Rabu, 01 Mei 2019

Hanya Sebuah Perasaan

Sebuah perasaan seorang anak manusia yang muncul karena berbagai alasan sebenarnya, tapi kemudian sampai pada puncaknya ketika, ada seseorang yang berkata, "Kita ni masih bisa hidup enak, makan nikmat, kasur empuk, nyaman.. Kenapa masih pada gak nerima...?". Dalam hati ku berkata, Hellaaaw, di negara ini ada lebih dari 250 juta manusia yg bermacam², bukan cuma kamu aja, Ferguso!

Tadi pagi ke pasar, terus ada petugas yg sedang sibuk (menggusur) menertibkan PKL. Nggak tau gimana awalnya sih, jd nggak tau detail kasus atau siapa yg salah. Cuman jadi ngilu sendiri aja liatnya. Jadi kaya mikir, jangan sampai, orang diluar sana bersusah-susah menghidupi keluarganya, dan kita enak-enakan dg hidup kita tanpa peduli sedikitpun.

Iya hidup, dan segala perniknya adl pilihan. But please make sure, ketika kita memutuskan utk memilih atau melakukan sesuatu, bukan cuma utk kepentingan kita pribadi. Yaa gpp sih sebenernya, tapi tolong jangan menganggap bahwa semua orang itu hidup enak seperti kamu ~~ Banyak lho, yg hidupnya nggak tenang, makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Dan di atas itu semua, tanpa sadar, ternyata kita berkontribusi mewujudkan ketidakenakan (?) hidup orang tsb. Lalu apakah kita masih bisa nggak peduli sama sekali dg orang lain dan lingkungan di sekitar kita?

Ini bukan cuma ttg Pilpres atau filmnya Watchdoc. No.
Ini adl tentang kita sendiri, sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Apa iya kita bisa hidup tenang kalau tahu bamyak diluar sana yang tanpa kita sadari dirugikan karena ulah, KITA...

Dari dulu, orangtua selalu negur kalau ada listrik dibuang2, colokan dibiarin padahal udah nggak butuh. Buang sampah ke tempat sampah, dan sebisa mungkin pisahin organik dan anorganik. Matiin mesin motor kalo lampu merah masih lama. Sampai aku salut sm salah satu temen, yg belio kalo beli buah, akan pilih yg mendekati busuk alias kematengen, supaya nggak nambah food waste.

Jadi, apapun yg kita lakukan, itu IYA ngaruh ke lingkungan sekitar kita. So please, berhentilah untuk tidak peduli.
Mau berkontribusi dg apapun, monggo, it's your choice.

Ini adalah tanggungjawab kita sebagai manusia, sebagai khalifah di Bumi ini. Allah sudah sangat baik memberikan kita kesempatan, lalu apakah begitu saja kita siakan?

Sabtu, 27 April 2019

Bangil - Kota Sejuta Cerita

"Kamu asalnya darimana?"
"Orangtuaku aslinya Blitar. Aku juga lahir disana. Setelah menikah, orangtuaku kemudian merantau ke sebuah kota kecil bernama Bangil. Lalu kemudian aku dan adikku besar di sana. ..."

Barangkali begitu percakapan yang akan terjadi ketika ada yang bertanya kepadaku mengenai tempat tinggal. Aku akan repot-repot menjelaskan dulu bagaimana asal-muasal mengapa aku dan keluarga kami tinggal disana. Sampai akhir dunia kuliah pun, aku masih melakukannya. Sesederhana karena aku merasa belum memiliki alasan kuat kenapa harus 'menyombongkan' kota kecil itu.

Alun-Alun Kota Bangil (Sumber: pasuruankab.go.id)
1. Geografis dan Penduduk
Bangil merupakan nama sebuah kecamatan (saat ini menjadi ibukota kabupaten) di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Secara geografis kota kecil ini terletak di dataran rendah. Di bagian selatannya, terdapat beberapa gunung seperti Gunung Arjuna dan Gunung Welirang. Selain sumber air yang bagus dan tanah yang subur terutama di daerah yang lebih dekat dengan kaki gunung, salah satu yang menarik adalah pemandangan indah yang bisa dinikmati dari belakang rumah berlatar dua buah gunung seperti yang terlihat disini. Selain diapit pegunungan, di sisi timur laut kota kecil ini berhilir ke Laut Jawa. Tak jarang yang memiliki tambak di daerah pesisir pantai, baik tambak ikan maupun tambak udang.
Penduduk yang tinggal di Bangil berisi dari bermacam-macam suku, mulai dari Jawa, Madura, Arab, juga keturunan Tionghoa. Mata pencaharian mereka pun beragam, dari petani, nelayan, pedagang, hingga karyawan di industri-industri baik lokal maupun mancanegara yang tumbuh di daerah ini.

Lokasi Bangil di Google Maps (Sumber: maps.google.com)

2. Sejarah
Terdapat beberapa versi cerita tentang sejarah dari Kota Bangil ini sendiri. Dulu, aku sempat mendengar asal muasal yang sempat membuatku enggan menjadi bagian dari kota ini. Katanya, Bangil itu berasal dari kata Mbahe Angel (sulit), karena saking susahnya orang-orang sini diberitahu. Akan tetapi, setelah kubaca lagi, justru kata Bangil itu sendiri ada dua versi. Pertama, adalah Bangil dari kata Mbahe Angel, yang berarti dia teguh dengan prinsip Islamnya. Dan yang kedua, adalah Bangil yang berasal dari kata Mbahe Ngilmu. Keduanya, kemudian berkorelasi dengan banyaknya habaib atau ulama yang ada di kota ini. Hingga sekarangpun banyak pondok pesantren di Bangil sehingga kota ini pun memiliki julukan "Kota Santri".
Selain tentang dunia santri, salah satu sejarah yang terkenal dari Kota Bangil adalah tentang Sakera. Ia adalah seorang yang jujur dan membela orang kecil. Perjuangannya dalam membela kebenaran walaupun pada akhirnya tewas terbunuh karena pengkhiatan, menjadikan namanya dinobatkan menjadi nama suporter di kota ini: Sakera Mania.

3. Wisata dan Kuliner
Selain terkenal dengan berbagai kisah sejarah baik yang terjadi di Bangil maupun yang melatarbelakangi penamaan kota "Bangil", kota kecil ini tentu masih memiliki beragam pesona. Salah satunya adalah kuliner khas. Ialah Nasi Punel, yang menjadi andalan dari kota ini. Selain nasinya yang bersifat "punel" atau pulen, yang menjadi ciri khas dari Nasi Punel adalah isinya. Ada nasi, serundeng, daging (atau bisa pilih lauk lain), menjeng (semacam olahan kedelai), sate kerang, tahu bumbu bali, nangka muda, dan sebungkus kuah kelapa manis).
Kuliner lain yang menjadi khas di Bangil adalah Sate Kerang dan Kupang. Kupang adalah salah satu jenis makanan dari biota laut yang disajikan dengan lontong dan bumbu petis. Kedua makanan ini merupakan produk laut dikarenakan asosiasi lokasi yang dekat dengan laut.
Nasi Punel Khas Bangil (Sumber: gotravelly.com)
Selain makanan, Bangil juga terkenal dengan sebutan "Bangkodir" atau Bangil Kota Bordir. Banyak terdapat industri bordir yang tersebar di kota ini, dari skala rumahan hingga industri besar. Tidak sedikit bordir-bordir yang diekspor ke luar negeri, seperti pakaian, tas, hingga sepatu. Harga yang dibandrol juga bermacam-macam dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung kualitas bahan dan motif bordiran yang diinginkan.
_________________________________________________________________________________
Aku dan adikku di teras rumah, belasa tahun lalu
Waktu berlalu.
Sekitar satu tahun setelah lulus, aku diterima bekerja di salah satu instansi di Ibukota. Hal ini tentu membuatku meninggalkan tanah rantau kedua (yang pertama adalah Bangil) tempatku berkuliah dan belajar selama kurang-lebih lima tahun. Yang artinya, kini tempat rantauku adalah Jogja, dan bukan lagi Bangil, karena ia sudah menjadi tempat asal. Aku sering lupa, bahwa selama belasan kehidupanku jauh sebelum perkuliahan, ya kota ini -dengan segala isi dan ceritanya- yang membuatku bertumbuh, mengajarkan banyak hal, dan mencatat berbagai kejadian yang mengisi hari-hariku. Sekarang, aku tahu, bagaimana akan menceritakan daerah "asal" jika ada yang menanyakannya kembali kepadaku.
Selamat datang di Kota Bangil.
Bangil Kota Santri, Bangil Kota Bordir, Bangil Kota Sakera, dan,
Bangil, Kota Sejuta Cerita.



Jakarta, 27 April 2019

Wong mBangil



Referensi:
1. https://budayajawa.id/asal-usul-bangil-pasuruan/
2. https://www.pasuruankab.go.id/cerita-43-cerita-sakera.html

Minggu, 31 Maret 2019

Belajar Mencintai

Belajar Mencintai;
Sebuah Ulasan Berbalut Curhatan


Menikah, adalah gerbang awal dari sebuah perjalanan panjang. Dan hampir lima bulan menjalankan ibadah tersebut, membaca buku ini, rasanya seperti semacam nostalgia (padahal baru otw lima bulan wkw), ditambah sedikit tamparan dan sayatan.


Judul Buku : Belajar Mencintai
Penulis        : Azhar Nurun Ala
Tahun          : 2019
Penerbit      : Azharologia Books

"Pasti ada seseorang disana, yang hatimu bergetar kala menatapnya, dan tersipu saat kamu memujinya.  Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta."
(Halaman terakhir "Belajar Mencintai")

Buku ini diawali dengan prolog dan diakhiri sebuah epilog. Berisi 10 bab yang menceritakan perjalanan sepanjang lima tahun pernikahan yang menyiratkan hikmah. Dalam satu bab terakhir, berisi tulisan mba Vidya, dari sudut pandang seorang istri.

Buku ini sangat relateable dengan apa yang saya jalani saat ini. Sehingga, ketika membacanya, meski agak terburu waktu dan kegiatan dan tugas cukup padat saat diklat, tidak mengurangi esensi dan luapan emosi yang, ya tadi, sesekali menimbulkan sayatan. Beberapa kali sempat menahan bahkan mengusap bulir air mata diantara orang-orang yang sibuk berbincang di sela makan siang atau sekedar rehat kopi.

Dibuka dengan perjalanan menuju pernikahan, yang tentu saja tidak mudah. Bahwa ya memang menuju ibadah yang panjang akan selalu mendatangkan godaan dari setan, baik berupa keraguan, ketakutan, atau yang lainnya. Bagaimana cerita mas Azhar dan mba Vidya yang ternyata junior-senior di kampus, kemudian menikah setelah beberapa waktu tidak sengaja terpisah jarak, tetapi karena dasar jodoh, tentu akan bertemu kembali. Bagaimana keduanya meyakinkan diri dan keluarga masing-masing, dengan keadaan yang bisa dibilang masih sangat dari 0 dan masa depan yang masih belum nampak jelas. 

Diikuti dengan bab-bab yang menggambarkan bagaimana kehidupan mas Azhar dan mba Vidya selama lima tahun pernikahan. Dari penyesuaian diri di awal pernikahan, tentang penantian akan kedatangan dan bagaimana mengelola emosi menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian. Bagaimana perjuangan menghadapi berbagai pertanyaan yang agaknya menyesakkan. Dan salah satu yang paling emosional adalah tentang  'perpindahan' dan 'pertengkaran'. Bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berharga pada saat yang sangat tidak disangka. Bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan yang tiba-tiba berubah drastis dan serba keterbatasan yang mengelilingi. Hal ini kemudian kembali mengingatkan saya tentang bagaimana kami akan menjalankan pernikahan ini selanjutnya, sambil mengingat-ingat dan mengaitkan tujuan dan visi-misi pernikahan sendiri. 

Barangkali untuk yang sudah pernah membaca buku-buku mas Azhar akan tidak asing dengan beberapa kutipan yang dicantumkan. Mungkin nampak berulang, tapi tidak mengurangi esensi karena memang sangat berkaitan dengan apa yang sedang menjadi topik pembahasan. Dan khas tulisan beliau, banyak kalimat atau kutipan yang sangat menyentuh.

Ohya, lagi, selain karena alur cerita yang relevan dengan kehidupan pernikahan muda, tentu membuat kita jadi berkaca kembali, sudah sampai mana kita menjadi sosok yang mencintai, bukan hanya jatuh cinta. Karena, ketika menikah, fokus kita bukan lagi jatuh cinta, yang hanya berkutat dengan perasaan saja, tetapi justru tentang mencintai,  dan bagaimana menumbuhkan bahagia pada pasangan kita. Cinta itu, kata kerja bukan?

Ada satu bab tentang Mencari Titik Temu. Dari judulnya, tentu terbayang bagaimana mas Azhar dan mba Vidya, dengan dua pemikiran dan sudut pandang berbeda, harus menuju satu titik yang sama untuk mempertahankan kebersamaan dan tidak berlarut dalam malam-malam penuh air mata. 

Buku ini juga membuat saya berkaca kembali, apakah sudah menjadi pasangan yang baik, istri yang baik. Juga, apakah diri ini sudah menjadi anak yang baik atau belum. Bagaimana membangun hubungan dengan pasangan, dan menikahi keluarganya. *kemudian kangen suami, heu, nasib LDM :" #tjoerhat colongan, monmaap. Saya sangat salut dengan bagaimana mba Vidya bisa menjadi seorang istri yang begitu dewasa, tidak pernah menjatuhkan dan selalu menghargai usaha suaminya.

Buku ini ditutup dengan epilog yang berbalut nasihat tersirat tentang persiapan untuk yang belum menikah. Isinya? Baca aja yaa, hehe. Bocorannya, menikah adalah penyatuan dua manusia berbeda, jadi sebaiknya memang kita selesai dengan diri sendiri terlebih dahulu, agar tidak menimbulkan banyak PR kemudian :) Juga, epilog berisi pengingat untuk yang sudah menikah tentang penguatan kembali ikatan pernikahan. Bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah panjang yang telah diawali berdua, dan harus diperjuangkan bersama. 

Sekali lagi, bagi saya sendiri, menikah adalah sebuah ibadah panjang yang tentu membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. Maka jangan hanya menikah karena suka, apalagi hanya karena ikut-ikutan. Carilah tujuan dan motivasi yang tidak akan pernah hilang atau berganti, sehingga apapun yang terjadi, berdua akan berjuang umtuk melewati dan mencapai kebahagiaan hakiki. Kalau mau lebih banyak mendapat hikmah dan pelajaran, beli dan baca sendiri yaa hihi :3


Bogor, 30 Maret 2019


Yang sedang belajar mencintai,
Andika Putri Firdausy


Senin, 18 Februari 2019

Mengatur Persepsi

Dalam hidup ini, terkadang kita disibukkan dengan prasangka orang lain. Terlalu sibuk bagaimana seharusnya kita berlaku agar orang lain tidak lagi menganggap kita buruk, atau merendahkan kita, atau membanding-bandingkan diri kita, atau apapun yang membuat kita tidak nyaman.

Tapi, sungguh terasa lelah hidup dalam angan-angan orang lain. Bukannya kita sibuk dengan kebaikan dan pencapaian yang ada pada diri kita, justru kita sibuk memperbaiki penglihatan orang lain terhadap kita. Apa bedanya kalau begitu?

Lupakan. Lupakan persepsi orang lain tentang kita. Tidak perlu sibuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain.

Boleh berkaca pada orang lain, tapi sebentar saja. Jangan lama-lama. Sisanya, sebaiknya kita berfokus pada diri kita sendiri.

Bukankah kita memang tidak bisa mengubah persepsi orang lain terhadap kita? Yang bisa kita lakukan adalah mengatur sudut pandang kita agar tidak mudah terbawa persepsi orang lain.

Fokus pada tujuan kita, dan apa yang kita yakini. Lakukan semampu yang kita bisa, lalu pasrahkan hasilnya pada Yang Maha Kuasa. That's it. 👊

Minggu, 10 Februari 2019

Berjarak

"Distance means nothing, when someone means everything."

Sesungguhnya mau ngepost ini besok, iya, besok, tanggal Sebelas yang ketiga. Teringat bulan lalu, kamu bertanya, "Nggak nulis lagi?" hahaha aku cuma singkat menjawab; enggak. Kenapa? Karena maluuu kalau menulis tapi ada ybs di sebelah, heu.

Tapi, kuingat lagi, untuk apa lagi menunggu. Saat ini kamu juga sedang jauh disana. Kita tidak sedang bersama. Iya, kata orang, LDM - Long Distance Marriage. Hubungan pernikahan yang terbatas jarak.

Jarak, apakah kita sudah bersahabat dengan jarak? Hampir tiga bulan. Masih anak bawang. Tapi ya memang begini adanya. Aku yang harus berjibaku disini, dan kamu juga sedang berjuang disana. Kita sama, bukan? Dan kita pun sama-sama akan memperjuangkan jarak ini bersama.

Tiga bulan berjarak. Tentu tidak ada yang dengan sengaja menginginkan pernikahan seperti ini. Karena idealnya sebuah pernikahan adalah kebersamaan. Tapi tidak ada gunanya meratapi jarak, yang terpenting adalah bagaimana kita bersahabat dengannya.

Jarak.
Berkaitan erat dengan komunikasi. Iya, ketika sedang berjarak, perbanyaklah komunikasi. Mungkin akan banyak waktu, tenaga, tiket dan kuota (lol) yang tersita, tapi itu akan sangat membantu penyesuaian diri kita dengan yang bernama jarak. Apalagi, sebelumnya memang tidak ada apa-apa diantara kita, tidak saling tahu apapun, tidak mengerti apa yang disuka dan tidak disuka, tidak tahu bagaimana kebiasaannya, dan banyak hal lainnya. Pennyesuaian diri dengan jarak memang butuh waktu. Dan tentu saja kesabaran. Kesabaran diantara kita berdua. Saling memahami dan bergantian mengalah. Terima kasih telah bersabar dan berusaha dengan sebaik mungkin, Sayang..

"Distance means nothing, when someone means everything."

But then, when your spouse needs you and you're so far away, it's really hard and sad, tho..

But yes, it's okay, kita sudah berjanji untuk menjalaninya bersama-sama dengan baik.


Jarak, seperti di foto ini dimana kita sedang berjarak. Tapi kita tetap tersenyum kan meski tidak sedang berdekatan? (yaiyalah lagi poto wkwkw). Iya, begitulah seharusnya. Meski jauh, kita tetap tersenyum. Agar yang jauh, terasa dekat. Dan ketika dekat, tidak lupa tersenyum. 😊

"Ayo foto berduaaa"
"Katanya kalian nggak pernah foto berdua"
"Ih apasih alay" (tapi maju juga doi)
Terus foto dulu berempat.
Akhirnya foto berdua.
Iya, jauh-jauhan. Malu doi kayanya.
Sampai rumah.
"Lho, fotonya ini doang? Kok nggak ada yang deketan?"
"Cem mana lah pak, tadi siapa yang nggak mau foto, sekarang siapa yang protes, heu"

It's okay. Hanya foto. Yang penting, hati kita selalu dekat.

Sayang, thankyou for this three months. For every single thing you did, for every single thing we made. Let's fight for the journeys ahead together, till Jannah insyaaAllah. ❤


Jakarta, third month,

Mrs. Jihad

Kamis, 07 Februari 2019

Kado

Masih ada aja yg kirim kado setelah dua bulan lebih :")

MasyaaAllah tabarakallaah, jazakumullah khayr untuk semuanya yg telah hadir, mendoakan, juga memberikan kado untuk kami. Semoga Allah balas dg kebaikan yg lebih baik dan lebih banyak :")

Menjadi pengingat juga, bahwa pernikahan itu adl bagian dr amanah yg akan dipertanggungjawabkan kelak. Semoga, kita bisa menunaikan amanah ini dg sebaik mungkin :")

Kita saling doa ajaaa. 💞

Yang sudah menikah, semoga diberikan keberkahan dan ketentraman dlm keluarganya, yg perlu diusahakan secara kontinyu :") Menjadi sebaik² pasangan sehidup-sesurga.

Yang otw menikah (?), semoga diberikan kelancaran dan keberkahan dlm perjalanannya :") Meniatkan dan memasrahkan semuanya kpd Allah, sampai ditakdirkan bertemu dg pasangan sehidup-sesurga insyaaAllah.

Yang belum menikah, semoga Allah berikan keberkahan dan kelancaran dlm setiap aktivitasnya :") Menjadi sebaik² anak yg berbakti dan manusia yg bermanfaat bagi sekitarnya.

Karena sudah atau belum menikah, keduanya bertujuan sama, Allah. Jadi, apapun statusnya, kita sama² mengejar keridhoanNya, okay? 😉

Selasa, 05 Februari 2019

Tempat Singgah

Stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, dan bermacam tempat singgah lainnya, kerap menimbulkan tanya; apakah manusia memang hidup untuk berpindah, atau menetap?

Pagi dimana, sore entah beranjak kemana, dan esok sudah tak tahu sedang di bumi bagian mana lagi. Sedinamis itukah makhluk bernama manusia?

Tak apa, mungkin ia sedang berusaha meniti takdirnya. Menjemput rezeki terbaik sebagai bentuk tanggungjawab pada anugerah yang diberikan Tuannya.

Tak apa, mungkin ia sedang mengejar mimpinya. Mencoba peruntungan di berbagai belahan dunia, demi meraih cita untuk kemaslahatan umat manusia.

Tak apa, asal ia tak lupa jalan pulang. Itu saja.

Hanya Sebuah Perasaan