hewan (mostly burung siih) yang semacam dipajang (?) dan bisa buat foto bareng gitu sama pengunjung, yang kalau nggak hari libur sometimes nggak ada. 


Tapiii, tetep worth it sih karena ada banyaaaak banget hewan lainnya, mulai dari burung, musang, harimau, (sayangnya ga ada singaku sayang T.T), gajah, berbagai burung, elang :3, pinguiiin (nanti saya ceritain sendiri wkwk), rusa, beruang, sampai unta. Selain berbagai macam hewan, di GLZ juga ada beberapa wahana, dari naik sepeda (ini saya ga nemu siih hahaha tapi sempat liat dan dibilangin temen juga), kereta yang mengelilingi area GLZ, ada ATV untuk anak-anak, taman labirin, sampai bebek-bebekan (?) wkwk semacam wahana di air gitu, speed boat, sampai gethek wkwk. Seru pokoknya mah, sayang kemarin saya kurang fit, jadi jalan dikit udah pusing dan ngos-ngosan hahaha, tapi ga ada waktu lagi kalau mau nunggu badan fit wkwk. 


Si ganteng Pinguin Jackass yang kufoto sambil heboh sendiri wkwk
Ohiyaaa sebenarnya lebih seru lagi ke GLZ atau ke kebun binatang lain gitu bawa anak keciiil hehee karena sekalian mengenalkan mereka hewan-hewan ciptaan Allah yang luar biasa cem-macemnya masyaaAllah :”) pas ngeliat anak kecil lucu gitu kan sama orangtuanya, saya langsung inget sepupu yang masih TK sama bayik, terus bilang ke Nana, “aku pengen ngajakin sepupuku kesini deh”, eh terus dia bilang, “lah aku pengennya ngajak anakku”. Etdah nikah aja belum buukk ahahaha *okeskip. Ohiya btw ada satu kekurangan dari manajemennya yang menurut saya perlu dipikirkan ke depan: smoking area. Kaya sedih aja gitu, di tempat wisata yang pengunjung utamanya anak-anak, dan banyak hewan juga, eeh pada merokok dimana-mana :"( Kayanya untuk ke depannya perlu dibikin aturan khusus niih biar ga sembarangan gitu, paling enggak sediakan area khusus gitu kali yaa...hiks
Tentang Pinguin Jackass, dari Afrika
Ohiyaa (lagi wkwk)sebenernya hewan kesayangan saya (?) selama ini adalah singa, tapi entah kenapa kemarin tetiba jatuh cintrong sama pinguiiin :3 ya Allah dia lucu bangeeet syiiih beneraaan. Pinguin ternyata masuk ke kelas burung tapi yang gabisa terbang. Jadi habis dari Bird Park gitu, kita lewat di tempat Pinguin Jackass namanya, beneran dia imut banget ya Allaah :””) bisa kesit banget sampe saya motretnya heboh sendiri ngalahin anak kecil wkwk. Teruus, saya jadi inget cerita di Brazil yang ada seekor pinguin setiap tahun menempuh ribuan kilometer buat menemui seorang Kakek yang udah menyelamatkan hidupnya gitu, so sweet yaa :”) biasanya tau pinguin mah dari film kartun pinguin macem Madagascar wkwk. 

Pinguin :")
Dan pinguin adalah hewan yang setia, pantes aja yaa :””) dia marah dan pasti langsung berantem kalo anaknya ada yang ngambil atau dimangsa gitu. Dan, yang keren, tubuh pinguin itu mostly dua warna: putih di bagian dalam untuk melindungi mangsa dari dalam air waktu dia berenang, sedangkan warna gelap atau hitam untuk melindungi dari serangan mangsa dari atas atau darat, masyaaAllah yaaa :”) pokoknya love youuu pinguin pingin peluuukkk :”
Ini kita naik bebek-bebek-an yang dikayuh gitu lupa namanya hahaha heboh sendiri juga wkwk
Apalagi yaaa, pokoknya mah beneran seneng main kesiniii hehe. Dan asique-nya lagi, kita boleh bawa makanan pas masuk hehe jadi ga banyak jajan dan hemat :D menurut kemarin yang saya liat juga bakal ada beberapa spot baru seperti adanya SINGA dkk hehe tapi entah kapan :”) Ohiyaa selain pinguin yang menarik perhatian itu gajah huhu suka kasian gitu ga sih ngeliat gajah kaya udah sepuh (?) wkwk entah kenapa ada desiran (?) tersendiri kalo liat gajah :”) terus pas di Bird Park kita heboh sendiri ngeliatin dan berusaha capture burung Nuri yang lagi berduaan hahaha. Terus di akhir, kita heboh sendiri di wahana bebek di air (?) yang kita mancal sendiri itu wkwk.

Ini burung yang kita liatin terus wkwkwk
Pokoknya gitu, senaaang alhamdulillaah. Walaupun pulangnya tepar sampe besoknya :v ahaha (karena emang sebelumnya udah sakit siih wkwk). Tep yaa impian besar ke depan salah satunya punya tempat konservasi fauna (dan flora?) nanti kita cicil dulu beli tanahnya berhektar-hektar heu, aamiin, doakan gengs >.< segitu aja feature kita kali ini jalan-jalan ke Gembira Loka Zoo. Pan-kapan kita jalan-jalan lagi ke tempat yang lain, insyaaAllah. See ya!



(masih di) Yogyakarta,
16 Januari 2018

Andika Putri Firdausy

Minggu, 14 Januari 2018

Penampilan




Just like a quote "Don't Judge The Book by Its Cover", kita sendiri lebih sering terjebak pada nuansa awalan. Sering terpaku hanya pada tampilan awal. Sering mengabaikan dalamnya makna dibalik setiap hal.
Mulai dari hal kecil selevel memilih makanan, pakaian, dlsb, hingga soalan menekuni jurusan dan keahlian. Kita sering terjebak pada pandangan dan penilaian orang, tapi tak paham apa sebenarnya dibalik pilihan-pilihan kita.
Bukan tidak boleh menentukan pilihan berdasarkan yang sudah ada. Nyatanya, banyaknya juga yang terlihat baik, dan begitu memang aslinya.
Hanya, kita dituntut untuk memilih dengan cerdas, bukan asal. Karena semua pilihan kita kelak akan dipertanggungjawabkan, bukan?
Ah, metafora.
Semoga petunjukNya selalu membersamai langkah kita.

Selasa, 05 Desember 2017

Zona Waktu

Bukankah zona waktu yang kita alami sebenarnya amat bergantung pada diri kita sendiri?

Sadarkah ketika kita sedang sibuk-sibuknya, waktu terasa mengalir begitu saja. Baru berangkat tiba-tiba udah dhuhur. Baru kerja dikit udah ashar. Baru lanjut lagi udah maghrib, waktunya pulang. Masih di jalan udah isya'. Baru sampai rumah dan istirahat tiba-tiba udah shubuh aja dan harus mulai beraktivitas lagi.

Jenuh.

Dan terasa sekali bahwa waktu-waktu sholat itu menjadi jeda untuk beristirahat yang amat berharga. (Kemudian mikir, bener aja yang katanya sholat itu istirahat yang menenangkan dan ingin terus diulang :” *lagilurus*) Tidak ada alasan lain yang akan ditolerir dalam kerasnya dunia kerja. Kita juga tidak mau menjadikan sakit sebagai jeda bukan? Tentu saja. Siapa juga yang mau merasakan keletihan dan kesendirian di tanah rantauan? Rasanya, ingin segera mengakhiri semua keruwetan hidup ini. Pekerjaan yang tak henti menghampiri, tanggungjawab yang tak lepas menggelayuti. Bagaimana aku bisa menikmati hidup, Tuhan? Aku hanya butuh berhenti sejenak. Tolong lepas aku dari semua hiruk pikuk dunia ini...

Dan tak lama, Ia mengabulkan harapanmu.

Kau tiba di satu titik untuk berhenti, menjeda dari segala aktivitasmu, beristirahat sejenak dari segala beban hidupmu. Hari-harimu dipenuhi dengan istirahat-istirahat panjang. Kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tapi, lama-lama, kau bingung sendiri bagaimana cara membunuh waktu? Kenapa jeda antar sholat yang terasa singkat sekarang seakan berabad?

Kau bangun di shubuh hari dan membunuh waktu dengan berbagai pekerjaan rumah. Menyapu, mencuci, memasak, tapi tetap saja masih pagi. Apalagi yang harus aku lakukan? Teriakmu dalam hati. Akhirnya, tiba juga waktu dhuhur. Setelah kelelahan dengan berbagai pekerjaan rumah, sejenak kau mengistirahatkan diri, tapi tak bisa. Kau buka smartphone untuk berharap rasa kantuk hadir dan membunuh waktu. Gagal. Kau masih saja tenggelam dalam dunia maya, hingga tak sadar adzan ashar memanggil. Kau beranjak, tapi masih juga bingung, apa yang sebenarnya aku lakukan?, keluhmu lagi. Menunggu maghrib, kadang kau isi dengan membaca buku, atau sekedar membantu ibu di dapur menyiapkan hidangan makan malam. Tak lama, malam menjelang, sudah adzan isya. Sedikit bercengkrama, lalu kau merebahkan diri di ‘pulau impian’. Dan ketika terbangun di penghulu shubuh, akhirnya kau berkata, ah, aku bosan hidup seperti ini. tidak adakah kesibukan yang bisa aku selesaikan? Kau menggerutu. Lagi.

Memang begitu. Apa yang kita rasakan seringnya menjemukan. Kita seringnya lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita lewati, bukan yang sedang kita jalani. Atau bahkan seringnya kita lebih mensyukuri kehidupan orang lain? Entahlah. Akan tetapi, sadarkah bahwa sebenarnya itu yang membuat hati menjadi lebih sempit? Terus merutuki diri dan keadaan yang tak terkendali. Memang, manusia bisa apa? padahal sebenarnya, kita hanya berada di zona yang berbeda saja. Tidak semua yang kita lakukan, harus dilakukan orang lain. Tidak juga yang menjadi tanggungjawab oranglain, harus juga menjadi urusan kita. Tidak begitu. Kita memiliki hidup kita masing-masing. Berhentilah membanding-bandingkan.

Dua kuncinya: sabar dan syukur. Sabar ketika sedang diuji masalah, dan syukur ketika sedang mendapat rezeki yang berlimpah. Keduanya, akan menjadikan diri lebih memahami arti hidup ini. Agar, tidak lelah dengan pengharapan dan pencapaian orang lain. Agar, kita bisa lebih memaknai dan menghargai diri dan hidup kita masing-masing.

Tapipun, kadang itu semua belum cukup untuk meredam gejolak diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Disini, ikhlas semestinya akan menjadi penawar dari segala keresahan hati yang tak terperi. Lakukanlah apa yang kamu mau, berikanlah yang terbaik yang kamu bisa. Jangan pernah ragu. Jangan pernah menyesal. Kunci dari keberhasilan adalah pantang menyerah. Jika kau gagal saat ini, bukankah itu justru membuka peluang untukmu berhasil lebih besar? Lalu apa lagi yang kamu cari?

Teruntuk kamu, yang pernah merasa begitu tertekan dengan kerasnya dunia... Juga kamu, yang pernah merasa dicampakkan dunia...

Teruslah melakukan yang terbaik. Lakukan apa yang membuatmu terus bertahan. Lakukan apa yang membuatmu bisa bermanfaat. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti sampai kamu tidak kuat berjalan lagi. Di ujung jalan, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati memang pantas untuk diperjuankan.
Selamat berjuang!

Yogyakarta,
2 Desember 2017
Sesama teman berjuang,


#PutriPejuang

Jumat, 24 November 2017

Sedikit yang ku tahu tentang hidup ini

hari ini hujan tak berhenti walau sejenak . di tengah hujan deras seperti ini, mereka yang tentu saja belum dan tidak seharusnya, mencari keping demi keping uang logam, menggantungkan hidup di bawah lampu merah . ya rabbi, aku sangat bersyukur, setidaknya aku tidak perlu bekerja keras seperti mereka yang berjuang melawan hawa dingin di tengah hujan hanya untuk sesuap nasi .
bahkan mungkin, mereka mengesampingkan pendidikan hanya untuk bekerja, mencari sebanyak-banyaknya kepingan uang logam. sedang aku, yang telah diberi kesempatan seperti ini, terkadang masih tak bisa memanfaatkannya dengan baik. ya Allah . .
terima kasih ya Allah telah memberiku keluarga yang lengkap dan bahagia (amin ya rabb), terima kasih untuk kesempatan yang Engkau berikan kepada ku, kepada kami, untuk menyaksikan kebesaranMu, rabbku, terima kasih untuk memberiku teman-teman yang begitu baik, terima kasih atas segalanya ya Allah . .
terima kasih ibu, ayah, terima kasih untuk segalanya yang tak mungkin bisa untukku membalas ♥
ahh, terima kasih untuk semua orang di dunia ini yang telah memberi warna di hidupku,
TERIMA KASIH !! ♥


Adopted from my facebook's note January, 23rd 2011