Selasa, 05 Desember 2017

Zona Waktu

Bukankah zona waktu yang kita alami sebenarnya amat bergantung pada diri kita sendiri?

Sadarkah ketika kita sedang sibuk-sibuknya, waktu terasa mengalir begitu saja. Baru berangkat tiba-tiba udah dhuhur. Baru kerja dikit udah ashar. Baru lanjut lagi udah maghrib, waktunya pulang. Masih di jalan udah isya'. Baru sampai rumah dan istirahat tiba-tiba udah shubuh aja dan harus mulai beraktivitas lagi.

Jenuh.

Dan terasa sekali bahwa waktu-waktu sholat itu menjadi jeda untuk beristirahat yang amat berharga. (Kemudian mikir, bener aja yang katanya sholat itu istirahat yang menenangkan dan ingin terus diulang :” *lagilurus*) Tidak ada alasan lain yang akan ditolerir dalam kerasnya dunia kerja. Kita juga tidak mau menjadikan sakit sebagai jeda bukan? Tentu saja. Siapa juga yang mau merasakan keletihan dan kesendirian di tanah rantauan? Rasanya, ingin segera mengakhiri semua keruwetan hidup ini. Pekerjaan yang tak henti menghampiri, tanggungjawab yang tak lepas menggelayuti. Bagaimana aku bisa menikmati hidup, Tuhan? Aku hanya butuh berhenti sejenak. Tolong lepas aku dari semua hiruk pikuk dunia ini...

Dan tak lama, Ia mengabulkan harapanmu.

Kau tiba di satu titik untuk berhenti, menjeda dari segala aktivitasmu, beristirahat sejenak dari segala beban hidupmu. Hari-harimu dipenuhi dengan istirahat-istirahat panjang. Kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Tapi, lama-lama, kau bingung sendiri bagaimana cara membunuh waktu? Kenapa jeda antar sholat yang terasa singkat sekarang seakan berabad?

Kau bangun di shubuh hari dan membunuh waktu dengan berbagai pekerjaan rumah. Menyapu, mencuci, memasak, tapi tetap saja masih pagi. Apalagi yang harus aku lakukan? Teriakmu dalam hati. Akhirnya, tiba juga waktu dhuhur. Setelah kelelahan dengan berbagai pekerjaan rumah, sejenak kau mengistirahatkan diri, tapi tak bisa. Kau buka smartphone untuk berharap rasa kantuk hadir dan membunuh waktu. Gagal. Kau masih saja tenggelam dalam dunia maya, hingga tak sadar adzan ashar memanggil. Kau beranjak, tapi masih juga bingung, apa yang sebenarnya aku lakukan?, keluhmu lagi. Menunggu maghrib, kadang kau isi dengan membaca buku, atau sekedar membantu ibu di dapur menyiapkan hidangan makan malam. Tak lama, malam menjelang, sudah adzan isya. Sedikit bercengkrama, lalu kau merebahkan diri di ‘pulau impian’. Dan ketika terbangun di penghulu shubuh, akhirnya kau berkata, ah, aku bosan hidup seperti ini. tidak adakah kesibukan yang bisa aku selesaikan? Kau menggerutu. Lagi.

Memang begitu. Apa yang kita rasakan seringnya menjemukan. Kita seringnya lebih mensyukuri kehidupan yang telah kita lewati, bukan yang sedang kita jalani. Atau bahkan seringnya kita lebih mensyukuri kehidupan orang lain? Entahlah. Akan tetapi, sadarkah bahwa sebenarnya itu yang membuat hati menjadi lebih sempit? Terus merutuki diri dan keadaan yang tak terkendali. Memang, manusia bisa apa? padahal sebenarnya, kita hanya berada di zona yang berbeda saja. Tidak semua yang kita lakukan, harus dilakukan orang lain. Tidak juga yang menjadi tanggungjawab oranglain, harus juga menjadi urusan kita. Tidak begitu. Kita memiliki hidup kita masing-masing. Berhentilah membanding-bandingkan.

Dua kuncinya: sabar dan syukur. Sabar ketika sedang diuji masalah, dan syukur ketika sedang mendapat rezeki yang berlimpah. Keduanya, akan menjadikan diri lebih memahami arti hidup ini. Agar, tidak lelah dengan pengharapan dan pencapaian orang lain. Agar, kita bisa lebih memaknai dan menghargai diri dan hidup kita masing-masing.

Tapipun, kadang itu semua belum cukup untuk meredam gejolak diri untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Disini, ikhlas semestinya akan menjadi penawar dari segala keresahan hati yang tak terperi. Lakukanlah apa yang kamu mau, berikanlah yang terbaik yang kamu bisa. Jangan pernah ragu. Jangan pernah menyesal. Kunci dari keberhasilan adalah pantang menyerah. Jika kau gagal saat ini, bukankah itu justru membuka peluang untukmu berhasil lebih besar? Lalu apa lagi yang kamu cari?

Teruntuk kamu, yang pernah merasa begitu tertekan dengan kerasnya dunia... Juga kamu, yang pernah merasa dicampakkan dunia...

Teruslah melakukan yang terbaik. Lakukan apa yang membuatmu terus bertahan. Lakukan apa yang membuatmu bisa bermanfaat. Jangan berhenti. Jangan pernah berhenti sampai kamu tidak kuat berjalan lagi. Di ujung jalan, kamu akan menemukan bahwa kebahagiaan sejati memang pantas untuk diperjuankan.
Selamat berjuang!

Yogyakarta,
2 Desember 2017
Sesama teman berjuang,


#PutriPejuang

Jumat, 24 November 2017

Sedikit yang ku tahu tentang hidup ini

hari ini hujan tak berhenti walau sejenak . di tengah hujan deras seperti ini, mereka yang tentu saja belum dan tidak seharusnya, mencari keping demi keping uang logam, menggantungkan hidup di bawah lampu merah . ya rabbi, aku sangat bersyukur, setidaknya aku tidak perlu bekerja keras seperti mereka yang berjuang melawan hawa dingin di tengah hujan hanya untuk sesuap nasi .
bahkan mungkin, mereka mengesampingkan pendidikan hanya untuk bekerja, mencari sebanyak-banyaknya kepingan uang logam. sedang aku, yang telah diberi kesempatan seperti ini, terkadang masih tak bisa memanfaatkannya dengan baik. ya Allah . .
terima kasih ya Allah telah memberiku keluarga yang lengkap dan bahagia (amin ya rabb), terima kasih untuk kesempatan yang Engkau berikan kepada ku, kepada kami, untuk menyaksikan kebesaranMu, rabbku, terima kasih untuk memberiku teman-teman yang begitu baik, terima kasih atas segalanya ya Allah . .
terima kasih ibu, ayah, terima kasih untuk segalanya yang tak mungkin bisa untukku membalas ♥
ahh, terima kasih untuk semua orang di dunia ini yang telah memberi warna di hidupku,
TERIMA KASIH !! ♥


Adopted from my facebook's note January, 23rd 2011

Sindrom Rajab (dan Syawal) ~

Fyi, ini sebenarnya tulisan yang saya tulis hampir setahun yang lalu, last save-nya 13-07-14. But yeah, saya punya kebiasaan buruk meninggalkan tulisan 'tercecer' dimana. Daripada nunggu setahun, lebih baik saya teruskan sekarang. :D *editeditdikit

Bismillah.
Nyamnyamm~ ada apa dengan bulan Rajab? ^o^
Dan saking lamanya saya menunda pos ini, sampai sudah mau memasuki bulan Rajab (lagi dan lagi). Subhanallah, betapa cepatnya waktu berlalu. ~


A Self-talk


Tengoklah ke belakang,
Agar kau bisa belajar dari masa lalu dan tak terjebak dalam kesalahan yang sama.

Tataplah ke depan,
Agar kau tak enggan memupuk harapan demi masa depan peradaban.

Tengoklah ke bawah,
Agar kau mampu untuk terus mensyukuri kehidupan dan tak melupakan yang butuh pertolongan.

Tataplah ke atas,
Agar kau tak enggan untuk terus bersemangat menggapai asa yang kau cita.

Juga, 
Tengoklah ke kanan dan ke kiri jika mau menyeberang #eh πŸ˜Œ

Hidup, bisa jadi seperti roda, yang terkadang di atas, dan terkadang pula di bawah. 
Hidup juga, bisa jadi seperti roller coaster, yang sesaat saja di atas kemudian terjum bebas ke bawah, dan sebaliknya.

Hidup kita, tak kan pernah tahu akhirnya, bukan?

Yang terpenting adalah, kesabaran dan kesyukuran: bersyukur ketika berhujan nikmat, bersabar ketika ditinggalkan kenikmatan.

Selamat menikmati tarik-ulur kehidupan, kawan. Lakukanlah yang terbaik. Dan yakinlah bahwa Sang Sutradara tidak akan pernah salah memberikan peran.

Live your life wisely and happily. 🌹
Selamat malam Sabtu, kamu~

Yogyakarta, 27 Oktober 2017

Wanita Itu

Entah bagaimana caranya, wanita itu tiba-tiba sudah terduduk di sebuah ruang yang tidak asing baginya. Di tempat yang sama, banyak manusia lainnya sedang bersenda gurau dan saling bertegur sapa. Tapi tidak dengan wanita itu. Entah mengapa, di tengah keramaian ia merasa kesepian. Ia berusaha keluar dari ruangan yang menyesakkan itu untuk menyegarkan pikirannya. Tapi percuma saja, di ruang lain ia juga masih merasakan keadaan yang sama.

Entah apa yang teradi, tetapi ia merasa tidak tenteram. Tidak lama setelah ia mencoba mencari alasannya, tiba-tiba ia bertemu seseorang. Sesosok yang selama ini selalu coba ia hindari, tapi nyatanya harus bertemu lagi saat ini. Seseorang yang dulu sangat dekat dengannya, namun dalam keadaan yang cepat menjadi seseorang yang tidak pernah ingin ia temui lagi. Ia merasa mengenal baik laki-laki itu, tapi ia sedang tidak ingin bertemu dengannya saat ini, atau kapanpun jua.

Entah bagaimana ceritanya, sepertinya luka lama itu tidak ingin ia biarkan terbuka kembali. Tapi malam itu, berbeda. Entah takdir apa selanjutnya, tapi Tuhan mempertemukan mereka lagi untuk kesekian kalinya. Aku melihat wanita itu kebingungan dimana ia harus bersembunyi sedangkan kedua pasang bola mata mereka sudah terlanjur bertatap. Tatapan yang dingin. Akan tetapi di sisi lain wanita itu tetap tidak bisa membohongi dirinya bahwa ada bagian hatinya yang merindukan tatapan itu.

Mungkinkah ia kembali padaku? Hati wanita itu berbisik, dan di saat yang sama ia mengingat kembali perasaan luka yang belum sembuh total. Ia kemudian berusaha pergi menjauh, tetapi laki-laki itu mengikutinya. Ia mencoba mencari tempat yang sepi untuk menyendiri, tapi ternyata laki-laki itu tidak pantang menyerah, ia mengejarnya dan mereka bertemu dalam sebuah ruang. Berdua. Hanya ada mereka berdua.

Entah apa yang mereka bicarakan, aku tak dapat mendengar dengan pasti. Aku hanya bisa merasakan luka yang amat sangat pada diri wanita itu. Ia berusaha menahan air mata semenjak tatapan tadi, tapi matanya sudah terlalu berat untuk menanggung semuanya sendiri. Mungkin tidak sendiri, karena sebenarnya jauh di lubuk hati laki-laki itu juga merasa bersalah.

Tanpa banyak kata, wanita itu akhirnya sesunggukan, sambil duduk tertelungkup. Parasnya yang cantik sungguh tak berubah meksi ia tampak memendam kesedihan yang dalam. Laki-laki itu hanya terdiam terpaku. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Serba salah untuk bergerak maju karena ia tidak memiliki hak apapun, tapi juga tak berani mundur karena ia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi.

“Pergilah,” akhirnya wanita itu menguatkan diri untuk mengucapkan sesuatu.

“Pergilah sejauh mungkin... dan jangan kembali lagi..” ada jeda yang mengambang di kalimat itu. Seakan tak mau diucapkan, tapi harus juga diucapkannya.

“Pergilah. Aku sudah memaafkanmu. Berbahagialah. Dan jangan pernah kembali lagi.” Wanita itu berpesan lagi.

Gemuruh dadanya tidak bisa ditahan ketika mengatakan kalimat itu. Ia mencoba menahan sekuat tenaga untuk mengatakannya dengan tegar, walau masih terasa ada getir yang mengiringi kalimat penutup itu.

“Aku sudah ikhlas, kamu tidak perlu mengingatku lagi..”  Ia kembali meyakinkan laki-laki yang tampak raguitu untuk pergi.

Di ujung sana, ada seorang yang sedang menunggu keputusan laki-laki itu, apakah ia akan tetap tinggal, atau menyerah dan meninggalkan wanita itu.

Setelah saling berdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk pergi. Ia tahu keadaan ini sudah terlanjur rumit, dan akan bertambah rumit jika ia terus tinggal di tempat ini.

“Maafkan aku..”, hanya itu yang ia katakan sembari memundurkann langkah dan memulai pergi. Kali ini ia pergi. Sebenar-benar pergi. Laki-laki itu tidak akan kembali. Wanita itu sendiri yang memintanya untuk tidak kembali.

Wanita itu akhirnya menangis lagi. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Mungkin, bekas lukanya tak akan hilang, tapi setidaknya ia telah berusaha menyembuhkan dengan mengikhlaskannya. Ia sadar harus ada yang ia lakukan untuk menyembuhkan lukanya, cause there is nobody will do it to her. Meskipun ia akan semakin terluka, tapi setidaknya merelakan akan membuat dia lebih tenang. Ia masih berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, kan?

.

Mimpi yang aneh.
Entah mengapa gemuruh dadaku seakan lebih kencang dari wanita itu aku sendiri tidak tahu siapa dia, apalagi laki-laki itu. Tapi entah mengapa, rasanya kami dekat sekali. Bahkan aku merasakan sebagaimana luka yang dirasakan wanita itu. Mungkinkah ia sosok terdekatku? Atau jangan-jangan ia adalah diriku sendiri?

Senin, 30 Oktober 2017

(?)

Ada yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
Juga oleh deretan sajak yang bermakna.

Ada yang hanya bisa dijelaskan oleh rasa.
Tentang pertemuan atau perpisahan.
Tentang kehadiran dan kehilangan.

Tapi ada yang tidak bisa dijelaskan oleh itu semua.
Tentang asa yang mengangkasa.
Tentang cita yang direnda.
Juga tentang harapan yang dititipkan.

Ada banyak hal, yang terkadang lebih mudah dikatakan dibanding dirasakan.

Ada pula banyak hal yang lebih mudah dikerjakan daripada diucapkan.

Ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Terlalu banyak.

Minggu, 29 Oktober 2017

Teacher’s Diary: Saat Belajar Praktik Sholat

Ceritanya lagi perpisahan sama bu Ais karena mau ditinggal nikah, heu :"
Ketika Ramadhan 1438 hampir usai, setelah 'pelarian' panjang wqwq
Sesore kemarin, ga ada kelas seperti biasa karena gurunya banyak yang izin dan ada keperluan. Jadi kelasnya adalah belajar praktik sholat. I got jilid 4 keatas, jadi lumayan lah yaaa ga bocil2 banget wkwk. Sekolahnya pada kelas 2-6 SD, Cuma satu bocah yang masih TK. After a long practice, ya gitu lah, sebagian udah baik, sebagian masih perlu dibenahin dikit, sebagian lagi ogah-ogahan πŸ˜‚ Capek kali yaa praktik sholat maghrib 3 rakaat dan dengan bacaan jahr jadinya lama. Belum lagi kalo gurunya 'iseng' pause dulu buat benerin gerakan temennya yang masih salah, dan jadilah makin lama wkwkwk.

Setelah selesai tiga rakaat, saya sadar kalo ini bocah2 pasti bakalan bosen kalo disuruh praktik lagi dkk, akhirnya, kesempatan emas datang: cerita πŸ˜‚ Di TPQ yang kelasnya formal abis (?) karena udah ada pattern dari pusat, jadi agak susah menyelipkan cerita agak panjang. Singkat aja juga agak maksa, karena waktu yang ada emang pas banget buat ngaji 'doang'. Kalo dulu di TPQ waktu saya masih kecil, emang ada kelas sendiri Madrasah Diniyah namanya, setelah ngaji jilid dan Quran, dan pas banget kelas saya adalah kelas teratas alias assabiqunal awwalun wkwk jadi langsung diajar sm Ustadz 😍 Disitu ada pelajaran tarikh, fiqh, aqidah, bahasa arab, hadits, dkk. Full of knowledge banget! Sayang saya baru sadar pas udah agak gede dan udah gak ngaji lagi hahaha jadinya yaa gitu, ada yang masih nyantol banget, ada yang byar, heu.. Barakallahufiik Ustadz dan Ustadzah :”)

Balik ke kids jaman now, akhirnya saya nyeritain sedikit tentang 'sejarah' sholat. Terus, ceritalah kita tentang Isra' Mi'raj. Bahwa, perintah shalat lima waktu itu datang saat Isra' Mi'raj. Apa itu Isra Miraj? Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke..mana hayoo? Madinah! Bukaan, itu mah hijrah, nak πŸ˜… (Eh, kata Pandji ga boleh langsung disalahin yaak, bilang 'hampir', biar anaknya tetep semangat 😁).

Jadi, Isra adalah perjalanan Rasulullah dari Mekkah ke Negeri Syam atau Palestina. Disana, Rasulullah shalat bersama Nabi-Nabi yang lain dan malaikat Jibril juga di Masjidil Aqsa. Naah setelah itu, barulah peristiwa Mi'raj terjadi. Apa itu Mi'raj? Perjalanan dari bumi ke langit, dari Masjidil Aqsa ke Langit ke tujuh 😱😱😱 (disini mulai takut kalo salah menjelaskan karena kurangnya ilmu, tapi terlanjur karena udah di tengah jalan dan nak-anak udah pada curious overload heu).

Jadi, waktu naik kesana tuh, Nabi naik Buroq. Buu, buroq itu apa? Becak? πŸ˜³πŸ˜… Buroq adalah rrrrr mikir dulu wkwk. Kadang, bukan, seringnya, saya takuutt banget salah ngomong ke anak-anak. Karena, mereka daya ingatnya lebih kuat. Kalau salah ngomong, nanti bahaya jadi atsar, alias kesalahan yang bertumpuk kemudian. Juga, kalau 'salah berjanji', nanti ditagihnya ga berhenti2. Anak-anak kan, kaya cewe, kalau dijanjiin ga pernah lupa πŸ˜‚πŸ˜‚ #skip

Akhirnya, kita cerita kesana-kemari. Dari cerita 'sejarah' sholat sampai Khulafaur Rasyidin. Disitu, makin makin lah sadar kalau ilmunya masih dikiiit banget, masih kuraaang banget ya Allah.. Udahlah ilmunya cethek, belum lagi ilmu buat menjawab dan facing the kids, kan beda yaa caranya, heu. Harus belajar lagi, belajar terus!

Sepanjang cerita juga sebenarnya saya banyak speechlessnya. Setelah bingung mau cerita apa lagi yang bisa menarik perhatian wkwk, akhirnya gantian nanya kalau ada yang mau bertanya. Kadang, mereka nanya yang, sebenarnya saya tahu sih, tapi kompleks dan susah menjelaskan ke anak-anak. Coba, ada yang nanya: Bu, Dajjal itu apa? Atuh kumaha jawabnya di tengah kelas gede gt heu akhirnya cuma jawab Dajjal itu Iblis. Heu.. Maafkan nak, lain kali semoga bisa menjelaskan dengan baik dan benar, memuaskan rasa ingin tahu kalian :”

Juga, belajar bahwa emang beda yaa bahasa nak-anak sama mbak-mbak. Ketika sedang cerita hijrahnya Nabi, tersebutlah bocah kelas dua SD bertanya, bu, Hijrah itu apa? Lalu, pas bahas yang lain, ditanya juga: nego itu apa? Dakwah itu apa? Dkk dkk πŸ˜… Baru sadar, apa bahasanya ketinggian yaa.. Hmm. Perlu belajar menyederhanakan kalimat sepertinya. Ah, anak-anak..

Intinya kelas kemarin benar-benar mengajarkan banyak hal. Bukan hanya mereka yang belajar tentang sangat sedikit praktik dan sejarah shalat, justru gurunya lah yang belajar lebih banyak dari mereka, dari kepolosan dan keberanian mereka. Bahwa, apalah apalah ilmu yang baru nggak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang harus dipelajari. Harus bedakan juga diksi ketika interaksi sama seumuran, lebih tua, dan lebih muda wabil khusus my bocils yang umurnya sangat beragam hihi.

Oiya satu lagii, kemarin pas entah cerita tentang apa, ada potongan sejarah yang saya lupa dan ada yang semisal tahun-tahun gitu yang emang ga saya hafalin, baca doang wkwk. Dan, salah satu anak bilang, Buu, kan itu ada di pelajaran SKI di sekolah (fyi dia sekolah di MI). Jleb, saya langsung merasa tercyduq dan tertohoq πŸ™ˆ langsung inget-inget jaman sekolah ((dulu)). Karena saya dari SD sampai SMA sekolah di sekolah negeri terus, jadi inputnya memang 'hanya' dari mata pelajaran PAI di kelas. (Tapi alhamdulillah sempat Madin jadi ada lah input lain selain di sekolah) Tapii, kok yo rasa-rasanya banyak banget yang saya lupa, apalagi tenyang tarikh 😭😭 Kalau ada pun, ga banyak, dan lebih banyak karena udah dipelajari ulang waktu saya ngaji di TPQ dulu, atau ketika udah gede baca dari buku atau dapat dari kajian :" Padahal ya, sebenarnya buku pelajaran kita pas sekolah tuh udah cerita banyak. Kalau kita mau baca. Kalau kita mau belajar. Heuu, jadi ngerasa berdosa gitu dulu sekolahnya kurang serius (?) dan ga beneran hafalin. Tapi, jadi mikir juga, apa jangan-jangan semua itu jadi cuma semacam formalitas yang setelah kita hafalkan lalu lupakan? Saking banyaknya yang harus dihafal? Jadi malah ya gitu, belajar hanyalah belajar ga sampe ke hati (?) Entahlah.

Yang jelas, pendidikan itu teramat sangat penting sekali. Utamanya lagi pendidikan agama. Agar, anak-anak kita kelak nggak buta arah dalam mengarungi kehidupan ini. Ada Islam, ada AlQuran, dan tentu saja ada Allah.

Pokoknya maah, thankyou for every single thing you unintentionally thought me. Love you to the moon and back, Kiddos! πŸ’ž

29 Oktober 2017/10 Shafar 1439

Love,

Your unperfect teacher

Jumat, 27 Oktober 2017

Khulafaur Rasyidin

πŸ“šπŸ“†Mari Belajar SirahπŸ•”πŸ’ž

Berawal dari keisengan ikut kuis di ig wkwk, jadilah tulisan kompilasi. Temanya adalah Khulafaur Rasyidin dan Karakter yang bisa Kita Teladani. Semoga manfaat, ya! 

•Khulafaur Rasyidin•

Khulafaur Rasyidin adalah khalifah pemimpin Islam sepeninggal Rasulullah saw yang terdiri dari empat orang: Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Utsman, dan Khalifah Ali bin Abi Thalib.

(1) Khalifah Abu Bakar As-Siddiq πŸ‘¬
Abu Bakar As-Siddiq adalah sahabat Nabi yang paling mulia. Beliau adalah salah satu sahabat yang tergolong sebagai assabiqunal awwalun, yaitu orang-orang pertama (awal) dalam memeluk Islam. Kecintaannya pada Allah dan RasulNya tidak diragukan lagi. Salah satu karakteristik paling menonjol dari beliau r.a. adalah beliau sangat PENYAYANG dan dermawan πŸ‘¬.  Beliau bersedia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah hingga tak bersisa, bahkan hingga di masa pemboikotan oleh kaum Quraisy selama tiga tahun di Mekkah, beliau memiliki andil yang sangat besar. Pun hingga setelah hijrah ke Madinah, beliau senantiasa dermawan dan menginfakkan hartanya di jalan Allah. Selain itu, Abu Bakar As-Siddiq juga merupakan seorang yang bersahaja lagi tinggi ilmunya. Beliau juga dipercaya untuk menemani Rasulullah hijrah dan bersembunyi di dalam gua. Abu Bakar merupakan khalifah pertama setelah sepeninggal Rasulullah. Di akhir hayat beliau, Abu Bakar As-Siddiq merupakan satu-satunya diantara Khulafaur Rasyidin yang meninggal dalam keadaan berbaring atau sakit, sedangkan khalifah yang lain meninggal karena dibunuh.

(2) Umar bin Khattab πŸ”ͺ
Umar bin Khattab berasal dari salah satu rumpun suku terbesar Quraisy: Bani Adi. Sebelum masuk Islam, beliau adalah salah satu penentang Islam yang paling vokal, yang juga terkenal dengan ketegasannya. Salah satu sirah yang paling mengena mengenai Umar r.a. adalah ketika sebelum beliau masuk Islam, Rasulullah pernah berdoa agar Islam menjadi lebih mulia dengan salah satu dari dua 'Amr yang dicintai Allah: 'Amr bin Hisyam atau Abu Jahal, dan Umar bin Khattab. Beliau mendapat hidayah dan masuk Islam ketika mendengar bacaan surah Thoha oleh saudaranya. Beliau adalah salah satu sahabat 'favorit' saya, yang terkenal dengan keTEGASannya. πŸ”ͺ Bahkan sejak sebelum masuk Islam, Umar merupakan musuh yang diperhitungkan. Setelah masuk Islam, ketegasan Umar semakin 'menjadi' karena dilandasi keimanan dan kecintaan pada Allah dan RasulNya. Umar merupakan manusia yang ditakuti oleh setan, yang jika setan mendengar langkah beliau, setan akan merasa ketakutan dan memilih jalan lain yang tidak dilewati beliau r.a. Umar r.a. dijuluki sebagai Al-Faruq, yang berarti pemisah antara kebenaran dan kebathilan. πŸ”ͺ Umar tidak akan segan menghunus pedangnya di jalan Allah untuk membela kebenaran. Umar bin Khattab merupakan khalifah kedua sepeninggal Abu Bakar. Di masa kepemimpinan beliau Islam berhasil memperluas wilayah lebih banyak. Beliau meninggal ketika sedang melaksankan shalat karena ditusuk pedang beracun.

(3) Utsman bin Affan πŸƒ
Selain Abu Bakar As-Siddiq, Utsman bin Affan juga termasuk golongan Assabiqunal Awwalun yang pertama masuk Islam. Beliau adalah salah satu sahabat Nabi yang berkarakter sangat PEMALU, lemah lembut, serta dermawan yang menjadi ciri utama beliau πŸƒ. Bagaikan kutub utara dengan selatan jika dibandingkan dengan Umar r.a yang penuh ketegasan. Utsman bin Affan ialah seorang saudagar kaya raya yang sangat dermawan. Beliau juga dijuluki Dzunnurrain, atau pemilik dua cahaya, karena dinikahkan Nabi dengan dua putrinya: Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Beliau adalah khalifah ketiga sepeninggal Abu Bakar dan Umar. Utsman r.a. terbunuh ketika sedang membaca Al-Qur'an dan dalam keadaan berpuasa, dan seperti mimpi beliau, Utsman r.a. berbuka dengan Nabi di Surga karena telah meninggal sebelum waktu berbuka tiba.

(4) Ali bin Abi Thalib πŸ”‘
Ali r.a. merupakan pemeluk Islam pertama-tama yang juga memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah. Ali adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah. Ali memiliki postur yang tidak jauh berbeda dengan Nabi, hingga ketika Nabi berhijrah, Ali menggantikan posisi tidur Nabi dan kaum Quraisy terjebak dan mengira bahwa Ali r.a. adalah Rasulullah.
Jika Rasulullah merupakan pintu ilmu yang sangat luas, maka Ali adalah pemegang kunci pintu tersebut πŸ”‘. Kemuliaan Ali r.a. tidak diragukan lagi. Sejak kecil, Ali hidup bersama Rasulullah sehingga tidak sedikit sifat dan kebiasaan Nabi yang terekam dan terinternalisasi dalam diri Ali r.a. Beliau r.a. dipercaya oleh Nabi untuk menjadi suami dari anak kesayangan Nabi: Fatimah r.a. Kedudukan Ali disisi Rasulullah bagaikan Musa dan Harun. Ali merupakan khalifah keempat dan terakhir dari Khulafatur Rasyidin setelah Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Beliau meninggal karena dibunuh dengan pedang beracun.

**Dari berbagai sumber

Jumat, 06 Oktober 2017

A Sudden Escape

Stasiun Bandung Kota

Pagi itu, akhirnya sampai juga di Kota Kembang. Alhamdulillaah. Impian (?) yang sudah lama terpendam dan juga direncanakan, pada akhirnya terlaksana tanpa rencana. Kadang Allah suka kasih kita surprise gitu. Jadi, jangan khawatir kalau rencana atau mimpi kita belum tampak batang hidungnya. Keep going. Suatu saat, Allah pasti sampaikan. 😎
Si dia lelah menunggu :P
Balik lagi, setelah hari kamisnya, di tengah2 riweuh (?) acara simposium sampai sore, si adek tetiba mengajak cabut ke Bdg. Singkat cerita, dg segala kemendadakan (?), akhirnya kita putuskan berangkat. Now or Never, heu. Malam itu, di tengah gerimis Jogja, berangkatlah ke Kota Kembang.

Jumat pagi di Bandung.
Alhamdulillah setelah chit-chat, dipertemukan dengan kawan lama yg skrg tinggal di Bandung. Arum dan pak suaminya, mas Endrian. Kita bertiga pertama bertemu tahun 2008
, saat lomba OSIS Award Kabupaten dan Kota Pasuruan. Tim saya waktu itu ada Pak Ketua (Faisol) dan Pak Wakil (Husni), bis kuning menjadi saksi perjuangan kami yang tiap minggu (?) PP Bangil-Pasuruan wkwk.
Me-Arum-Mas Endri, after 9 years separated *berasa apaan wkwk :v
Saat itu Arum dan saya (Faisol dan Husni juga) kelas 3 SMP, dan mas Endri kelas 3 SMK. Kami berhubungan tidak lama setelah acara itu saja, dan post-agenda membuat semacam pelatihan (?). Setelah itu lost contact. Ketemu lagi sama Arum tahun 2011, di Lomba Siswa Berprestasi Jatim waktu kita mau tampil seni wkwk. Udah itu aja. Then time flies. Arum dan mas Endri menikah 2015 dan sekarang tinggal di Bandung. Facebook lah perantara saya berhubungan lagi dengan Arum. Disitulah merasakan kebermanfaatan teknologi dan sosmed: mendekatkan yang jauh. Heuheu.

Full team. Dari depan: Me, Adek, Shanti/Shinta :D, Arum, mas Endri (@Farm House)
Singkat cerita, Arum dan keluarga (mas Endri, SinSan, dan Oing wkwk) menjadi guide terbaik kami hwaaa 😭 direpotin dadakan banget, dan udah baik banget 'nampung' kita berdua. Yakinlah gais, silaturahim itu penting, sodara juga. Mereka akan selalu bantu kita kalo kita butuh. Jangan lupa bantu juga orang lain, apalagi sodara dan kerabat, meski belum diminta :" Jazakumullahu khairan katsiran Arum dan keluarga :") Kata-kata terakhir di staisun: kalo kesini lagi udah bawa pasangan yaaa. Zzzzz. 

Adek, Me, Arum @Alun-ALun Bdg
Tak lama kami berdua berada di Bandung. Dua hari semalam, karena Sabtu sore sudah beranjak meninggalkan. Masih banyak kerabat yang belum ditemui, masih banyak tempat yang belum dikunjungi. Semoga Allah izinkan untuk kembali.

Hanya semalam di Bandung memberikan banyak kesan dan hikmah. Tentang takdir, ikhlas, dan jodoh wkwk.

"Bukankah yang terpenting dalam sebuah perjalanan asalah mengambil pelajaran?"


See you when I see you, Bandung.
πŸ’ž

Thousands thanks for my best-travelmate si Adek sayangs 
😘
Bosscha, finally!
Nantikan kelanjutan kisahnya wkwk #naonsi

Yogyakarta, 6 Oktober 2017
Love,

Andika Putri Firdausy

#ExploreBandung #PutriPejuang

Senin, 25 September 2017

Timbangan


 

*throwback Idul Adha xD

Masalah perdagingan ini, mengingatkan jaman SMA, tentang timbangan.
Yaps, pelajaran FI-SI-KA 😁 Which is, ketika kita sedang mengukur berat atau massa suatu benda, posisi kita terutama mata kita, harus sejajar dengan timbangan. Ga boleh dari atasnya, bawahnya atau sampingnya. Apalagi belakangnya, karena, ga bakal keliatan wkwk. Harus pas dari depannya.

Kenapa? Karena kalau ga pas dari depan, timbangan itu ga bakal akurat. Kebayang kan distorsi (?) atau pergeseran pengukuran yang ditimbulkan dari kesalahan pengukuran tadi? Kalau sedikit dan seperseribu siih mungkin maklum yaa. Tapi kalau terus menerus? Bakal ga adil. Padahal, timbangan itu harus passs, ga bisa kurang atau lebih, apalagi dalam hal jual-beli dan kawan-kawannya.

*Atau malah lebih amannya sih, kalau kita yang kasih atau jual, kasih pas banget atau lebihin dikit malah baik, daripada kurang ntar kita yang dosa :" ga kebayang lah gimana dosa orang2 yang 'ngganjel' timbangan gitu heu. Makanya kalo masuk pasar harus berdoa (?) *malah kemana2 πŸ˜‚

---

Sebenarnya, masalah timbangan tadi, sama sih seperti ketika melihat hidup orang lain, atau orang lain melihat hidup kita. Sama, mereka ga pernah tau ukuran pas atau normalnya untuk melihat sesuatu. Sudut pandang yang dipakeai pasti beda, makanya suka komentar cem macem, begini begitu.

Atau, sama juga ketika kita melihat situasi orang lain, suka mikir gini dan gitu, padahal kita ga pernah tau posisi mereka sebenarnya karena kita emang ga di posisi mereka, dan mereka ga di posisi kita. Jadi, ga bakal sama.

That's why, penting banget untuk nahan sebelum komentar, tanya dulu dalam diri: penting apa enggak, baik apa enggak, ngaruh apa enggak. Ini juga nasihat buat saya siih yang kadang suka nyeplos aja apalagi kalau orangnya udah deket gitu, suka dikit2 komen meski ga diminta. Maafkan lisan ini, yaaa :”

Terus, dibalik lagi, kita juga gabisa bandingin hidup kita sama orang lain, karena balik lagi, 'timbangan'nya ga sama, atau kalaupun timbangannya sama, sudut buat ngelihatnya beda. Ga mungkin ada dua orang dalam posisi yang sama persis, kaan?

Soo, jangan banding-bandingkan lagi hidup kita dengan orang lain, atau hidup orang lain dengan hidup yang lainnya lagi. Everyone has their own life, their own way, their own path. Enjoy your own life and do your own best, stay on your path. Heuu mangats!

Btw mending kita mikir, 'timbangan' setelah lebaran gimana? Lebar-an beneran apa gimana nih? :P Sama satu lagi, gimana besok ‘timbangan’ kita di Yaumul Mizan? ;’(


2 September 2017

Andika Putri Firdausy

Selasa, 12 September 2017

Domain Blog: Akhirnya “.com” !


Haloo teman-teman, assalamu’alaikum! Waah rasanya sudah lama sekali tidak menyapa :”) Selama ini baru bisa menyempatkan menulis di notes hape aja, hiks. Bismillah akan memulai dunia tulis-menulis lagi! :D

Okee, dimulai dari pertanyaan (?) pertama yaa..

*Kemana aja, Put?
Sebagai teman yang sudah lama tidak bersua, pasti kalau kita punya teman dan ‘menghilang’ dari peredaran karena sudah berbeda amanah di bagian bumi Allah yang lain, pastinya rindu-rindu gimana gitu sama masa muda (?) serta pertemanan dan persaudarannya kaan. Jadilah kalau ada kesempatan pasti saling bertanya kabar, sehat kah?, sibuk apa? dsb. Dan, sebagian besar teman yang bertanya ke saya dengan pertanyaan sibuk apa, Put? Pasti dijawab sibuk mencari kesibukan *sambil nyengir lebar* :D
Sibuk mencari kesibukan (?)
Hehe.. maafkan, tidak bermaksud tidak menjawab pertanyaan dengan baik dan benar, tetapi memang itulah adanya. Kalau dibilang sibuk, engga tuh, masih ada waktu buat scroll timeline :P tapi kalau dibilang nganggur, engga tapi ada juga yang dikerjain meski mungkin invisible (?). Jadi kumaha sih, Put sebenarnya? Jadi selama awal tahun setelah selesai urusan dengan scriptsweet memang ada beberapa urusan, kadang beruzlah juga escape dari Jogja meski ujung-ujungnya balik juga -.- Ya, sekarang saya (masih) available di Jogja, kok. Sampai waktu yang belum ditentukan (?) *tapi udah ditentuin Allah (:

Intinya mah, dimanapun kita berada semoga selalu sibuk dalam kebaikan *hiks note tomyself :”) Diniatkan baiklah semuanya, hingga lelahnya ga kerasa dan tercatat sebagai amal baik, biar ga sia-sia. Terus, saling doa aja yaa. Meski mungkin kita tak bersua dalam raga, semoga doa yang terpanjat menjadi pengikat persaudaraan kita. Doain supaya Putri... Doain yang terbaik ajadeh! :D *racetho, heu. But really, I do miss you gaisss :""")

***skip

Anywaaay, yang sejak tadi mau dibicarakan sebenarnya adalah...
Tadaaa ada yang sadar nggak sih ada yang berubah dari blog saya? Enggak...
Oke, baiklah.

Alhamdulillah sudah ada domain baruuu. *terharu* Sesungguhnya ini sudah wacana lama, tapi belum ada momen yang pas buat bener-bener merawat blog, hiks :” Sejarahnya, blog ini adalah blog kedua saya. Blog pertama sudah dihapus karena terlalu alay ‘berjiwa muda’,  banyak tjoerhat dan nama blognya ya, begitulah. Blog itu saya buat sejak SMP sekitar kelas dua atau tiga (?) lupa tepatnya kelas berapa. Nah, sedangkan blog ini, saya buat sejak tahun 2010, pas akhir kelas tiga mau SMA :))

Awalnya, saya mau membuat dengan nama: putritidur.blogspot.com. Sungguh bukan karena saya mau jadi puteri-puteri seperti di cerita dongeng. Tidak, saya tidak seanggun itu  >.< tapi karena murni saya suka tidur (?) wkwk :P Jadi ingat sewaktu kelas dua SMA, saya mengikuti seleksi lomba (OSN apa Sispres yaa, ya Allah lupa :( hiks) dan ada acara perkenalan gitu pas malam santai di hotel. Waktu itu kami diminta memperkenalkan nama, asal, dan hobi. Ada yang menyebutkan hobinya membaca, traveling, dll yang ketje deh, sedangkan pas giliran saya, jawaban saya adalah: tidur! Dan, seisi ruangan pada liat-liatan terus ketawa padahal saya sedang tidak melawak. Baiklah.

***skip (lagi)

Akhirnya saya membuat nama blog andikaputrii.blogspot.com yang isinya banyak curhatnya (?) tentang keseharian dan pengalaman yang semoga ada manfaatnya :” Sesungguhnya saya tipikal yang agak tertutup (?) kalau masalah tulisan. Entah, ngerasa ga pede aja gitu... Walaupun kalau udah cerita biasa secara lisan juga gabisa diberentiin siih.. (Haha, yang sering bareng pasti tau nih wkwk). That’s why lebih banyak tulisan dan cerita yang TBC (to be continued) alias belum selesai draftnya dan banyak juga yang kesimpan baik di laptop sama notes hape :”)

Naah, salah satu tujuan dari perubahan domain ini adalah untuk membuat kesepakatan supaya lebih serius menulis. Tulis aja, bagi aja, asal yang ditulis adalah kebaikan insyaaAllah tidak masalah. Curcol dikit juga ndakpapa asal ga sering-sering wkwk. Toh, meskipun yang ditulis kadang terkesan baper (?), belum tentu hal itu dialami sama penulisnya kaan? Bisa jadi malah hal yang dialami orang lain tapi bisa diambil pelajarannya :) Selain ituu, ketika kita menggunakan suatu domain, blog kita akan terlebih lebih classy, karena kita merawat dengan baik (karena domain itu bayar wkwk). Tapi tenaang, perawatannya sangat mudah dan murah, kok. Cuma sepuluh ribu sebulan, atuh sehari ga sampe 500, kaya beli permen aja :3 Sayang-sayang doong kalau engga dicoba kaan. Kalo blog kita lebih trusted kan jadi lebih profesional juga. Daaan, lebih gampang ngetiknya karena jadi lebih pendek alamatnya :D Gitu.

So here we come, from www.andikaputrii.blogspot.com Γ  www.andikaputrii.com
Semoga istiqomah nulis dan sharing yaaa. Bismillah! ^^

Sabtu, 18 Maret 2017

Tentang si Kakak dan Sixteen

Ceritanya pagi itu saya sudah siap-siap pergi menjemput rizqi (?) *apasih. Kemudian, qadarullah, si Kakak ditemukan gembos oleh tetangga kamar. What??? Kakak, apa yang kamu makan nak, perasaan semalam pulang masih sehat-sehat aja. Ada-ada aja hihi. xD

Seakan tau banget saya udah lama engga olahraga :p, akhirnya pagi-pagi harus menuntun si Kakak ke tambal ban terdekat. Karena sepertinya sudah sejak semalam bocor, jadi digeserpun sudah cukup berat, apalagi dituntun yak. Baru beberapa belas meter, saya sudah cukup merasa ‘menggeh-menggeh’ alias terengah-engah. *tariknapas*

Saking ‘panik’nya karena sebelumnya pernah bocor dan malah velg motornya penceng dan ngga enak dipake, saya bersemangat sekali menuntun si Kakak. Sampai akhirnya ketemu Ibu-Bapak yang ngeliatin saya aneh, seakan bilang: we lha ngopo embak ndadak dituntun barang, kurang gawean po piye  ._.  dan akhirnya menyarankan saya untuk ‘dinyalain aja mbak mesinnya’. Deg, baru sadar, kan bisa yaa nyalain mesin aja meski ga dinaikin yaa, kok tadi engga kepikiran kyaaa. Alhamdulillaah. Jrenggg, akhirnya perjuangan berlanjut xD

Pas jalan lagi, kebetulan menuju tambal ban saya dan Kakak harus melawan arus di jalan ringroad utara, subhanallah sekali.Aapalagi di arah berlawanan lampu hijau menyala, yak, semangat diliatin banyak orang :p mana si Kakak berat juga ya ternyataaa. Di tengah ‘perjuangan’ bersama si Kakak, kemudian saya jadi ingat sesuatu...

Perjuangan menyusuri pantai Sixteen di Temajuk :3 puasa2 siang bolong diantara pasir ya Allaah :’) 

Minggu, 26 Februari 2017

Betapapun hati tidak bisa jauh dengan Al-Quran

Berikut adalah tugas  serupa transkrip ringkasan kajian Ust. Syatori tentang Al-Qur'an.
Selalu merasa ada yang kurang jika tidak ditulis dengan lengkap :D jadi menulisnya terlalu bersemangat wkwk. Semoga menjadi pengingat ketika diri mulai ‘melemah’...

Akan selalu ada kerinduan terhadap Al-Quran

Mari kita awali dengan gambar yang menambah semangat :D
Keceriaanmu, nak, yang selalu bahagiakan hari-hariku :3